Headline
Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.
Kumpulan Berita DPR RI
KABAR duka datang dari misi perdamaian dunia. Seorang prajurit TNI, Praka Farizal Romadhon, dilaporkan gugur saat menjalankan tugas sebagai penjaga perdamaian di Libanon.
Kepergiannya bukan hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, tetapi juga bagi bangsa Indonesia yang kehilangan salah satu putra terbaiknya.
Peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya peran Indonesia dalam menjaga stabilitas global melalui misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), khususnya dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Praka Farizal Romadhon lahir di Kulon Progo pada 3 Januari 1998. Ia dikenal sebagai sosok sederhana yang memiliki dedikasi tinggi terhadap negara. Sejak muda, ia telah menunjukkan semangat pengabdian yang kuat, yang kemudian membawanya bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Sebagai prajurit, Farizal menjalani berbagai pelatihan dan penugasan dengan penuh tanggung jawab. Karier militernya terus berkembang hingga akhirnya ia dipercaya untuk bergabung dalam misi internasional bersama PBB.
Praka Farizal Romadhon merupakan bagian dari pasukan penjaga perdamaian Indonesia yang tergabung dalam UNIFIL. Misi ini bertujuan untuk menjaga stabilitas dan keamanan di wilayah Lebanon Selatan, yang selama ini menjadi kawasan konflik.
Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu kontributor pasukan perdamaian terbesar di dunia. Keikutsertaan prajurit seperti Farizal menunjukkan komitmen Indonesia dalam menciptakan perdamaian global.
Dalam penugasannya, Farizal tergabung dalam satuan Yonif 113/JS Brigif 25/Siwah Dam IM, dengan jabatan terakhir sebagai Taban Provost 1 Ru Provost Kima.
Menurut laporan dari UNIFIL, insiden tragis yang merenggut nyawa Praka Farizal terjadi pada Minggu, 29 Maret 2026 waktu setempat. Sebuah proyektil menghantam salah satu pos penjagaan di wilayah dekat Desa Adchit al Qusayr, Libanon Selatan.
Ledakan dari proyektil tersebut menyebabkan korban jiwa, termasuk Farizal yang saat itu sedang bertugas menjaga keamanan di pos tersebut.
Dalam pernyataannya, pihak UNIFIL menyebutkan bahwa seorang penjaga perdamaian tewas secara tragis akibat ledakan tersebut. Peristiwa ini menjadi bukti bahwa misi perdamaian tidak selalu berada dalam kondisi aman, melainkan penuh risiko tinggi.
Kepergian Praka Farizal Romadhon menjadi pukulan berat bagi keluarganya. Ia meninggalkan seorang istri, Fafa Nur Azila (25), serta seorang anak perempuan yang masih berusia 2 tahun, Shanaya Almahya Elshanu.
Kisah ini semakin mengundang haru karena Farizal baru saja menikah pada 4 Juli 2023. Dalam waktu yang relatif singkat, ia harus meninggalkan keluarga kecilnya demi menjalankan tugas negara.
Selama ini, keluarga Farizal tinggal di Asrama Militer (Asmil) Kima Yonif 113/JS, yang berada di Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, Aceh.
Hingga saat ini, pihak TNI masih berkoordinasi dengan keluarga terkait proses pemakaman almarhum. Biasanya, prajurit yang gugur dalam tugas akan mendapatkan penghormatan militer sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasanya.
Proses pemulangan jenazah dari luar negeri juga melibatkan koordinasi lintas negara dan instansi, termasuk PBB dan pemerintah Indonesia. (YouTube/Z-10)
TNI mengonfirmasi gugurnya Praka Farizal Rhomadhon dalam misi UNIFIL di Libanon. Tiga prajurit lain luka, investigasi penyebab insiden masih berlangsung.
DPR RI mendesak investigasi menyeluruh atas gugurnya prajurit TNI dalam serangan misil di markas pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) di Libanon
Kedutaan Besar Iran sampaikan duka atas gugurnya prajurit perdamaian Indonesia di Lebanon, sekaligus kecam keras serangan yang disebut melanggar hukum internasional.
Anies Baswedan kecam serangan ke basis pasukan perdamaian PBB yang menewaskan prajurit Indonesia dan mendesak dunia bertindak tegas.
Mahkamah Konstitusi kembali menguji UU Peradilan Militer (UU No. 31/1997) terkait kewenangan mengadili tindak pidana prajurit TNI. P
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved