Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Harga Avtur Global Meroket 83% Akibat Perang di Iran, Industri Penerbangan Terancam Lumpuh

Haufan Hasyim Salengke
18/3/2026 12:12
Harga Avtur Global Meroket 83% Akibat Perang di Iran, Industri Penerbangan Terancam Lumpuh
ilustrasi - Industri penerbangan global menghadapi tekanan finansial paling berat tahun ini setelah harga bahan bakar jet (avtur) melonjak drastis sebesar 82,8% hanya dalam waktu satu bulan.(AA)

INDUSTRI penerbangan global menghadapi tekanan finansial paling berat tahun ini setelah harga bahan bakar jet (avtur) melonjak drastis sebesar 82,8% hanya dalam waktu satu bulan, Anadolu melaporkan, Selasa (17/3). Laporan terbaru dari International Air Transport Association (IATA) menunjukkan bahwa eskalasi militer di Timur Tengah telah memicu volatilitas pasar energi ke level yang membahayakan margin maskapai.

Berdasarkan data Monitor Harga Bahan Bakar IATA, harga avtur rata-rata menyentuh angka USS175 per barel (sekitar Rp,28 juta per barel), naik 11,2% dalam sepekan terakhir. Secara tahunan, kenaikan ini mencapai angka fantastis sebesar 94,4%.

Lonjakan ini terjadi menyusul serangan udara AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu yang menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Harga minyak mentah Brent naik hingga US$119,5 per barel setelah peluncuran serangan, sebelum stabil di sekitar US$100.

IATA memperingatkan bahwa kenaikan harga yang mendadak jauh lebih merusak dibandingkan harga tinggi yang stabil. Hal ini disebabkan maskapai tidak memiliki cukup waktu untuk menyesuaikan tarif tiket, kapasitas penerbangan, maupun strategi pengadaan bahan bakar mereka.

Tekanan biaya ini tidak hanya berasal dari harga minyak mentah Brent yang sempat menembus US$119,5 per barel, tetapi juga dari biaya operasional tambahan akibat pengalihan rute penerbangan dan penangguhan layanan di zona konflik," tulis laporan tersebut.

Serangan balasan Iran berupa drone dan rudal ke berbagai wilayah di Timur Tengah semakin memperparah disrupsi pasar global. Dengan bahan bakar sebagai komponen biaya operasional terbesar, krisis di Iran ini diprediksi akan memaksa banyak maskapai melakukan efisiensi besar-besaran atau menaikkan tarif penumpang secara signifikan dalam waktu dekat. (AA/B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik