Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Serangan Iran Lumpuhkan Dubai: Bandara Tutup, Orang Kaya Berebut Jet Pribadi

Thalatie K Yani
03/3/2026 04:39
Serangan Iran Lumpuhkan Dubai: Bandara Tutup, Orang Kaya Berebut Jet Pribadi
Konflik regional yang meluas membuat Dubai lumpuh. Wisatawan terjebak di hotel dan kapal pesiar, sementara kaum elite berebut jet pribadi dengan harga selangit.(AFP)

KOTA metropolitan Dubai yang biasanya gemerlap kini berada dalam kondisi mencekam. Rentetan serangan drone dan rudal dari Iran telah melumpuhkan Bandara Internasional Dubai serta menghantam sejumlah hotel mewah dan markas ikonik di pusat kota.

Kementerian Pertahanan UEA menyatakan mereka terus mencegat proyektil yang masuk pada Senin waktu setempat. Di saat yang sama, UEA resmi menutup kedutaannya di Teheran seiring meluasnya eskalasi perang regional.

Eksodus Kaum Elite via Jalur Darat

Penutupan ruang udara memicu kepanikan bagi kalangan miliarder dan influencer. Banyak dari mereka memilih menempuh jalur darat selama empat setengah jam menuju Oman demi mendapatkan penerbangan dari Bandara Muscat yang masih beroperasi terbatas.

Namun, upaya keluar dari kawasan tersebut tidaklah murah. JetVip, broker jet pribadi di Muscat, melaporkan lonjakan harga hingga tiga kali lipat. Penerbangan ke Istanbul menggunakan jet kecil kini dipatok seharga €85.000 (sekitar Rp1,4 miliar), sementara satu kursi carter menuju Moskow dibanderol €20.000 (Rp340 juta) per orang.

"Ketersediaan sangat tipis. Banyak operator pesawat menolak terbang karena kendala asuransi dan risiko keamanan," ujar perwakilan AlbaJet, perusahaan carter asal Austria.

Turis Terjebak di Darat dan Laut

Bagi mayoritas wisatawan, pilihan satu-satunya adalah bertahan di hotel. Dinas Pariwisata Dubai telah menginstruksikan pihak hotel untuk tidak mengusir tamu yang terjebak dan memperpanjang masa inap dengan tarif awal. Namun, beberapa turis Rusia mengeluhkan sikap tidak kooperatif dari pihak resor yang tetap menuntut pembayaran tambahan.

Kondisi tak kalah sulit dialami ribuan penumpang kapal pesiar. Sedikitnya enam kapal pesiar besar kini tertahan di pelabuhan atau lego jangkar di lepas pantai Teluk. Penumpang dilarang turun, bahkan diinstruksikan tetap berada di dalam kabin.

"Sangat mengejutkan melihat surga liburan kami berubah menjadi zona perang," ujar salah satu penumpang kapal Mein Schiff 4 yang menyaksikan kepulan asap hitam akibat ledakan drone di Pelabuhan Zayed, Abu Dhabi.

Kontroversi Politik di Italia

Krisis ini juga memicu badai politik di Italia. Menteri Pertahanan Guido Crosetto menuai kritik tajam setelah terbang pulang menggunakan pesawat pemerintah pada hari Senin, meninggalkan ratusan warga Italia lainnya yang masih terdampar di Dubai.

Crosetto dituding sedang berlibur bersama keluarganya saat perang pecah. Meski ia mengaku membayar biaya penerbangan sendiri dan kembali sendirian untuk urusan dinas, partai oposisi tetap mendesak pengunduran dirinya.

"Saya berada di kantor menangani urusan yang jauh lebih serius. Saya rasa masalah terdampar, seperti ribuan orang lainnya, bukanlah isu yang penting," cetus Crosetto dalam pembelaannya.

Hingga saat ini, maskapai besar seperti Emirates dan Etihad mulai mencoba mengoperasikan sejumlah kecil penerbangan repatriasi guna memulangkan penumpang yang terlantar, meski jadwal keberangkatan masih simpang siur. (The Guardian/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya