Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Solidaritas Negara Teluk Menandai Meredupnya Hegemoni Militer AS

Agus Utantoro
31/1/2026 21:04
Solidaritas Negara Teluk Menandai Meredupnya Hegemoni Militer AS
Ketua Umum Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI), Bachtiar Nasir,.(MI/Agus Utantoro)

GEOPOLITIK Timur Tengah pada awal 2026 menunjukkan terjadinya pergeseran penting. Negara-negara Teluk - Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA)- menutup wilayah darat, laut, dan udara mereka sebagai titik operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran.  Sikap ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan Washington–Teheran di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.

Ketua Umum Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI), Bachtiar Nasir, menilai keputusan itu menandai berkurangnya pengaruh militer Amerika Serikat di kawasan. “Ini bukan keputusan teknis. Ini pernyataan politik tentang kedaulatan dan otonomi strategis kawasan,” kata Bachtiar di Yogyakarta, Sabtu (31/1).

Bachtiar mengatakan langkah negara-negara Teluk (Gulf States) ini menunjukkan bahwa mereka tidak ingin wilayah mereka meniadi bagian dari konflik terbuka Amerika Serikat - Iran. "Penutupan akses militer mencerminkan kehendak menjaga stabilitas regional dan kepentingan nasional masing-masing negara," ujarnya.

Bachtiar merujuk pernyataan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) pada 27 Januari 2026. Saat itu, MBS menegaskan kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahwa Arab Saudi tidak mengizinkan wilayahnya dipakai untuk menyerang Iran. 

Sikap serupa disampaikan Uni Emirat Arab sehari sebelumnya. “Para pemimpin Teluk kini lebih rasional. Mereka memahami risiko besar jika wilayahnya dijadikan pangkalan serangan,” ujar Bachtiar.

Ia menilai keputusan itu juga didorong pertimbangan ekonomi. Arab Saudi dan UEA sedang menjalankan transformasi besar melalui proyek pembangunan jangka panjang. Stabilitas kawasan menjadi syarat utama. “Perang akan menghancurkan iklim investasi. Itu bertentangan dengan visi ekonomi mereka,” kata dia.

Penutupan akses wilayah ini, lanjut Bachtiar, memukul perhitungan militer Amerika Serikat. Washington harus mengandalkan pangkalan yang lebih jauh dan mahal secara logistik.

Bachtiar melihat pergeseran ini sebagai tanda berakhirnya era Timur Tengah sebagai arena kepentingan kekuatan besar. Negara-negara kawasan mulai membangun arsitektur keamanan sendiri. “Perdamaian ke depan tidak ditentukan oleh kekuatan senjata asing, tetapi oleh dialog dan integrasi kawasan,” ujarnya.

Bachtiar Nasir kemudian juga menyoroti relevansinya bagi Indonesia. Ia mendorong tokoh dan pemimpin Muslim di Tanah Air memperkuat solidaritas politik dan ukhuwah strategis. “Indonesia tidak boleh menjadi penonton. Kita harus menjadi jangkar bagi kemandirian dunia Islam,” kata Bachtiar. (E-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya