Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA abad ke-7 Masehi, peta politik dunia ditentukan oleh benturan dua imperium raksasa: Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) dan Kekaisaran Persia (Sassanid). Di tengah konflik ini, umat Islam yang saat itu masih berada di fase Mekah secara terang-terangan berpihak pada Romawi. Mengapa demikian?
Alasan fundamental dukungan umat Islam kepada Romawi adalah faktor teologis. Bangsa Romawi saat itu memeluk agama Nasrani (Kristen), yang dalam Al-Qur'an disebut sebagai Ahli Kitab. Mereka memiliki akar monoteisme yang sama dengan Islam, yakni ajaran yang dibawa oleh para nabi dari garis keturunan Ibrahim (Abraham).
Sebaliknya, Kekaisaran Persia menganut agama Majusi (Zoroastrianisme) yang memuja api. Bagi kaum Muslimin, kemenangan Persia dianggap sebagai kemenangan paganisme atas monoteisme. Hal inilah yang membuat Rasulullah SAW dan para sahabat merasa lebih dekat secara emosional dengan kemenangan bangsa Romawi.
Perang antara dua negara adidaya ini menciptakan polarisasi di Mekah. Kaum musyrik Quraisy sangat mengelu-elukan kemenangan Persia. Mereka merasa bahwa jika bangsa penyembah api bisa mengalahkan bangsa Ahli Kitab, mereka pun bisa menghancurkan dakwah Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW.
Baca juga: Salat Tarawih tapi tidak Badiyah Isya, Bagaimana Hukumnya
Persaingan Romawi-Persia ternyata menciptakan polarisasi di tengah masyarakat Mekah:
Ketika Romawi menderita kekalahan telak di wilayah Syam pada tahun 613-614 M, kaum musyrik Mekah mengejek umat Islam dengan berkata, "Sebagaimana saudara-saudara kami (Persia) mengalahkan saudara-saudara kalian (Romawi), kami pun akan mengalahkan kalian."
Kekalahan Romawi pada tahun 613-614 M sangatlah parah. Mereka kehilangan wilayah Syam, Mesir, hingga Jerusalem. Namun, di saat banyak orang menganggap Romawi akan runtuh, Al-Qur'an menurunkan Surat Ar-Rum ayat 1-5:
"Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi)."
Istilah bid'i sinin dalam ayat tersebut merujuk pada rentang waktu 3 hingga 9 tahun. Benar saja, pada tahun 624 M, Kaisar Heraklius berhasil memukul balik pasukan Persia. Kemenangan ini terjadi bersamaan dengan kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar melawan kafir Quraisy, sehingga kegembiraan umat Islam menjadi berlipat ganda.
Baca juga: Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar Sejarah dan Makna 17 Ramadan
| Aspek | Kekaisaran Romawi Timur | Kekaisaran Persia Sassanid |
|---|---|---|
| Agama Utama | Nasrani (Ahli Kitab) | Majusi (Penyembah Api) |
| Ibu Kota | Konstantinopel | Ctesiphon (Mada'in) |
| Dukungan Muslim | Didukung (Simpati Teologis) | Ditolak (Paganisme) |
Baca juga: Surat Fushshilat Asbabun Nuzul, Pesan Utama, dan Keutamaan Membacanya
Dukungan umat Islam terhadap Romawi dalam perang melawan Persia membuktikan bahwa sejak awal, Islam memiliki kesadaran geopolitik yang tajam. Kemenangan Romawi bukan hanya sekadar kemenangan militer, melainkan validasi atas nubuat Al-Qur'an yang memperkuat iman para sahabat di tengah tekanan kaum Quraisy.
Baca juga: Urutan 30 Surat Juz Amma Lengkap Arab, Latin, dan Arti
Baca juga: Doa Menerima Zakat Fitrah Arab, Latin, dan Arti
PENAFIAN
Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved