Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Trump Klaim Eksekusi Erfan Soltani Ditunda, Iran Beri Sinyal Garis Merah

Thalatie K Yani
15/1/2026 07:15
Trump Klaim Eksekusi Erfan Soltani Ditunda, Iran Beri Sinyal Garis Merah
Erfan Soltani(Media Sosial X)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump memberikan indikasi otoritas Iran mulai melunak terkait rencana eksekusi mati terhadap pengunjuk rasa. Hal ini terjadi setelah kasus Erfan Soltani, 26, pemuda yang ditahan dalam aksi anti-pemerintah, menarik perhatian internasional dan Departemen Luar Negeri AS.

"Kami diberitahu bahwa pembunuhan di Iran telah berhenti, dan tidak ada rencana untuk eksekusi," ujar Trump dari Oval Office pada Rabu (14/1). "Pembunuhan telah berhenti. Eksekusi telah berhenti."

Trump menegaskan informasi ini didapat dari sumber yang tepercaya. Meski demikian, ia memberikan peringatan keras bahwa AS akan sangat marah jika eksekusi tetap dilanjutkan. "Saya yakin jika itu terjadi, saya akan sangat marah," tambahnya.

Kasus Erfan Soltani: Tanpa Pengacara dan Banding

Erfan Soltani ditangkap di kediamannya di Fardis, sebelah barat Tehran, pekan lalu. Departemen Luar Negeri AS menyebut Soltani adalah satu dari 10.600 warga Iran yang ditahan hanya karena menuntut hak-hak dasar mereka.

Somayeh, anggota keluarga Soltani, mengungkapkan kepada CNN, proses hukum terhadap Erfan sangat tidak adil. Soltani tidak diizinkan memiliki pengacara atau mengajukan banding, sementara persidangannya berjalan sangat cepat dan tertutup.

“Kali ini, rezim Republik Islam bahkan tidak repot-repot dengan pengadilan sandiwara 10 menit yang biasa mereka lakukan,” tulis Departemen Luar Negeri AS melalui platform X.

Somayeh menggambarkan Erfan sebagai "pemuda yang sangat baik dan berhati hangat" yang selalu berjuang untuk kebebasan negaranya. Ia juga memohon kepada Trump agar menepati janjinya untuk melindungi rakyat Iran. "Penduduk yang tidak bersenjata mempercayai kata-kata (Trump) dan kini berada di bawah berondongan tembakan. Saya mohon, jangan biarkan Erfan dieksekusi," tuturnya.

Tekanan Militer AS dan Respon Iran

Rencana eksekusi Soltani menjadi titik krusial dalam ketegangan yang meningkat antara Washington dan Tehran. Trump sebelumnya memperingatkan bahwa AS akan mengambil "tindakan yang sangat kuat" jika otoritas Iran mulai menggantung para pengunjuk rasa.

Organisasi hak asasi manusia yang berbasis di Norwegia, Hengaw, melaporkan eksekusi Soltani memang telah ditunda, namun belum dibatalkan sepenuhnya. Keluarga masih menunggu dalam kecemasan setelah sebelumnya hanya diberikan kesempatan singkat untuk "kunjungan terakhir."

Di sisi lain, Jaksa Agung Iran Mohammad Movahedi Azad menegaskan bahwa tindakan hukum terhadap pengunjuk rasa, yang ia sebut sebagai "teroris", akan dilakukan "tanpa keringanan, belas kasihan, atau perdamaian." Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeklaim telah menerima ratusan ribu laporan dari masyarakat yang berujung pada penangkapan massal aktivis di seluruh negeri.

Dunia kini menanti apakah penundaan eksekusi ini merupakan langkah diplomasi nyata atau sekadar upaya Tehran meredam ancaman militer Amerika Serikat.(CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya