Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

UNICEF: Saatnya Prioritaskan Nyawa Anak di Tingkat Global

Ferdian Ananda Majni
19/3/2026 12:23
UNICEF: Saatnya Prioritaskan Nyawa Anak di Tingkat Global
Sejumlah anak terlihat di dekat menara yang hancur setelah serangan udara Israel di Kota Gaza, Palestina (6/9/2025).(ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad)

LAPORAN UNICEF mencatat kematian anak di bawah lima tahun turun drastis sejak 2000, namun laju penurunannya melambat sejak 2015, dengan jutaan kematian yang sebagian besar masih dapat dicegah.

Secara global, jumlah kematian balita telah turun lebih dari setengah dalam dua dekade terakhir. Namun demikian, laporan bertajuk Levels & Trends in Child Mortality mencatat bahwa laju penurunan tersebut kini melambat. 

Sejak 2015, kecepatan penurunan angka kematian anak disebut menurun lebih dari 60%, menandakan tantangan baru dalam upaya meningkatkan kelangsungan hidup anak.

Pada 2024, diperkirakan sekitar 4,9 juta anak meninggal sebelum mencapai usia lima tahun, termasuk 2,3 juta bayi baru lahir. 

Sebagian besar kematian tersebut dinilai sebenarnya dapat dicegah melalui intervensi sederhana yang telah terbukti efektif, berbiaya rendah, serta melalui akses yang lebih luas terhadap layanan kesehatan berkualitas.

Laporan tersebut juga menyoroti bahwa kematian bayi baru lahir menyumbang hampir setengah dari total kematian balita secara global. 

Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan dalam mencegah kematian di masa sekitar kelahiran masih berjalan lebih lambat dibandingkan kelompok usia lainnya.

Penyebab utama kematian pada bayi baru lahir meliputi komplikasi akibat kelahiran prematur dan masalah selama proses persalinan. 

Selain itu, infeksi seperti sepsis neonatal serta kelainan bawaan juga menjadi faktor penting yang berkontribusi terhadap tingginya angka kematian.

Untuk pertama kalinya, laporan ini juga mengestimasi jumlah kematian yang secara langsung disebabkan oleh malnutrisi akut parah. 

Hasilnya menunjukkan lebih dari 100.000 anak usia satu hingga 59 bulan meninggal akibat kondisi tersebut pada 2024.

Distribusi kematian anak masih sangat tidak merata secara geografis. Kawasan Afrika sub-Sahara mencatat angka tertinggi dengan menyumbang sekitar 58% dari total kematian balita di dunia, disusul Asia Selatan sebesar 25%.

Menanggapi temuan ini, Wakil Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Farhan Haq, menekankan pentingnya komitmen global untuk mempercepat penanganan masalah ini. 

"Demi mempercepat kemajuan dan menyelamatkan nyawa, UNICEF menyerukan kepada pemerintah, donor, dan mitra untuk menjadikan kelangsungan hidup anak sebagai prioritas politik dan pendanaan, untuk fokus pada mereka yang berisiko paling tinggi, memperkuat akuntabilitas, dan berinvestasi dalam sistem perawatan kesehatan primer," ujarnya dalam taklimat harian.

UNICEF berharap upaya kolaboratif dari berbagai pihak dapat mempercepat penurunan angka kematian anak, terutama di wilayah-wilayah dengan risiko tertinggi, sehingga lebih banyak nyawa dapat diselamatkan di masa mendatang. (Xinhua/Fer/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik