Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

1 Tewas Terlindas Bus Saat Protes Wajib Militer di Yerusalem

Thalatie K Yani
07/1/2026 05:32
1 Tewas Terlindas Bus Saat Protes Wajib Militer di Yerusalem
Protes kaum Yahudi ultra-Ortodoks di Yerusalem melawan undang-undang wajib militer berakhir tragis. Seorang remaja 18 tahun tewas setelah sebuah bus menabrak massa.(Media Sosial X)

AKSI unjuk rasa besar-besaran kaum Yahudi ultra-Ortodoks di Yerusalem yang menentang undang-undang wajib militer berakhir tragis, Selasa (6/1). Satu orang dilaporkan tewas dan tiga lainnya luka-luka setelah sebuah bus menabrak kerumunan massa yang memblokir jalan.

Layanan darurat Magen David Adom melaporkan bus tersebut awalnya menabrak tiga pejalan kaki sebelum akhirnya melindas seorang remaja berusia 18 tahun. Korban terjebak di bawah kendaraan dan mengalami luka fatal. "Paramedis menyatakan ia meninggal dunia di tempat kejadian," tulis pernyataan resmi lembaga tersebut.

Kronologi Kericuhan 

Aksi yang diikuti ribuan pengunjuk rasa ini awalnya berjalan sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah yang ingin memaksa kaum ultra-Ortodoks masuk ke dinas militer. Namun, situasi berubah menjadi anarkis. Berdasarkan pernyataan kepolisian, sekelompok perusuh mulai memblokir arus lalu lintas, merusak bus, membakar tempat sampah, serta menyerang petugas dan jurnalis di lokasi.

Polisi mengungkapkan bus yang terlibat kecelakaan tersebut sempat dihadang oleh massa. Sopir bus yang kini telah ditahan mengklaim dirinya diserang para perusuh sebelum insiden maut itu terjadi. Meski demikian, pihak kepolisian telah memastikan peristiwa ini murni kecelakaan dan bukan serangan teror.

Tekanan Politik bagi Netanyahu

Isu wajib militer bagi kaum religius merupakan masalah sensitif yang mengancam stabilitas pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Sejak berdirinya Israel tahun 1948, pria yang mendedikasikan waktu penuh untuk mempelajari teks Yahudi mendapatkan pengecualian dari wajib militer.

Namun, pengecualian ini kini mendapat kecaman keras dari masyarakat umum, terutama saat militer Israel menghadapi krisis tenaga kerja setelah dua tahun berperang di berbagai lini.

"Paramedis menyatakan ia meninggal dunia di tempat kejadian," ungkap badan darurat tersebut mengenai jatuhnya korban jiwa dalam aksi tersebut.

Netanyahu kini berada di posisi sulit. Di satu sisi, ia didesak oleh oposisi untuk menambah personel militer. Di sisi lain, partai-partai ultra-Ortodoks yang menjadi sekutu utamanya mengancam akan meruntuhkan koalisi jika undang-undang tersebut disahkan.

Saat ini, koalisi sayap kanan Netanyahu hanya memegang 60 dari 120 kursi di parlemen setelah partai United Torah Judaism keluar sebagai bentuk protes. Jika tekanan ini terus berlanjut, masa depan pemerintahan Netanyahu berada dalam risiko besar di tengah kondisi keamanan yang masih rapuh. (AFP/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya