Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
SEORANG diplomat Tiongkok memicu ketegangan diplomatik di Jepang akibat pernyataan yang dianggap mengancam Perdana Menteri Sanae Takaichi, menyusul komentarnya baru-baru ini mengenai Taiwan. Xue Jian, Konsul Jenderal Tiongkok di Osaka, membalas dengan keras Sanae di platform media sosial X dalam sebuah postingan yang kini telah dihapus, intinya ia mengancam 'menggorok leher'.
Kontroversi muncul setelah Takaichi, yang dilantik bulan lalu, mengatakan pada parlemen bahwa blokade militer Tiongkok terhadap Taiwan, yang diklaim sebagai wilayah Tiongkok, kemungkinan akan menciptakan situasi yang mengancam kelangsungan hidup” bagi Jepang sehingga memaksa negara itu Tokyo untuk merespons dengan mengerahkan Pasukan Pertahanan sendiri.
Tiongkok mengklaim kedaulatan atas Taiwan, meskipun Partai Komunis Tiongkok belum pernah menguasai pulau tersebut dan Taipei dengan tegas menolak klaim Beijing yang telah lama ada. Pemimpin Tiongkok telah berulang kali menyatakan bahwa unifikasi menjadi hal yang tak terhindarkan dan tidak menyingkirkan kemungkinan penggunaan kekuatan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing telah meningkatkan tekanan terhadap kepemimpinan pulau tersebut, termasuk dengan mengadakan latihan berskala besar yang mensimulasikan blokade.
Serangan besar-besaran Tiongkok terhadap Taiwan dianggap akan mengganggu rantai pasokan dan secara signifikan memperkuat posisi militer Tiongkok daripada Jepang yang bergantung pada rute maritim aman untuk 99 persen perdagangan mereka.
Pemerintah Jepang mengumumkan pada Senin (11/11) bahwa pihaknya telah mengajukan protes resmi kepada Beijing terkait pernyataan Xue. Juru bicara pemerintah Minoru Kihara mengatakan kepada wartawan bahwa pernyataan tersebut “sangat tidak pantas bagi kepala misi diplomatik Tiongkok.”
Pernyataan Xue menuai kritik luas di kalangan netizen Jepang maupun anggota parlemen, dengan beberapa pihak menuntut permintaan maaf publik atau mendesak agar diplomat tersebut dinyatakan sebagai “persona non grata” dan dideportasi dari negara tersebut.
Dalam posting lanjutan pada Minggu, Xue mendesak masyarakat untuk “menghentikan spekulasi, perluasan, dan distorsi yang sewenang-wenang” terhadap perkataannya.
“Saya ingin menekankan kembali bahwa akar masalahnya terletak pada para politisi Jepang yang, mengabaikan pernyataan penolakan kami yang berulang dan tegas, dengan santai dan sering menyatakan bahwa ‘kondisi darurat Taiwan adalah kondisi darurat Jepang,’” katanya tanpa menyebut nama Takaichi. Diplomat tersebut menambahkan bahwa klaim tersebut “pasti akan merupakan” ancaman kekerasan terhadap Tiongkok. (Newsweek/H-4)
Angka kelahiran Jepang 2025 jatuh ke rekor terendah 705.809 bayi. Pemerintah fokus naikkan pendapatan generasi muda untuk atasi krisis demografi yang kian akut.
Tiongkok melarang ekspor barang dwiguna ke 20 entitas pertahanan Jepang, termasuk Mitsubishi Heavy Industries dan Kawasaki Heavy Industries.
Seorang donatur misterius menyerahkan 21 kg emas batangan senilai Rp60 miliar ke Pemerintah Kota Osaka, Jepang, untuk perbaikan pipa air tua.
Korban merupakan bagian dari rombongan berjumlah 24 orang yang dijadwalkan melakukan kunjungan kerja.
Program ini dirancang untuk memperluas akses lapangan kerja bagi masyarakat Sumut, baik di dalam maupun luar negeri.
Jepang tangkap kapal nelayan Tiongkok di Nagasaki. Ketegangan meningkat seiring sikap keras PM Sanae Takaichi terkait isu Taiwan dan ancaman militer Beijing.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved