Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Hidup Lontang Lantung, Migran Somalia Terjebak di Yaman

Dhika Kusuma Winata
02/12/2025 20:44
Hidup Lontang Lantung, Migran Somalia Terjebak di Yaman
Warga Somalia.(Al Jazeera)

DI kawasan kumuh dalam Kota Aden, ada area yang dijuluki Little Mogadishu. Di sana, ribuan migran Somalia hidup dalam kondisi serba kekurangan. Rumah-rumah darurat berdinding kain terpal, jalanan tanah yang dipenuhi sampah, dan ketiadaan fasilitas dasar menggambarkan kerasnya kehidupan mereka di Yaman.

Yaman menjadi negara termiskin di Jazirah Arab yang kini lebih menjadi persinggahan daripada tujuan. Bagi para migran dari Afrika Timur, Yaman sejatinya hanyalah lintasan menuju negara-negara kaya minyak di Teluk, tempat mereka berharap dapat bekerja sebagai buruh bangunan atau pekerja rumah tangga. 

Namun, penjagaan ketat di sepanjang perbatasan membuat sebagian besar dari mereka terperangkap di Aden, ibu kota de facto wilayah yang dikuasai pemerintah Yaman. Pada siang hari, para migran berpencar mencari pekerjaan serabutan. Mereka berdiri di pinggir jalan, menawarkan tenaga di tengah kota yang porak-poranda oleh perang lebih dari satu dekade. 

Pengangguran dan kerawanan pangan menjadi keseharian. Banyak migran akhirnya mengais tumpukan sampah mencari sisa makanan untuk bertahan hidup.

"Ada hari kami makan, ada hari kami serahkan pada Tuhan. Begitulah hidup," ujar Abdullah Omar, ayah empat anak berusia 29 tahun.

Setahun lalu, Omar nekat membayar penyelundup hingga US$500 demi memboyong keluarganya keluar dari Somalia. Tujuannya sederhana yaitu hidup lebih layak.

Namun, Yaman justru menjadi tempat yang membuatnya terpuruk. Dia mencuci mobil demi beberapa dolar sehari. Penghasilan itu tak sebanding dengan harapannya yang tinggi sebelum hengkang dari Somalia.

Bertahun-tahun bekerja sebagai buruh bangunan di Mogadishu membuatnya yakin pengalaman itu bisa membantunya di Yaman.
Akan tetapi, perang saudara yang berkecamuk sejak 2014 menjadikan Yaman negeri yang terbelah antara kelompok Houthi dan pemerintah. Infrastruktur hancur, jutaan warga mengungsi, dan ekonomi Yaman nyaris lumpuh.

"Di sini saya tidak punya apa-apa. Tidak ada kerja, tidak ada uang, dan anak-anak tidak bisa sekolah," tutur Omar.

Dia kemudian bergabung dalam program repatriasi sukarela PBB. Menurut data PBB, sekitar 17.000 migran Afrika tiba di Yaman pada Oktober melonjak 99% dibanding bulan sebelumnya.

Sebagian besar dari mereka berasal dari Djibouti dan Somalia. Dari total 61.000 pengungsi serta pencari suaka yang terdaftar, 63% warga Somalia.

Masalah juga meliputi Kota Aden berupa pengangguran ekstrem. Lebih dari 19,5 juta warga Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan, termasuk hampir 5 juta pengungsi internal. Krisis ekonomi bertambah parah akibat anjloknya nilai mata uang, penghentian ekspor minyak, serta minimnya pendanaan internasional.

Di sisi lain, Somalia belum pulih sepenuhnya. Konflik dengan kelompok Al-Shabaab masih membara di banyak wilayah. Meski begitu, stabilitas di Mogadishu beberapa tahun terakhir memicu geliat pembangunan dan peluang kerja yang mulai menarik kembali minat para migran yang terdampar di Yaman.

Survei UNHCR menyebut 56% migran Somalia yang memilih pulang mengaku tidak ada kesempatan kerja di Yaman. "Banyak yang ingin kembali, tetapi tidak mampu membayar penyelundup atau membeli tiket pesawat," kata koordinator program pemulangan sukarela PBB, Oweis Al-Azzan.

Program itu menyediakan transportasi gratis dan bantuan tunai awal bagi keluarga yang kembali. Tahun ini, lebih dari 500 warga Somalia dipulangkan. Tiga penerbangan tambahan direncanakan hingga akhir tahun membawa sekitar 450 orang. 

Salah seorang yang bersiap kembali pulang ialah Ahmed Abu Bakr Marzouk. Pria berusia 58 tahun itu telah menetap di Yaman selama seperempat abad. Di negara itu, dia bekerja, menikah dua kali, membesarkan anak-anak, dan bahkan membangun dua rumah di Mogadishu dari hasil keringatnya di Aden.

Namun, perang mengubah segalanya. Dengan kondisi Yaman yang makin memburuk, Marzouk melihat tanah kelahiran sebagai pilihan yang lebih rasional. 

"Sudah tiga atau empat tahun ini tidak ada pekerjaan," katanya. "Saudara-saudara saya bekerja di pertanian di sana. Kalau keadaan aman, saya akan kembali. Kalau tidak, saya tidak akan pergi," imbuh Marzouk.

Bagi para migran Somalia di Yaman, mimpi menuju negara Teluk kini terasa mustahil. Bertahan di Yaman pun tak menjanjikan masa depan karena tak ada kepastian. (AFP/Dhk/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya