Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Dilema Vonis Pembunuh Shinzo Abe, Keadilan bagi Korban atau Simpati bagi Pelaku?

Thalatie K Yani
21/1/2026 08:28
Dilema Vonis Pembunuh Shinzo Abe, Keadilan bagi Korban atau Simpati bagi Pelaku?
Pengadilan Jepang segera menjatuhkan vonis bagi Tetsuya Yamagami, pembunuh mantan PM Shinzo Abe.(AFP)

PENGADILAN Jepang bersiap menjatuhkan vonis pada Rabu (21/1) terhadap Tetsuya Yamagami, pria yang mengguncang dunia melalui pembunuhan mantan Perdana Menteri Shinzo Abe pada Juli 2022. Meski Yamagami telah mengaku bersalah sejak awal persidangan, publik Jepang kini terbelah antara desakan hukuman berat dan simpati atas latar belakang hidupnya yang kelam.

Jaksa penuntut menuntut hukuman penjara seumur hidup atas "tindakan sangat berat" yang dilakukan pria berusia 45 tahun tersebut. Abe merupakan tokoh raksasa dalam politik Jepang, dan pembunuhannya di negara dengan tingkat kejahatan senjata api yang nyaris nol telah meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat.

"Penyiksaan Agama" sebagai Pembelaan

Dalam upaya memohon keringanan, tim pembela Yamagami berargumen klien mereka adalah korban dari "penyiksaan agama". Ibu Yamagami diketahui sangat terobsesi dengan Gereja Unifikasi, sebuah organisasi keagamaan kontroversial, hingga menyumbangkan seluruh aset keluarga senilai 100 juta yen (sekitar Rp10 miliar). Pengabdian tersebut membuat keluarga mereka bangkrut dan hancur secara ekonomi.

Dendam Yamagami terhadap Abe muncul setelah ia mengetahui keterkaitan sang mantan pemimpin dengan gereja tersebut. "Semuanya benar. Tidak ada keraguan bahwa saya melakukan ini," ujar Yamagami dengan tenang pada hari pertama persidangannya di Oktober 2025.

Jurnalis Eito Suzuki, yang memantau jalannya persidangan, menggambarkan Yamagami sebagai sosok yang memancarkan rasa "lelah terhadap dunia" dan kepasrahan. Suzuki juga mencatat momen emosional saat saudara perempuan Yamagami memberikan kesaksian mengenai penderitaan luar biasa yang mereka alami akibat penelantaran orang tua.

Dampak Luas pada Politik Jepang

Tragedi ini tidak hanya menjadi kasus pidana biasa, tetapi juga membongkar hubungan tersembunyi antara Gereja Unifikasi dengan para politisi dari Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa. Investigasi tersebut berujung pada pengunduran diri beberapa menteri kabinet dan pencabutan status badan hukum keagamaan gereja tersebut oleh pengadilan Tokyo tahun lalu.

Istri mendiang Abe, Akie Abe, mengungkapkan kesedihannya yang mendalam dalam pernyataan di pengadilan. Ia mengaku terkejut saat mengetahui bahwa suaminya hanyalah "alat" untuk membalas dendam terhadap organisasi keagamaan. "Saya hanya ingin dia tetap hidup," tuturnya emosional.

Perdebatan Publik

Sosiolog dari Queen's University Belfast, Rin Ushiyama, menilai simpati sebagian publik Jepang terhadap Yamagami berakar dari ketidakpercayaan luas terhadap agama-agama kontroversial. Namun, jaksa menilai tetap ada "lompatan logika" yang tidak bisa dibenarkan terkait mengapa kebencian terhadap gereja harus diarahkan kepada nyawa Shinzo Abe.

Kini, keputusan hakim menjadi taruhan besar. Apakah hukum akan memandang Yamagami murni sebagai pembunuh berdarah dingin, atau mempertimbangkan rantai masalah sosial yang melatarbelakangi aksi nekatnya? (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya