Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
HARAPAN untuk menemukan penyintas di balik runtuhnya gunungan sampah raksasa di wilayah pusat Filipina mulai memudar. Hingga Senin (12/1), otoritas setempat melaporkan jumlah korban tewas telah meningkat menjadi 11 orang, sementara puluhan lainnya masih dinyatakan hilang di bawah timbunan sampah TPA Binaliw, Cebu City.
Bencana ini terjadi pada Kamis pekan lalu, ketika gunungan sampah setinggi 20 lantai tiba-tiba roboh dan menimbun sekitar 50 pekerja sanitasi. Secara total, lebih dari 100 pekerja sedang berada di lokasi saat musibah terjadi. Hingga saat ini, tim penyelamat baru berhasil mengevakuasi 12 orang dalam kondisi hidup dan segera melarikan mereka ke rumah sakit.
Petugas pemadam kebakaran setempat, Wendell Villanueva, menyatakan peluang menemukan korban selamat setelah melewati batas kritis 72 jam sangatlah kecil.
"Kemarin, kami mendeteksi dua tanda kehidupan melalui radar khusus. Masih ada detak jantung di kedalaman 30 meter di bawah puing-puing, tetapi saat ini laporan itu sudah tidak ada lagi," ujar Villanueva kepada AFP. Ia menambahkan bahwa mustahil bagi orang untuk tetap hidup setelah tertimbun berton-ton sampah selama tiga hari.
Insiden memilukan di lahan seluas 15 hektare ini memicu gelombang kecaman terhadap sistem pengelolaan limbah di Filipina. Senator Imee Marcos secara tegas meminta investigasi mendalam dan peninjauan ulang terhadap operasional TPA Binaliw serta kondisi kerja para buruh sampah.
"Ini seharusnya tidak pernah terjadi. Kita telah melihat tragedi serupa sebelumnya, namun bahaya yang sama tetap ada. Nyawa yang hilang di Cebu menuntut jawaban yang jelas dan reformasi nyata," tegas Senator Marcos.
Menanggapi hal ini, otoritas lingkungan telah memerintahkan Prime Integrated Waste Solutions, Inc., selaku operator swasta TPA tersebut, untuk menghentikan seluruh aktivitas. Perusahaan diwajibkan menyerahkan rencana kepatuhan dalam waktu 90 hari, sementara investigasi formal untuk menentukan pihak yang bertanggung jawab terus berjalan.
Berdasarkan laporan awal dari Biro Sains Geologi dan Pertambangan, curah hujan tinggi dalam beberapa pekan terakhir diduga menjadi pemicu utama longsor karena membuat beban sampah menjadi sangat berat. Selain hujan, kondisi gunungan sampah yang masih tidak stabil dan terus bergeser sempat memaksa tim penyelamat menghentikan upaya evakuasi demi keselamatan mereka sendiri.
Di luar lokasi bencana, pemandangan memilukan terlihat saat puluhan anggota keluarga berkumpul di bawah tenda darurat, menanti kabar kerabat mereka dengan penuh kecemasan.
"Yang kami inginkan sekarang adalah menemukan mereka. Hidup atau mati, agar kami bisa merawat mereka dengan layak," tutur Jezille Matabid, yang saudara laki-lakinya masih terjebak di bawah reruntuhan.
Hingga berita ini diturunkan, fokus operasi diperkirakan akan beralih sepenuhnya dari misi penyelamatan menjadi misi pemulihan jenazah. (BBC/AFP/Z-2)
Kapal feri MV Trisha Kerstin 3 tenggelam di perairan Filipina Selatan saat menuju Pulau Jolo. Sedikitnya 15 orang tewas dan operasi SAR besar-besaran sedang berlangsung.
Kapal feri M/V Trisha Kerstin 3 tenggelam di Filipina Selatan saat menuju Pulau Jolo. Sedikitnya 8 orang tewas dan operasi penyelamatan besar-besaran tengah dilakukan.
KANTOR Imigrasi kelas I TPI Palu bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Buol dan Konsulat Filipina untuk menangani 15 warga negara Filipina yang terdampar di perairan Buol, Sulawesi Tengah.
Sementara satu kematian sudah dikonfirmasi. Dia mengidentifikasi korban tersebut sebagai seorang wanita berusia 22 tahun.
Gempa bumi M 6,7 mengguncang wilayah selatan Filipina pada Rabu (7/1). USGS memastikan tidak ada potensi tsunami dan belum ada laporan korban.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved