Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Radiasi Cesium-137 di Udang dan Sepatu Indonesia sampai AS

Dhika Kusuma Winata
14/11/2025 17:45
Radiasi Cesium-137 di Udang dan Sepatu Indonesia sampai AS
Ilustrasi.(Freepik)

RANGKAIAN temuan radiasi rendah pada kiriman udang beku dan sepatu dari Indonesia di sejumlah pelabuhan Amerika Serikat (AS) menjadi sorotan. Awalnya, petugas bea cukai di Los Angeles mencatat ada kontainer udang dan sepatu bermerek Nike yang memancarkan jejak radiasi.

Dilaporkan Japan Times, temuan serupa muncul di pelabuhan lain di AS dalam hitungan hari lalu merembet ke Eropa ketika otoritas Rotterdam, Belanda, mendeteksi radiasi pada sepatu Adidas yang sedang menuju Swiss.

Penelusuran kemudian mengarah ribuan kilometer ke Asia Tenggara, tepatnya kawasan Modern Cikande Industrial Estate di pinggiran Jakarta. Di sinilah, menurut pejabat setempat, sumber masalahnya terungkap. Cesium-137 diduga terlepas dari smelter kecil yang mengolah besi tua.

Hanya, belum jelas apakah insiden itu akibat kelalaian atau tindakan sengaja. Partikel-partikel halus isotop radioaktif tersebut lalu menyebar ke lebih dari 20 pabrik di kawasan itu, termasuk fasilitas pengolahan udang milik salah satu eksportir terbesar Indonesia dan pabrik sepatu yang memproduksi untuk berbagai merek global.

Dampaknya langsung terasa. Toko besar seperti Walmart dan Kroger menarik produk-produk terkait. Ratusan kontainer udang dari wilayah barat Indonesia tertahan di laut dan ekspor udang sempat lumpuh.

Situasi makin rumit ketika, pada akhir Agustus, kontainer berisi cengkih dari Indonesia yang tiba di Long Beach, California, juga dinyatakan positif terkontaminasi. Padahal, cengkih itu berasal dari kebun jauh dari kawasan industri Cikande.

Indonesia memperketat pemeriksaan di pelabuhan dan dua kali ditemukan kontainer bubuk seng radioaktif asal Filipina yang ditujukan ke kawasan industri tersebut. Hubungan antarperistiwa ini masih belum pasti, tetapi rangkaian temuan Cesium-137 dalam waktu berdekatan dianggap tidak lazim.

Kasus tersebut memunculkan dugaan apakah bahan radioaktif lebih dulu menyusup ke rantai ekspor Indonesia tanpa terdeteksi dan apakah negara lain yang sistem deteksinya lebih lemah juga ikut terdampak.

Indonesia selaku anggota G20 dan pemasok utama udang, nikel, serta komoditas strategis lain memikul taruhannya sendiri. Kontaminasi tersebut dianggap mengguncang kepercayaan pada dua industri ekspor bernilai miliaran dolar AS dan menimbulkan pertanyaan soal keselamatan industri nasional.

Kebocoran cesium memang pernah terjadi di negara lain tetapi kasusnya jarang. Pasalnya, Cesium-137 biasanya dihasilkan dari reaksi fisi nuklir. Jumlah besar pernah terlepas ke atmosfer saat uji coba senjata nuklir era 1950-an dan 1960-an serta kecelakaan reaktor seperti Chernobyl dan Fukushima.

Bahan tersebut juga dipakai dalam alat ukur industri dan perangkat medis lama. Ketika barang-barang itu masuk jalur daur ulang tanpa pemeriksaan, risiko penyebaran radiasi meningkat.

Meski level radiasi dalam kiriman ke AS masih jauh di bawah batas bahaya langsung, paparan berulang diyakini tetap berisiko karena Cesium-137 dapat menumpuk di jaringan tubuh dan meningkatkan potensi kanker.

Penyelidik menduga rangkaian peristiwa bermula pada paruh pertama Mei. Di pabrik kecil bernama PT Peter Metal Technology, besi tua yang tercampur sumber cesium diduga ikut dilebur. Dalam tungku panas, cesium terurai dan terlepas ke udara sebelum terbawa angin dan menyebar. Limbah dari pabrik itu juga dipakai sebagai timbunan tanah di sekitar kawasan, memperluas kontaminasi.

Di Pelabuhan Tanjung Priok, kesempatan mencegah kiriman berbahaya itu ditengarai terlewat. Dua kontainer dikabarkan sempat memicu alarm radiasi tetapi tidak jelas tanda itu diabaikan atau tak dibaca.

Jauh dari Indonesia, stasiun pemantauan radionuklida di Malaysia dan Kepulauan Cocos, Australia, bagian jaringan global CTBTO, mendeteksi peningkatan radiasi. Laporan awal dari Departemen Energi AS menyebut temuan di dua lokasi berjauhan itu menunjukkan pelepasan udara berskala signifikan.

Salah satu teori menyebut material cesium terbawa angin melintas Selat Sunda dan turun bersama hujan di daratan Sumatra lalu meresap ke tanah dan terserap akar pohon cengkih. Namun penyelidikan masih berjalan.

Tiga perusahaan besar terkait dalam rantai ekspor yang terpapar yaitu PT Bahari Makmur Sejati, eksportir utama udang whiteleg dengan nilai ekspor sekitar US$2 miliar per tahun; PT Nikomas Gemilang, produsen sepatu merek global di bawah Pou Chen Group; dan PT Natural Java Spice, eksportir cengkih ke berbagai pasar dunia.

Catatan otoritas AS menyebut sebagian besar udang yang terkontaminasi dikembalikan ke Indonesia sedangkan sepatu tetap berada di Amerika. Nike menyatakan sedang menelusuri masalah tersebut.

Di Rotterdam, otoritas setempat mengatakan bagian sepatu yang terpapar radiasi akan dikirim ke fasilitas pengolahan limbah nuklir. Adidas menyebut sebagian kecil produk terpapar sedikit melebihi batas tertentu. Produk Adidas tersebut dipastikan tidak masuk ke pasar dan seluruhnya akan dimusnahkan.

Insiden akibat besi tua tercemar cesium memang jarang terjadi tetapi bukan pertama kali. Pada 1998, alat ukur industri yang ikut dilebur di pabrik baja Spanyol memicu alarm radiasi di Prancis, Swiss, Jerman, dan Italia. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik