Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
OTORITAS Amerika Serikat mengungkapkan detail baru terkait insiden penembakan di fasilitas Immigration and Customs Enforcement (ICE) di Dallas, Texas, Rabu (24/9). Aksi penembakan ini menewaskan seorang tahanan ICE dan melukai dua lainnya.
Pihak berwenang menyatakan pelaku, yang kemudian diketahui bernama Joshua Jahn, 29, asal Fairview, Texas, memiliki motif yang “secara jelas anti-ICE”. Meski demikian, penyelidikan tidak menemukan keterkaitan Jahn dengan organisasi atau kelompok tertentu.
Menurut Nancy Larson, Jaksa Federal Sementara untuk Distrik Utara Texas, pelaku menyiapkan serangan ini dengan perencanaan yang matang. Di kediamannya, polisi menemukan catatan-catatan tangan yang berisi rencana penyerangan, target di area fasilitas, serta pesan bernada kebencian terhadap ICE dan pemerintah federal.
Dalam salah satu catatannya, Jahn menulis: “Ya, hanya saya sendiri.” Ia juga menyebut pegawai ICE sebagai “orang-orang yang hanya datang untuk mengambil gaji kotor”.
“Dari catatan itu, jelas pelaku ingin memaksimalkan kerusakan terhadap personel ICE dan fasilitas, bukan terhadap para tahanan,” kata Larson.
Rekaman kamera pengawas menunjukkan Jahn mengendarai mobil dengan tangga besar sekitar pukul 03.00 dini hari. Tangga tersebut diyakini digunakan untuk naik ke atap gedung sebelum melancarkan serangan.
Penembakan dimulai sekitar pukul 06.30, saat rentetan peluru mengenai gedung fasilitas dan sebuah van transportasi ICE. Salah satu tahanan tewas di dalam kendaraan, sementara dua lainnya mengalami luka parah.
Otoritas FBI menyebut pelaku bertindak sendiri. Senjata yang digunakan dalam penyerangan dilaporkan dibeli secara legal pada Agustus lalu. Jahn kemudian ditemukan tewas di lokasi dengan dugaan bunuh diri.
Larson menambahkan, Jahn berharap aksinya menimbulkan “teror nyata” bagi agen ICE, membuat mereka hidup dalam tekanan dan rasa takut. Selain itu, ditemukan pula catatan berisi kebenciannya terhadap pemerintah federal.
Seorang pejabat ICE, Marcos Charles, mengatakan Jahn menggunakan aplikasi pelacakan ICE untuk memantau pergerakan agen federal. Sementara itu, FBI menemukan pelaku sempat mengunduh dokumen dari Dallas County Office of Homeland Security & Emergency Management yang berisi daftar fasilitas milik Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS).
Joseph Rothrock, agen khusus FBI di Dallas, menegaskan penyelidikan masih berlangsung. “Kami tidak menemukan bukti pelaku terkait dengan kelompok tertentu, namun motif kebenciannya terhadap ICE jelas terlihat,” ujarnya.
Insiden ini menambah sorotan terhadap keamanan fasilitas federal di Texas serta ancaman yang dihadapi oleh aparat penegak hukum imigrasi di AS. (The Guardian/Z-2)
Badan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai Amerika Serikat atau Immigration and Customs Enforcement (ICE) merupakan institusi mengeksekusi kebijakan keras Trump terhadap imigran.
RAZIA imigrasi oleh otoritas federal Immigration and Customs Enforcement (ICE) di Los Angeles, negara bagian California, Amerika Serikat memicu kecemasan luas di kalangan para imigran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved