Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
BEBERAPA jam setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan operasi militer untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Presiden Donald Trump mengirimkan peringatan kepada Meksiko bahwa negara itu bisa menjadi target intervensi berikutnya.
Serangan mendadak di Caracas ini terjadi setelah Trump sebelumnya menyampaikan versi pribadi dari Doktrin Monroe dan menegaskan kesediaannya untuk campur tangan di negara asing, meski sempat berjanji pada kampanye America First.
"Sesuatu harus dilakukan terhadap Meksiko," kata Trump kepada Fox & Friends pada Sabtu (3/1), menanggapi pertanyaan mengenai negara tetangga Amerika di selatan.
Trump menuduh Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, gagal mengendalikan negaranya, dengan menyatakan bahwa kartel narkoba yang memegang kendali.
"Kita bisa bersikap sopan secara politik dan mengatakan, Oh ya, dia memang menjalankannya. Dia sangat takut pada kartel," ujar Trump.
"Mereka yang mengendalikan Meksiko. Saya telah berkali-kali bertanya kepadanya, apakah dia ingin kita menyingkirkan kartel-kartel itu. Tidak, tidak, tidak, Tuan Presiden, tidak, tidak, tidak, tolong. Jadi kita harus melakukan sesuatu," tambahnya.
Meksiko merupakan salah satu dari beberapa negara yang mengecam intervensi AS di Venezuela, menilai langkah itu membahayakan stabilitas kawasan.
"Amerika Latin dan Karibia adalah zona perdamaian, yang dibangun atas dasar saling menghormati, penyelesaian sengketa secara damai, dan pelarangan penggunaan dan ancaman kekerasan, sehingga tindakan militer apa pun sangat membahayakan stabilitas regional," tegas Kementerian Luar Negeri Meksiko, menurut terjemahan pernyataannya.
Serangan terhadap Venezuela juga menuai kritik dari sekutu Trump yang kini menjadi lawannya, Anggota Kongres Marjorie Taylor Greene (R-Ga), yang mengecam penangkapan Maduro sebagai upaya pengalihan perhatian dari ancaman kartel narkoba Meksiko.
"Fentanyl bertanggung jawab atas lebih dari 70% kematian akibat overdosis narkoba di AS, dan fentanyl berasal dari kartel Meksiko yang dibuat dengan prekursor kimia dari Tiongkok dan diselundupkan melintasi perbatasan AS-Meksiko," tulis Greene di X.
"Kartel Meksiko terutama dan sebagian besar bertanggung jawab atas kematian warga Amerika akibat narkoba mematikan," tambahnya.
Greene mempertanyakan konsistensi kebijakan Trump, menyinggung aksi militer terhadap Venezuela. "Jika aksi militer AS dan perubahan rezim di Venezuela benar-benar tentang menyelamatkan nyawa warga Amerika dari narkoba mematikan, mengapa pemerintahan Trump belum mengambil tindakan terhadap kartel Meksiko?," lanjutnya.
Ia juga mengecam keputusan Trump baru-baru ini mengampuni mantan presiden Honduras, Juan Orlando Hernandez, sembari membual soal penangkapan Maduro.
Trump menegaskan pada Sabtu (3/1) bahwa Amerika Serikat akan mengelola Venezuela dalam jangka pendek dan tidak takut untuk menempatkan pasukan di negara itu.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemerintahan AS tidak akan ragu untuk terus hadir secara aktif di kawasan tersebut. (Axios/Fer/I-1)
PEMERINTAH Indonesia melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Caracas terus memantau secara saksama perkembangan situasi keamanan di Venezuela.
PENGAMAT Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI), Prof Suzie Sudarman mengkritik langkah Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
PRESIDEN Venezuela Nicolas Maduro dilaporkan tiba di sebuah pangkalan militer Amerika Serikat (AS) setelah ditangkap pasukan AS dalam operasi di Caracas.
BERBAGAI aksi protes digelar di sejumlah wilayah Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (3/1), menyusul operasi militer yang diperintahkan Presiden Donald Trump di Venezuela.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Sabtu (3/1) mengumumkan bahwa AS akan menjalankan pemerintahan Venezuela setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved