Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Protes Meluas di AS Menyusul Operasi Militer dan Penangkapan Presiden Venezuela

Ferdian Ananda Majni
04/1/2026 14:03
Protes Meluas di AS Menyusul Operasi Militer dan Penangkapan Presiden Venezuela
Presiden Venezuela Nicolas Maduro.(Antara/Xinhua)

BERBAGAI aksi protes digelar di sejumlah wilayah Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (3/1), menyusul operasi militer yang diperintahkan Presiden Donald Trump di Venezuela serta penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.

Aksi demonstrasi berlangsung di kota-kota besar seperti Washington, DC, New York, Boston, Chicago, dan Los Angeles. Di masing-masing lokasi, massa yang jumlahnya mencapai sekitar 100 orang turun ke jalan, meneriakkan slogan dan mengibarkan bendera Venezuela. 

Sebagian demonstran tetap bertahan meski cuaca dingin dan hujan, sebagai bentuk penolakan terhadap operasi militer tersebut.

Meski ada warga Venezuela di AS yang menyambut baik kabar itu, banyak peserta aksi justru membawa poster bertuliskan pesan seperti "Tidak Ada Perang di Venezuela" dan "AS jangan campuri urusan Amerika Latin". 

Seruan tersebut mencerminkan kekhawatiran yang meningkat terhadap kemungkinan konflik yang dipicu kepentingan minyak, mengingat Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.

"Yang dilihat Amerika Serikat hanyalah tanda dolar," kata Kameron Hurt, seorang penyelenggara dari Partai untuk Sosialisme dan Pembebasan, kepada CNN saat berada di lokasi protes di Los Angeles. 

"Mereka tidak melihat manusia sungguhan yang berusaha menjalani kehidupan yang baik. Itulah mengapa mereka membom negara ini di tengah malam," tambahnya.

Nada kritik serupa juga disampaikan kelompok anti-perang di Chicago. 

"Sementara AS melancarkan perang imperialis, infrastruktur publik dan program sosial kita di dalam negeri menderita," kata Komite Anti-Perang Chicago, salah satu pengorganisir aksi di kota tersebut.

"Kami tidak ingin uang publik kami digunakan untuk membiayai perang, dan kami tidak ingin pemerintah kami melancarkan perang melawan negara berdaulat Venezuela!," lanjutnya.

Seiring rencana pengadilan terhadap Maduro terkait dakwaan narkoba dan senjata yang dijadwalkan pekan depan, penyelenggara menyebutkan bahwa gelombang protes lanjutan telah direncanakan berlangsung pada Minggu (4/1).

Di sisi lain, warga Venezuela di luar negeri mengungkapkan perasaan campur aduk antara kaget dan harapan setelah operasi militer AS dan penangkapan Maduro. 

"Ibu saya merasakan semuanya," ujar Marisela Lara, warga Amerika keturunan Venezuela yang tinggal di Miami. 

"Saya hanya bersyukur orang tua saya tidak tinggal terlalu dekat dengan tempat bom itu jatuh," sebutnya.

"Kami takut, tetapi berharap. Tadi malam mungkin merupakan awal dari akhir mimpi buruk selama 30 tahun," tambahnya.

Pandangan berbeda disampaikan warga Amerika keturunan Venezuela yang kini tinggal di Spanyol. 

"Seingat saya, kami telah hidup di bawah kediktatoran yang telah menindas, membunuh dan mencuri dari rakyat Venezuela. Berkat AS, hari ini mungkin menandai salah satu hari paling penting dalam sejarah Venezuela dan kesempatan baru untuk memulai kembali dan membangun kembali apa yang pernah menjadi negara besar," katanya kepada CNN.

Namun, tidak sedikit yang menyuarakan kecemasan atas ketidakpastian situasi di dalam negeri Venezuela, terutama menjelang proses hukum terhadap Maduro di AS. 

"Terlalu banyak ketidakpastian," kata Daniel Castillo, warga Amerika keturunan Venezuela yang tinggal di New York City. 

"Saya rasa tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi karena kita masih memiliki Diosdado," tambahnya.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Venezuela, Diosdado Cabello, mengatakan pemerintah tengah mengevaluasi kerusakan akibat serangan tersebut dan meminta warga untuk tetap tenang.

"Harapan kami adalah serangan terus berlanjut sampai mereka menyingkirkan semuanya," ujar seorang warga Venezuela lain yang tinggal di New York City.

"Setelah bertahun-tahun tidak percaya, momen ini terasa tidak nyata, harapan akhirnya, dengan kegembiraan dan ketidakpastian yang bercampur," pungkas Beatriz Sigala, warga Amerika keturunan Venezuela. (CNN/Fer/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya