Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Perang di Dalam Perang: Babak Baru Konflik Yaman

Dhika Kusuma Winata
31/12/2025 14:13
Perang di Dalam Perang: Babak Baru Konflik Yaman
Peta Yaman dan perbatasan dengan Arab Saudi.(Dok. Brittanica)

KONFLIK Yaman memasuki fase baru yang kian rumit. Di tengah perang berkepanjangan melawan kelompok Houthi yang didukung Iran sejak 2014, kini muncul pertarungan internal antarfaksi bersenjata yang sama-sama berada di bawah payung pemerintah, namun disokong kekuatan regional berbeda. 

Eskalasi terbaru berpotensi mengguncang gencatan senjata rapuh yang telah bertahan lebih dari tiga tahun. Ketegangan melibatkan faksi-faksi bersenjata yang secara longgar berafiliasi dengan pemerintah Yaman, tetapi masing-masing mendapat dukungan dari Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi.

Situasi memanas ketika UEA pada Selasa mengumumkan penarikan sisa pasukannya dari Yaman, menyusul permintaan Arab Saudi agar mereka hengkang dalam waktu 24 jam. Langkah itu diambil di tengah ofensif besar-besaran kelompok separatis yang didukung Abu Dhabi dan menolak mundur dari wilayah yang telah mereka kuasai.

Situasi Terkini

Sepanjang bulan ini, Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC), kelompok separatis yang didukung UEA sekaligus mitra penting pemerintah, menguasai sebagian besar Provinsi Hadramawt yang kaya sumber daya, serta wilayah luas di Provinsi Mahrah. Arab Saudi, sebagai penopang utama pemerintah Yaman, merespons keras.

Puncak ketegangan terjadi ketika koalisi militer pimpinan Saudi melancarkan serangan terhadap dugaan pengiriman senjata dan kendaraan tempur yang diklaim berasal dari UEA untuk separatis. Tuduhan tersebut dibantah Abu Dhabi.

Pascaserangan, Dewan Kepresidenan Yaman membubarkan pakta pertahanan dengan UEA dan menetapkan status darurat selama 90 hari. Serangan itu menyusul penggerebekan terhadap posisi STC pada Jumat sebelumnya, setelah Riyadh mendesak separatis menarik pasukan.

Pada hari yang sama, UEA mengumumkan penarikan sisa pasukannya, sementara juru bicara STC menegaskan pihaknya akan bertahan. Seorang pejabat militer Yaman menyebut sekitar 15.000 petempur yang didukung Saudi telah terkonsentrasi di dekat perbatasan, meski belum ada perintah maju.

Situasi ini juga berpotensi memperlebar jarak antara dua sekutu utama Amerika Serikat di kawasan, Arab Saudi dan UEA.

Apa yang Diinginkan STC?

Pengamat menilai STC tengah mendorong otonomi yang lebih besar atas wilayah yang mereka kuasai, bahkan tidak menutup kemungkinan menuju kemerdekaan penuh. Dipimpin Aidaros Alzubidi, STC merupakan koalisi kelompok yang ingin menghidupkan kembali Yaman Selatan, negara yang pernah berdiri pada 1967-1990 sebelum bersatu dengan Yaman Utara. Kini, STC mengendalikan hampir seluruh wilayah bekas Yaman Selatan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya