Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Memanas! Petro dan Noboa Saling Serang Terkait Insiden Bom di Perbatasan Kolombia-Ekuador

Thalatie K Yani
18/3/2026 09:19
Memanas! Petro dan Noboa Saling Serang Terkait Insiden Bom di Perbatasan Kolombia-Ekuador
Hubungan diplomatik Gustavo Petro dan Daniel Noboa retak akibat insiden bom di perbatasan. Ekuador bantah masuk wilayah Kolombia, sebut Bogota lalai jaga batas.(AFP)

KETEGANGAN diplomatik antara Kolombia dan Ekuador mencapai titik didih pada Selasa waktu setempat. Presiden Kolombia, Gustavo Petro, dan Presiden Ekuador, Daniel Noboa, terlibat adu argumen sengit menyusul tuduhan jatuhnya bom militer Ekuador di wilayah kedaulatan Kolombia.

Perselisihan ini bermula ketika Presiden Petro mengklaim bahwa operasi udara Ekuador terhadap persembunyian kelompok kriminal di perbatasan telah melintasi batas negara. Melalui unggahan di platform X, Petro menunjukkan foto bom yang belum meledak dan menuntut investigasi menyeluruh.

"Bom itu jatuh 100 meter dari rumah keluarga miskin," ujar Petro dalam pidatonya, Selasa. Ia menambahkan bahwa amunisi tersebut dijatuhkan dari pesawat besar, bukan pesawat kecil atau drone.

Kesaksian warga lokal memperkuat narasi tersebut. Julian Imbacuan, seorang petani setempat, mengungkapkan ketakutannya kepada AFP. "Kami semua ketakutan dan khawatir perangkat itu tiba-tiba meledak dan merenggut nyawa kami," tuturnya.

Bantahan Keras Ekuador

Presiden Ekuador, Daniel Noboa, sekutu dekat Presiden AS Donald Trump, langsung bereaksi keras. Ia membantah tuduhan Petro dan justru menuding balik kelalaian Kolombia dalam menjaga perbatasan.

"Presiden Petro, pernyataan Anda salah. Kami beroperasi di dalam wilayah kami sendiri, bukan wilayah Anda," balas Noboa melalui X. Ia menegaskan bahwa Ekuador sedang membom lokasi persembunyian kelompok kriminal yang menurutnya sebagian besar berasal dari Kolombia.

Noboa menambahkan bahwa kelompok-kelompok tersebut bisa menyusup ke Ekuador karena kelalaian pemerintah Kolombia dalam mengamankan wilayah perbatasan mereka.

Simpang Siur Data Korban

Situasi semakin keruh ketika Petro menyebutkan adanya korban jiwa tanpa rincian kronologis yang jelas. "Ada 27 jenazah yang hangus dan penjelasan Noboa tidak kredibel," tegas Petro. Hingga kini, pihak militer belum bisa mengonfirmasi apakah jumlah korban tersebut merujuk pada insiden terbaru atau kejadian sebelumnya.

Konflik ini membangkitkan memori kelam tahun 2008, saat Kolombia menyerang wilayah Ekuador untuk melumpuhkan komandan FARC, yang kala itu memicu krisis diplomatik hebat di Amerika Latin.

Geopolitik dan Jalur Narkoba

Ketegangan ini juga dipicu oleh dinamika politik regional. Ekuador baru-baru ini bergabung dengan "Shield of the Americas," koalisi 17 negara bentukan Donald Trump untuk memberantas perdagangan narkoba. Kolombia, di bawah pemerintahan sayap kiri Petro, tidak diundang dalam koalisi tersebut.

Padahal, wilayah perbatasan sepanjang 586 kilometer ini merupakan jalur krusial bagi kartel. Sekitar 70% kokain yang diproduksi di Kolombia dan Peru diselundupkan melalui pelabuhan Pasifik di Ekuador menuju pasar internasional. (AFP/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik