Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
MANTAN Duta Besar RI untuk Iran, Dian Wirengjurit, menilai serangan militer Amerika Serikat ke Iran merupakan upaya Presiden AS Donald Trump untuk mengalihkan perhatian dari skandal “Epstein Files”.
Menurut Dian, isu tersebut telah menjadi pembahasan serius di dalam negeri AS. “Sangat betul. Persis sekali bahwa ini jelas pengalihan isu. Isu dalam negerinya Trump itu banyak,” ujarnya dalam podcast EdShareOn bersama Eddy Wijaya, Rabu (18/3).
Skandal Epstein Files sendiri menyeret sejumlah tokoh ternama, termasuk Donald Trump, Bill Clinton, dan Hillary Clinton. Mereka dikaitkan dengan Jeffrey Epstein, yang terbukti melakukan perdagangan manusia dan kejahatan seksual terhadap anak.
Anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Ted Lieu, bahkan menyebut nama Trump muncul berulang kali dalam dokumen tersebut. Ia menilai keterlibatan Trump dalam acara yang digelar Epstein bukan kebetulan. Pernyataan itu juga ditujukan kepada Jaksa Agung AS Pam Bondi yang dianggap melindungi Trump.
Dian menambahkan, Trump juga menghadapi tekanan politik domestik, termasuk kritik dari Human Rights Watch terkait kebijakan yang dinilai merusak hak asasi manusia, khususnya terhadap imigran dan pencari suaka.
Selain itu, ia menyoroti dampak ekonomi dari konflik. “Satu hari bisa menghabiskan setidaknya satu miliar dolar. Drone Iran yang murah dilawan rudal mahal,” kata Dian.
Ia juga menilai langkah militer tersebut berpotensi melanggar hukum domestik AS karena belum mendapat persetujuan Kongres. “Perang belum disetujui tapi dia sudah mulai. Ini bukan perangnya Amerika, tapi perangnya Trump,” ujarnya.
MEDIASI PRESIDEN PRABOWO
Dalam kesempatan yang sama, Dian meragukan kemampuan Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator konflik antara AS, Israel, dan Iran. “Untuk menjadi penengah harus netral. Kita menyelesaikan konflik Iran dengan Saudi Arabia saja tidak sanggup. Kok mau menyelesaikan konflik Iran-Israel. Omong kosong,” ujarnya.
Ia menegaskan, hingga kini tidak ada permintaan dari negara-negara terkait agar Indonesia menjadi mediator. Peran tersebut justru lebih mungkin diambil negara seperti Turki atau Mesir yang memiliki hubungan diplomatik dengan semua pihak.
Dian juga mengkritik langkah Indonesia yang dinilai belum menunjukkan posisi netral, termasuk keikutsertaan dalam Dewan Perdamaian Gaza yang diprakarsai Trump.
Menurutnya, Indonesia sebaiknya fokus membenahi persoalan dalam negeri sebelum berperan dalam konflik global. “Kalau dalam negeri kita beres, negara lain akan meminta bantuan kita, bukan kita yang menawarkan diri,” ujarnya.
Ia turut menyoroti rencana pengiriman pasukan perdamaian ke Gaza yang dinilai membutuhkan anggaran besar. Pemerintah sendiri telah menunda rencana tersebut dengan alasan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. (E-2)
Wakil presiden tidak memberikan penjelasan lebih lanjut, dengan mengatakan bahwa ia tidak ingin mendahului Presiden Donald Trump
Militer AS mengerahkan bom raksasa 5.000 pon untuk hancurkan situs bawah tanah Iran.
Iran menanggapi serangan brutal itu dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menuduh Iran menembakkan rudal dari sekolah dan rumah sakit. Ia menegaskan AS tidak akan terjebak dalam perang tanpa akhir.
Perang tersebut terlalu menguras anggaran negara. Padahal, menurut dia, situasi internal di Amerika Serikat tidak baik-baik saja dan membutuhkan sokongan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved