Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH rangkaian ledakan bom dan dentuman akibat serangan militer Amerika Serikat mereda pada Sabtu (3/1) pagi, warga Venezuela berbondong-bondong keluar rumah.
Bukan untuk menyatakan dukungan kepada pemimpin sosialis mereka, kelompok oposisi atau bahkan Presiden Donald Trump. Mereka justru menuju apotek, supermarket, dan toko-toko bahan pokok dalam apa yang oleh sebagian orang disebut sebagai belanja panik.
Sebagian besar toko di Venezuela tetap tutup hingga menjelang subuh, sementara beberapa lainnya baru membuka pintu lebih siang, mendekati tengah hari.
"Saya tidak tahu apakah kami akan buka," kata seorang pemilik toko kelontong, seraya menjelaskan bahwa sejumlah pegawainya belum datang, sementara kerumunan pembeli telah mengantre di luar.
Warga terlihat membeli air minum, tepung jagung, mentega, keju, roti, beras, serta makanan tahan lama seperti tuna, persediaan yang dianggap penting untuk bertahan hidup jika pertempuran berlanjut selama beberapa hari.
Banyak orang ingin segera kembali ke rumah untuk berlindung, di tengah kekhawatiran akan potensi penjarahan yang pada akhirnya tidak terjadi.
Di Maracaibo, kota terbesar kedua di Venezuela, penduduk memanfaatkan kesempatan untuk mengisi bahan bakar kendaraan mereka di stasiun pengisian bahan bakar.
Persediaan BBM cukup untuk melayani ratusan mobil, sepeda motor, dan truk. Seperti sebelumnya, truk-truk milik perusahaan minyak negara PDVSA terlihat tiba untuk mengisi tangki SPBU.
Pemboman di ibu kota Caracas oleh pasukan AS berlangsung lebih dari dua jam dan dimulai sekitar pukul 2 dini hari.
Di tengah ledakan tersebut, banyak warga Venezuela menunggu serangan balasan yang sebelumnya dijanjikan oleh angkatan bersenjata dan kelompok paramiliter yang setia kepada Presiden Nicolas Maduro.
Namun, aksi balasan dari pemerintah Venezuela nyaris tidak terlihat.
Saat matahari terbit di Caracas dan kota-kota lain seperti Maracaibo, Barquisimeto, Valencia, Ciudad Bolivar, dan Margarita, cahaya pagi memperlihatkan jalanan lengang dan deretan usaha yang tutup.
Kemudian beredar kabar dari Trump melalui media sosial yang menyatakan bahwa Maduro dan istrinya, Cilia Flores, telah ditangkap oleh pasukan militer AS di Caracas dan diterbangkan ke luar negeri untuk menghadapi tuduhan kriminal narkoterorisme.
Unggahan Trump di Truth Social dengan cepat menyebar di percakapan dan grup pesan ribuan warga Venezuela, baik di dalam maupun di luar negeri.
Seorang perempuan mengaku menangis bahagia. Perempuan lain memilih bersikap hati-hati, menunggu perubahan politik negaranya yang kerap terjadi secara mendadak.
Tak banyak warga yang benar-benar memahami pernyataan awal pascapemboman dari para pejabat tinggi sekutu Maduro.
Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello menyerukan ketenangan; Menteri Pertahanan Vladimir Padrino menegaskan kesetiaan dalam menghadapi serangan yang disebutnya keji, sementara Wakil Presiden Delcy Rodríguez menuntut Amerika Serikat membuktikan bahwa Maduro masih hidup.
Tidak ada seruan aksi dari militer, dan warga juga tidak diminta melancarkan perang gerilya atas nama proyek sosialis nasional, ini sesuatu yang sebelumnya dikatakan Maduro akan dilakukan jika terjadi agresi asing. Seolah-olah musuh telah menghilang dan tidak ada lagi yang perlu diperangi di siang hari.
"Berlindunglah, berhati-hatilah di rumah," pesan seorang pria Venezuela kepada teman dan keluarganya di Maracaibo.
Kekhawatiran untuk mengekspresikan pendapat secara terbuka di media sosial pun meningkat. Teman-teman saling mengingatkan agar menghapus percakapan jika harus keluar rumah, karena polisi dikhawatirkan akan memeriksa ponsel untuk mencari tanda-tanda ketidaksetiaan.
Di saluran televisi pemerintah Venezolana de Television, pernyataan para gubernur dan wali kota yang bersekutu dengan Maduro disiarkan bersamaan dengan tayangan langsung pria-pria berseragam dan puluhan pendukung pemerintah yang mengecam serangan AS.
Namun seiring waktu berlalu, kesunyian tetap menyelimuti jalan-jalan. Tidak terlihat kerumunan massa, tidak terdengar seruan perang, dan tidak ada tuntutan balas dendam terhadap pihak lawan.
Tak lama setelah tengah hari, banyak warga menyaksikan konferensi pers Trump dari kediamannya di Mar-a-Lago. Dalam pernyataan itu, Trump mengonfirmasi operasi militer untuk menangkap Maduro dan istrinya di sebuah benteng di Caracas, serta mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan mengelola negara tersebut melalui sebuah tim dan kekuatan militernya hingga tercapai transisi yang aman.
Pernyataan Trump yang disampaikan dari jarak ribuan kilometer itu memang mengakhiri ketidakpastian mengenai keberhasilan operasi militer di Caracas, tetapi sekaligus memunculkan keraguan baru tentang masa depan politik Venezuela. Hal ini disampaikan ilmuwan politik Carmen Beatriz Fernandez dalam sebuah program di media independen.
Pernyataan Trump bahwa Menteri Luar Negeri Marco Rubio akan bekerja sama dengan Wakil Presiden Delcy Rodriguez untuk melakukan apa yang mereka anggap perlu untuk menjadikan Venezuela kembali unggul justru menimbulkan kebingungan luas di kalangan masyarakat.
Banyak warga yang selama bertahun-tahun berharap runtuhnya rezim Maduro mengaku tak memahami arah peristiwa tersebut.
"Saya gila dan bingung," kata seorang pegawai perusahaan minyak swasta berusia 45 tahun, menanggapi pernyataan Trump tentang Rodriguez dan ketertarikan AS terhadap minyak Venezuela.
"Bagaimana mungkin Delcy akan tetap menjadi presiden?" tanya seorang perempuan pegawai negeri, seraya menyinggung tuduhan pelanggaran hak asasi manusia terhadap Rodriguez dan kondisi ekonomi negara yang terpuruk.
Seorang teman perempuan itu mencoba menenangkannya dalam percakapan pribadi, berspekulasi bahwa pernyataan presiden AS tersebut masih masuk akal.
"Dia menerima persyaratan Trump," katanya.
"Dia menyerah," pungkasnya.
(Miamiherald/fer/E-4)
ANGGOTA Komisi VI DPR RI Kawendra Lukistian menilai krisis politik di Venezuela menjadi bukti nyata bahaya konfrontasi langsung terhadap hegemoni kekuatan besar dunia.
WAKIL Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta, memandang penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh militer Amerika Serikat (AS) sebagai persoalan yang melampaui urusan dua negara.
KOREA Utara (Korut) mengumumkan telah melakukan uji coba rudal hipersonik pada Minggu (4/1).
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut memiliki kepentingan strategis terhadap Venezuela.
MENTERI Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino menyatakan, bahwa sebagian besar tim pengamanan Presiden Nicolas Maduro tewas dalam operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved