Headline

Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.

Perang Persia-Romawi: Mengapa Umat Islam Dukung Kemenangan Romawi?

Media Indonesia
07/3/2026 21:00
Perang Persia-Romawi: Mengapa Umat Islam Dukung Kemenangan Romawi?
Ilustrasi.(Freepik)

PADA abad ke-7 Masehi, peta politik dunia ditentukan oleh benturan dua imperium raksasa: Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) dan Kekaisaran Persia (Sassanid). Di tengah konflik ini, umat Islam yang saat itu masih berada di fase Mekah secara terang-terangan berpihak pada Romawi. Mengapa demikian?

Persaudaraan Ahli Kitab

Alasan fundamental dukungan umat Islam kepada Romawi adalah faktor teologis. Bangsa Romawi saat itu memeluk agama Nasrani (Kristen), yang dalam Al-Qur'an disebut sebagai Ahli Kitab. Mereka memiliki akar monoteisme yang sama dengan Islam, yakni ajaran yang dibawa oleh para nabi dari garis keturunan Ibrahim (Abraham).

Sebaliknya, Kekaisaran Persia menganut agama Majusi (Zoroastrianisme) yang memuja api. Bagi kaum Muslimin, kemenangan Persia dianggap sebagai kemenangan paganisme atas monoteisme. Hal inilah yang membuat Rasulullah SAW dan para sahabat merasa lebih dekat secara emosional dengan kemenangan bangsa Romawi.

Analisis Geopolitik: Proxy War di Makkah

Perang antara dua negara adidaya ini menciptakan polarisasi di Mekah. Kaum musyrik Quraisy sangat mengelu-elukan kemenangan Persia. Mereka merasa bahwa jika bangsa penyembah api bisa mengalahkan bangsa Ahli Kitab, mereka pun bisa menghancurkan dakwah Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

Baca juga: Salat Tarawih tapi tidak Badiyah Isya, Bagaimana Hukumnya

Persaingan Romawi-Persia ternyata menciptakan polarisasi di tengah masyarakat Mekah:

  1. Kaum Muslimin: Mendukung Romawi karena kedekatan iman (sama-sama percaya Tuhan dan Nabi).
  2. Kaum Musyrikin Quraisy: Mendukung Persia. Mereka merasa memiliki kesamaan dengan Persia karena sama-sama tidak memiliki kitab suci dan mempraktikkan penyembahan berhala/elemen alam.

Ketika Romawi menderita kekalahan telak di wilayah Syam pada tahun 613-614 M, kaum musyrik Mekah mengejek umat Islam dengan berkata, "Sebagaimana saudara-saudara kami (Persia) mengalahkan saudara-saudara kalian (Romawi), kami pun akan mengalahkan kalian."

Mukjizat Surat Ar-Rum: Nubuat yang Menjadi Nyata

Kekalahan Romawi pada tahun 613-614 M sangatlah parah. Mereka kehilangan wilayah Syam, Mesir, hingga Jerusalem. Namun, di saat banyak orang menganggap Romawi akan runtuh, Al-Qur'an menurunkan Surat Ar-Rum ayat 1-5:

"Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi)."

Istilah bid'i sinin dalam ayat tersebut merujuk pada rentang waktu 3 hingga 9 tahun. Benar saja, pada tahun 624 M, Kaisar Heraklius berhasil memukul balik pasukan Persia. Kemenangan ini terjadi bersamaan dengan kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar melawan kafir Quraisy, sehingga kegembiraan umat Islam menjadi berlipat ganda.

Baca juga: Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar Sejarah dan Makna 17 Ramadan

Tabel Perbandingan Dua Imperium

Aspek Kekaisaran Romawi Timur Kekaisaran Persia Sassanid
Agama Utama Nasrani (Ahli Kitab) Majusi (Penyembah Api)
Ibu Kota Konstantinopel Ctesiphon (Mada'in)
Dukungan Muslim Didukung (Simpati Teologis) Ditolak (Paganisme)

Baca juga: Surat Fushshilat Asbabun Nuzul, Pesan Utama, dan Keutamaan Membacanya

Kesimpulan

Dukungan umat Islam terhadap Romawi dalam perang melawan Persia membuktikan bahwa sejak awal, Islam memiliki kesadaran geopolitik yang tajam. Kemenangan Romawi bukan hanya sekadar kemenangan militer, melainkan validasi atas nubuat Al-Qur'an yang memperkuat iman para sahabat di tengah tekanan kaum Quraisy.

Checklist Sejarah: Garis Waktu Konflik

  • 613 M: Romawi kalah telak dari Persia di Pertempuran Antiokhia.
  • 614 M: Persia merebut Jerusalem dan membawa lari Salib Agung.
  • 615 M: Turunnya Surat Ar-Rum sebagai nubuat kemenangan.
  • 624 M: Romawi mengalahkan Persia di Nineveh; Muslim menang di Perang Badar.

Baca juga: Urutan 30 Surat Juz Amma Lengkap Arab, Latin, dan Arti

FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan

  • Mengapa Romawi disebut bangsa Rum? Istilah 'Rum' merujuk pada Kekaisaran Romawi Timur atau Bizantium yang berpusat di Konstantinopel.
  • Kapan perang ini berakhir? Perang besar Bizantium-Sassanid berakhir pada 628 M, namun kedua kekaisaran ini kemudian melemah dan akhirnya wilayah mereka perlahan dikuasai oleh kekhalifahan Islam.
  • Apa hubungan kemenangan Romawi dengan Perang Badar? Keduanya terjadi di waktu yang berdekatan (624 M), yang dianggap sebagai pertolongan Allah bagi orang-orang beriman sesuai janji dalam Surat Ar-Rum. 
  • Siapa pemimpin Romawi dan Persia saat itu? Romawi dipimpin oleh Kaisar Heraklius, sementara Persia dipimpin oleh Kisra II (Khosrau Parvez).
  • Di mana lokasi negeri yang terdekat dalam Surat Ar-Rum? Mayoritas ulama dan sejarawan merujuk pada wilayah Syam (Suriah dan Palestina), khususnya di sekitar Laut Mati yang merupakan titik terendah di bumi.
  • Apakah Romawi tetap menjadi sekutu Islam setelah itu? Tidak selalu. Setelah kemenangan atas Persia, terjadi ketegangan antara Romawi dan Daulah Islamiyah di Madinah yang berujung pada Perang Mut'ah dan Perang Tabuk. (I-2)

Baca juga: Doa Menerima Zakat Fitrah Arab, Latin, dan Arti

PENAFIAN

Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya