Headline
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Kumpulan Berita DPR RI
AMERIKA SERIKAT (AS) dilaporkan kecewa dengan skala serangan udara Israel terhadap depot bahan bakar Iran pada akhir pekan, dan hal itu menjadi perbedaan pendapat yang menonjol pertama antara kedua sekutu tersebut sejak dimulainya penyerbuan terhadap Iran, demikian lapor Axios, mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Laporan itu menyebutkan bahwa serangan pada Sabtu (7/3) menargetkan sekitar 30 depot bahan bakar di berbagai wilayah Iran, jumlah yang melebihi perkiraan pejabat AS setelah Israel sebelumnya memberi tahu Washington mengenai operasi tersebut.
Kebakaran besar dilaporkan terjadi di ibu kota Iran, Teheran, setelah serangan tersebut, dengan asap tebal terlihat membubung di atas tangki penyimpanan bahan bakar dan kawasan industri.
Pernyataan pihak militer Israel menyebutkan bahwa depot bahan bakar yang menjadi sasaran serangan itu digunakan pemerintah Iran untuk memasok bahan bakar kepada berbagai pihak, termasuk unit-unit militernya.
Para pejabat AS mengatakan Israel telah memberi tahu militer AS sebelum operasi dilaksanakan, namun Washington tetap terkejut dengan luasnya cakupan serangan tersebut.
“Presiden tidak menyukai serangan terhadap fasilitas minyak. Ia ingin menyelamatkan minyak itu, bukan membakarnya. Dan hal itu mengingatkan orang pada kenaikan harga bensin,” kata seorang penasihat Presiden AS Donald Trump.
Pejabat AS khawatir serangan terhadap infrastruktur yang melayani masyarakat Iran dapat menimbulkan dampak strategis yang berbalik arah dengan memperkuat dukungan publik terhadap kepemimpinan Iran serta mendorong kenaikan harga minyak global.
“Kami tidak berpikir itu adalah ide yang baik,” kata seorang pejabat senior AS tersebut.
Laporan itu menyebutkan bahwa meskipun fasilitas yang diserang bukan merupakan lokasi produksi minyak, para pejabat di Washington khawatir rekaman yang memperlihatkan depot bahan bakar yang terbakar dapat mengguncang pasar energi.
Pejabat Iran memperingatkan bahwa serangan yang terus berlanjut terhadap infrastruktur energi dapat memicu pembalasan.
Juru bicara Markas Khatam al-Anbiya Iran, yang mengawasi operasi militer, mengatakan Teheran dapat merespons dengan serangan serupa di berbagai wilayah jika serangan semacam itu terus terjadi.
Ia menambahkan bahwa Iran sejauh ini menghindari menargetkan infrastruktur energi di kawasan, namun memperingatkan bahwa jika langkah tersebut diambil, harga minyak global dapat melonjak hingga 200 dolar AS (sekitar Rp3,4 juta) per barel..
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga memperingatkan bahwa Teheran akan melakukan pembalasan “tanpa penundaan” jika serangan terhadap infrastruktur terus berlanjut.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak Israel dan AS melancarkan duet serangan terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026 yang menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, serta melukai lebih dari 10.000 lainnya, menurut otoritas Iran.
Iran kemudian melakukan serangan balasan menggunakan rudal dan drone yang menargetkan Israel, Irak, Yordania, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS, sebagai bentuk mempertahankan diri. (Ant/P-3)
Embargo minyak oleh negara-negara Arab anggota kartel minyak OPEC terhadap negara-negara yang mendukung Israel dalam perang Oktober 1973 menyebabkan harga minyak melonjak drastis.
Perusahaan-perusahaan pertahanan terbesar di Amerika Serikat telah sepakat untuk melipatgandakan produksi empat kali lipat.
Iran mengklaim telah menghancurkan tangki bahan bakar dan gas pangkalan tersebut, landasan helikopter AS, fasilitas logistik dan pendukung.
Perang tersebut terlalu menguras anggaran negara. Padahal, menurut dia, situasi internal di Amerika Serikat tidak baik-baik saja dan membutuhkan sokongan.
Instruksi itu merupakan turunan dari perintah Divisi Kabinet Pemerintah Bangladesh sebagai langkah lebih lanjut untuk menekan permintaan energi di sektor-sektor tertentu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved