Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Iran Tutup Selat Hormuz, Prediksi Harga Minyak Tembus US$200

Media Indonesia
04/3/2026 15:20
Iran Tutup Selat Hormuz, Prediksi Harga Minyak Tembus US$200
(Al Jazeera)

KETEGANGAN di Timur Tengah mencapai titik didih baru pada tahun 2026. Penasihat Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ibrahim Jabari, secara resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz bagi seluruh lalu lintas maritim pada Selasa (3/3). Langkah drastis ini diambil sebagai respons atas eskalasi militer yang terus memanas antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

"Amerika Serikat serakah akan minyak. Biarkan mereka tahu bahwa kami kini telah menutup Selat Hormuz dan tidak akan mengizinkan kapal-kapal melintasinya," tegas Jabari sebagaimana dikutip dari Kantor Berita ISNA.

Ancaman Serangan dan Prediksi Harga Minyak US$200

Jabari memperingatkan bahwa setiap kapal yang mencoba melanggar blokade di Selat Hormuz akan menjadi target serangan pasukan Iran. Ia memprediksi penutupan jalur pelayaran vital ini akan memicu guncangan hebat pada pasar energi global.

Harga minyak mentah dunia diperkirakan akan melonjak hingga US$200 (sekitar Rp3,3 juta) per barel. Angka ini dipandang akan menimbulkan masalah serius bagi stabilitas ekonomi domestik Amerika Serikat yang sangat bergantung pada stabilitas harga energi.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Secara geografis, pantai utara selat ini dikuasai Iran. Pantai selatan dimiliki oleh Uni Emirat Arab (UAE) dan Oman. Jalur ini merupakan perlintasan utama bagi pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.

Dampak Ekonomi: Biaya Logistik Irak Melonjak 60 Persen

Dampak penutupan ini langsung terasa pada sektor logistik maritim. Melansir laporan Al Jazeera yang mengutip sumber pelabuhan Irak, biaya pengiriman maritim menuju Irak membengkak hingga 60 persen. Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan tarif asuransi yang sangat tinggi akibat risiko konflik bersenjata.

Kondisi di lapangan menunjukkan kelumpuhan aktivitas pelayaran. Tujuh kapal tanker minyak dilaporkan tertahan di perairan Irak menunggu kepastian pembukaan selat. Sementara itu, pelabuhan terbesar di Irak, Um Qasr, dilaporkan sepi tanpa ada satu pun kapal yang bersandar.

Konteks Konflik: Penutupan Selat Hormuz terjadi setelah serangan udara AS dan Israel ke Teheran pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Eskalasi Militer di Teluk Persia

Sebelum pengumuman penutupan ini, IRGC melakukan serangkaian aksi militer agresif. Pada Minggu (1/3), Iran mengeklaim telah meluncurkan serangan rudal terhadap tiga kapal tanker milik Amerika Serikat dan Inggris di wilayah Teluk Persia.

Aksi berlanjut pada Senin (2/3). Satu kapal tanker milik AS kembali menjadi sasaran serangan dua drone Iran di Selat Hormuz. Iran menegaskan bahwa serangan-serangan ini merupakan balasan langsung atas agresi AS dan Israel yang menyasar fasilitas sipil dan militer di Teheran sebelumnya.

Hingga berita ini diturunkan, situasi di Selat Hormuz masih mencekam dengan pengawasan ketat dari armada tempur IRGC, sementara komunitas internasional mengkhawatirkan terjadinya krisis energi global yang berkepanjangan. (Sputnik/RIA Novosti/Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya