Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

Borno Nigeria Kini Lepas dari Bayang-Bayang Boko Haram

Ferdian Ananda Majni
13/11/2025 14:19
Borno Nigeria Kini Lepas dari Bayang-Bayang Boko Haram
Anak Al Jazeera.(Al Jazeera)

SUASANA di ibu kota negara bagian Borno, Nigeria, kini jauh berbeda dibanding satu dekade lalu ketika ledakan dan tembakan menjadi suara malam yang biasa. 

Pendeta Thomas Marama, yang dulu berdoa setiap kali keluar rumah, kini merasa lebih tenang. 

"Anda selalu takut akan terjadi ledakan," katanya kepada AFP dari kompleks gerejanya di Maiduguri.

Warga setempat memiliki ingatan berbeda tentang masa tergelap konflik Boko Haram. Marama menyebut tahun 2010-2014 sebagai masa paling berat, sementara seorang pemilik restoran lokal menyebut 2011-2015 dan seorang imam menilai 2015–2016. 

Namun semua sepakat bahwa masa itu dipenuhi baku tembak, bom bunuh diri dan ketegangan tanpa akhir.

Kini, ketakutan itu perlahan memudar. Seorang koresponden AFP yang berkunjung baru-baru ini mencatat bahwa Maiduguri belum mengalami serangan besar sejak 2021. 

"Kami berdoa agar perdamaian kembali," kata Umar Mohammad, pedagang sayur berusia 32 tahun yang kini bisa bermain sepak bola malam hari bersama teman-temannya. Ini pemandangan yang dulu mustahil terjadi.

Kota yang dulu menjadi pusat kekerasan kini kembali hidup. Sejak 2016, anak-anak muda mulai menikmati hiburan malam, sementara sepeda dan taksi roda tiga berwarna kuning cerah lalu-lalang di jalan beraspal baru. 

Pasar ramai, orang-orang makan ikan bakar dan bermain snooker hingga larut malam. Stasiun pengisian kendaraan listrik bahkan sedang dibangun.

Namun, sisa konflik masih terasa. Mobil pikap militer masih berpatroli, dan larangan sepeda motor tetap diberlakukan karena sering digunakan oleh militan. 

Keamanan yang relatif stabil hari ini, menurut para peneliti, diperoleh lewat jam malam ketat dan pos pemeriksaan yang dulu tersebar di seluruh kota. Kelompok hak asasi manusia menyebut masa itu juga diwarnai penangkapan massal dan pembunuhan di luar hukum.

"Di sinilah Anda memiliki semua lembaga negara," ucap Malik Samuel, peneliti konflik dari Good Governance Africa (GGA) di Abuja.

"Ini disengaja, mengamankan ibu kota," ujarnya.

Dia menambahkan bahwa para jihadis belum menyerah, tetapi peningkatan intelijen membuat serangan ke Maiduguri semakin sulit dilakukan.

Meski demikian, wilayah pedesaan Borno masih bergolak. Menurut GGA, kelompok Negara Islam Provinsi Afrika Barat (ISWAP) menyerang sedikitnya 17 pangkalan militer Nigeria dalam enam bulan pertama 2025, memanfaatkan drone, serangan malam dan dukungan pejuang asing.

Di sisi lain, kehidupan belum sepenuhnya pulih bagi mereka yang tinggal di kamp pengungsi seperti El Miskin di pinggiran kota. 

"Tidak ada bisnis, tidak ada lahan pertanian, tidak ada kondisi hidup yang layak, tidak ada sekolah," kata ketua kamp, Hashim El Miskin. 

Pemerintah berencana menutup kamp-kamp dan memulangkan pengungsi ke desa-desa asal, tetapi ribuan keluarga masih bertahan. 

Sekitar 700.000 anak di seluruh Borno dilaporkan putus sekolah akibat kemiskinan dan konflik.

Tingkat pengangguran yang tinggi juga menimbulkan kekhawatiran baru. Idris Suleiman Gimba, pemilik restoran berusia 54 tahun, mengenang masa-masa ketika keamanan begitu ketat hingga orang tak diizinkan masuk masjid tanpa dikenal. 

Kini ia melihat perubahan positif meski masih bertahap. 

"Kami melihat keadaan kembali normal dan itu akan membutuhkan waktu," ujarnya. 

"Borno diberkati," pungkasnya. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya