Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Iran, Masoud Pezeshkian, mengonfirmasi Menteri Intelijen Esmail Khatib telah tewas dalam sebuah serangan udara. Pezeshkian menyebut insiden tersebut sebagai "pembunuhan pengecut" yang meninggalkan Iran dalam duka yang mendalam.
Kematian Khatib diumumkan pada Rabu (18/3/2026), hanya berselang sehari setelah Israel menyatakan telah melenyapkan dua petinggi keamanan Iran lainnya, yakni Ali Larijani dan Kepala Pasukan Basij, Gholamreza Soleimani.
Rangkaian serangan ini merupakan bagian dari upaya sistematis Israel dan Amerika Serikat untuk melemahkan kepemimpinan rezim Teheran sejak terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada hari pertama perang, 28 Februari lalu.
Melalui unggahan di platform X, Presiden Pezeshkian menyampaikan belasungkawa kepada rakyat Iran dan menegaskan bahwa perjuangan mereka tidak akan berhenti.
"Saya yakin jalan mereka akan terus berlanjut dengan lebih teguh dari sebelumnya," ujar Pezeshkian.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan Khatib telah "dieliminasi" dalam serangan di Teheran. Ia menegaskan militer Israel (IDF) kini memiliki wewenang penuh untuk menargetkan pejabat tinggi Iran tanpa memerlukan persetujuan tambahan.
"Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan saya telah mengizinkan IDF untuk melenyapkan pejabat senior Iran mana pun yang lingkaran intelijen dan operasionalnya telah tertutup," kata Katz.
IDF menuduh Kementerian Intelijen di bawah pimpinan Khatib sebagai instrumen utama dalam aktivitas terorisme dan penindasan domestik, termasuk peran signifikan dalam penangkapan serta pembunuhan pengunjuk rasa dalam aksi protes baru-baru ini di Iran.
Seorang warga Teheran yang diwawancarai BBC memberikan pandangan yang kontras mengenai kematian Khatib. Menurutnya, hilangnya figur utama kepemimpinan mungkin memberikan sedikit rasa aman bagi warga saat melakukan protes.
"Mungkin saja ketika orang-orang keluar setelah ada seruan protes, kemungkinan mereka terbunuh sekarang lebih rendah. Meskipun mereka semua memiliki pengganti, ini adalah tokoh-tokoh utamanya," tuturnya.
Data pemerintah Iran mencatat lebih dari 1.300 orang telah tewas akibat serangan Israel dan AS sejak awal perang, termasuk ratusan wanita dan anak-anak. Namun, lembaga Human Rights Activists News Agency (Hrana) melaporkan angka yang lebih tinggi, yakni setidaknya 1.354 warga sipil dan 1.138 personel militer telah gugur.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan balasan di seluruh Timur Tengah. Laporan terbaru menyebutkan ledakan dan pencegatan drone terjadi di Dubai, Qatar, Kuwait, Irak, Bahrain, hingga Arab Saudi.
Konflik ini telah memicu guncangan global, terutama setelah ditutupnya Selat Hormuz yang merupakan jalur vital pengiriman energi dunia, yang menyebabkan lonjakan harga minyak secara signifikan. (BBC/Z-2)
Militer AS menghancurkan belasan kapal ranjau Iran di Selat Hormuz. Sementara itu, Israel meluncurkan gelombang serangan udara ke Teheran dan Libanon.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved