Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

9 Penyebab Mata Uang Iran Ambruk sampai Titik Terendah

 Gana Buana
13/1/2026 22:02
9 Penyebab Mata Uang Iran Ambruk sampai Titik Terendah
Nilai tukar mata uang Iran,rial, terus melemah dan sempat menyentuh level ekstrem di pasar.(Dok. AFP)

NILAI tukar mata uang Iran,rial, terus melemah dan sempat menyentuh level ekstrem di pasar, memicu kepanikan harga serta keresahan publik. Di balik angka kurs yang “merosot tajam”, ada kombinasi tekanan struktural (tahun-tahunan) dan pemicu jangka pendek (mingguan/bulanan).

Berikut penyebab utamanya, yang telah dirangkum Media Indonesia dari berbagai sumber:

1) Sanksi ekonomi yang menghambat arus devisa

Ketika akses Iran ke pasar global dan sistem keuangan dibatasi, devisa (terutama dolar) makin sulit mengalir. Imbasnya, pasokan valas seret, biaya impor naik, dan nilai mata uang lokal makin tertekan.

2) Inflasi tinggi yang “memakan” nilai uang dari dalam

Inflasi yang terus tinggi membuat rial cepat kehilangan daya beli. Pada kondisi begini, masyarakat cenderung menghindari menyimpan rial terlalu lama karena nilainya cepat menyusut.

3) Kepercayaan publik runtuh → orang “lari” ke dolar dan emas

Saat warga dan pelaku usaha tidak yakin stabilitas ekonomi terjaga, mereka mencari aset yang dianggap lebih aman, biasanya dolar, emas, atau aset keras. Lonjakan permintaan aset pelindung ini memperparah pelemahan rial.

4) Ketidakpastian kebijakan moneter dan sinyal “ganti haluan”

Perubahan pimpinan atau arah kebijakan bank sentral (terutama di tengah gejolak) sering dibaca pasar sebagai tanda situasi genting. Hasilnya: volatilitas meningkat dan pelaku pasar makin agresif membeli valas.

5) Sistem kurs berlapis (multi-rate) yang menciptakan distorsi dan rente

Ketika satu negara punya beberapa “kurs resmi” untuk kebutuhan berbeda, celah rente dan arbitrase melebar. Ini merusak efisiensi pasar, memicu tudingan “akses khusus”, serta mempersulit stabilisasi nilai tukar.

6) Reformasi subsidi & perubahan skema “kurs preferensial” yang mengerek harga barang pokok

Kebijakan subsidi dan fasilitas kurs tertentu untuk importir bisa menahan harga sementara, tetapi saat skema diubah/dicabut, harga kebutuhan bisa melompat, mendorong ekspektasi inflasi dan tekanan pada mata uang.

7) Defisit fiskal dan risiko pembiayaan defisit dengan “mesin uang”

Jika belanja negara lebih besar dari pemasukan, tekanan meningkat. Bila defisit dibiayai lewat ekspansi likuiditas/monetisasi, pasar biasanya mengantisipasi inflasi lebih tinggi, yang akhirnya menekan mata uang.

8) Risiko geopolitik yang meningkatkan “premi ketakutan” pasar

Ketegangan kawasan, ancaman konflik, dan risiko pembatasan baru membuat pelaku pasar memasang premi risiko lebih besar. Mata uang negara dengan risiko geopolitik tinggi biasanya lebih rentan terpukul.

9) Struktur ekonomi-politik yang membuat sektor swasta sulit “bernapas”

Ketika ruang gerak sektor swasta mengecil dan pelaku usaha merasa kehilangan pengaruh/akses, investasi melambat, perdagangan terganggu, dan kepercayaan pada iklim usaha turun, yang pada akhirnya ikut melemahkan mata uang.

Pelemahan rial ikut memicu protes pedagang dan warga di Teheran dan beberapa kota lain sejak akhir Desember 2025. Otoritas merespons dengan langkah keamanan dan kebijakan ekonomi (termasuk pengetatan/pengaturan pasokan barang dan komunikasi pada periode tertentu).(The Independent/The New York Times/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya