Headline

Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.

UNIFIL: Penargetan Pasukan Perdamaian tak Bisa Dibiarkan

Ferdian Ananda Majni
30/3/2026 18:35
UNIFIL: Penargetan Pasukan Perdamaian tak Bisa Dibiarkan
ilustrasi.(AFP)

PASUKAN Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon, United Nations Interim Force in Libanon (UNIFIL), mengonfirmasi bahwa satu personel penjaga perdamaian tewas di wilayah selatan Libanon di tengah meningkatnya intensitas pertempuran antara militer Israel dan kelompok Hizbullah.

Dalam pernyataan resmi pada Senin (30/3), UNIFIL menyebut insiden tersebut terjadi akibat ledakan proyektil di salah satu pos mereka.

"Seorang penjaga perdamaian tewas secara tragis tadi malam ketika sebuah proyektil meledak di posisi UNIFIL dekat Adchit al Qusayr. Satu lagi mengalami luka kritis," demikian pernyataan UNIFIL dikutip Al Jazeera, Senin (30/3).

Pemerintah Indonesia turut mengonfirmasi bahwa satu prajurit penjaga perdamaian asal Indonesia gugur, sementara tiga lainnya mengalami luka akibat tembakan artileri tidak langsung. UNIFIL menyatakan hingga kini belum dapat memastikan sumber proyektil yang menyebabkan insiden tersebut dan telah memulai penyelidikan.

"Tidak seorang pun boleh kehilangan nyawanya dalam melayani tujuan perdamaian," tegas pernyataan itu.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyerukan kepada semua pihak untuk mematuhi hukum internasional. Ia meminta agar keselamatan personel dan aset PBB tetap dijamin dalam segala situasi.

Ia menyerukan kepada semua pihak untuk menjunjung tinggi kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional dan untuk memastikan keselamatan dan keamanan personel dan properti PBB setiap saat.

UNIFIL juga melaporkan bahwa posisi mereka telah beberapa kali menjadi sasaran sejak eskalasi konflik terbaru yang dimulai pada 2 Maret. Sebelumnya, pada 7 Maret, tiga tentara asal Ghana dilaporkan terluka akibat tembakan di wilayah perbatasan Libanon selatan.

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran meluas ke wilayah Libanon setelah Hizbullah meluncurkan serangan roket ke Israel. Serangan tersebut terjadi setelah terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada hari pertama perang, 28 Februari.

Sebelum eskalasi terbaru, Hizbullah diketahui tidak melakukan serangan sejak gencatan senjata pada November 2024, meski Israel disebut kerap melanggar kesepakatan tersebut.

Pada Senin, militer Israel melaporkan enam tentaranya mengalami luka dalam tiga insiden terpisah, dengan tiga di antaranya dalam kondisi serius. Pihak Israel menyatakan operasi darat di Libanon selatan bertujuan membentuk zona keamanan hingga 30 kilometer dari perbatasan.

Melaporkan dari Beirut, jurnalis Al Jazeera Zeina Khodr menyebut bahwa militer Israel kini meningkatkan operasi dari serangan terbatas menjadi ofensif darat berskala luas, dengan target hingga Sungai Litani.

"Sejak pekan lalu, pasukan Israel telah maju ke beberapa daerah," katanya, merujuk pada pergerakan di sepanjang jalur pesisir barat dan wilayah sekitar 8 kilometer selatan Kota Tyre.

Ia menilai situasi masih sangat dinamis. "Masih terlalu dini untuk mengatakan siapa yang akan unggul tetapi kata kontrol akan menjadi kunci," katanya.

"Apa yang akan coba dilakukan Hizbullah adalah mencegah tentara Israel mengkonsolidasikan kendali, dan itu akan menjadi ujian bagi Hizbullah," tambahnya.

Di sisi lain, serangan udara kembali mengguncang pinggiran selatan Beirut pada Senin, menjadi serangan pertama sejak Jumat. Rekaman menunjukkan kepulan asap tebal membumbung dari kawasan tersebut.

Serangan ini terjadi setelah militer Israel mengeluarkan peringatan terhadap sejumlah wilayah, termasuk Haret Hreik, Ghobeiry, Laylaki, Haddath, dan Burj al-Barajneh. Israel mengeklaim menargetkan fasilitas militer Hizbullah, meski tanpa menyertakan bukti.

Operasi militer Israel di Libanon berlangsung melalui serangan udara dan darat, disertai perintah evakuasi massal bagi warga di wilayah selatan hingga pinggiran Beirut.

Menurut laporan lapangan, banyak pihak meragukan keberadaan target militer di sejumlah area yang diserang.

“Banyak yang akan mengatakan tidak ada lagi target militer di daerah ini. Ini hanya tentang hukuman kolektif dan memberikan tekanan pada Hizbullah," lanjutnya.

Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat lebih dari 1,2 juta orang telah mengungsi sejak awal Maret, memicu kekhawatiran akan memburuknya krisis kemanusiaan di kawasan tersebut. (Fer/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya