Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH klinik fertilisasi in vitro (IVF) besar di Australia meminta maaf setelah memberikan embrio yang salah kepada seorang perempuan, yang kemudian melahirkan bayi milik pasangan lain. Kesalahan ini disebut akibat “human error” atau kesalahan manusia.
Monash IVF, yang mengoperasikan lebih dari 100 klinik di seluruh Australia, menyatakan staf mereka merasa “sangat terpukul” atas insiden ini, yang diyakini sebagai kasus pertama yang terjadi di negara tersebut.
“Atas nama Monash IVF, saya ingin menyampaikan betapa kami benar-benar menyesali apa yang telah terjadi,” kata CEO Michael Knaap dalam pernyataan tersebut. “Kami akan terus mendukung para pasien di masa yang sangat sulit ini.”
Monash IVF tidak mengungkapkan identitas pasangan-pasangan yang terlibat, maupun menjawab pertanyaan tentang kapan bayi tersebut lahir atau siapa yang saat ini memiliki hak asuh, demi menghormati privasi para pihak.
Kesalahan ini terjadi di klinik Monash IVF yang berlokasi di Brisbane, negara bagian Queensland, di mana hukum menetapkan ibu yang melahirkan dan pasangannya adalah orang tua sah dari anak tersebut secara hukum. Belum jelas apakah ada dari kedua pasangan yang mencurigai adanya kekeliruan sebelum pihak klinik menemukan kesalahan tersebut.
Alex Polyakov, profesor klinis dari University of Melbourne sekaligus konsultan kesuburan di Melbourne’s Royal Women’s Hospital, mengatakan bahwa ini merupakan insiden pertama semacam ini dalam 40 tahun sejarah IVF di Australia.
“Kerangka regulasi Australia untuk teknologi reproduksi berbantu dikenal secara internasional karena ketat dan menyeluruh,” ujarnya dalam komentar tertulis.
“Kemungkinan terjadinya kejadian seperti ini sangat kecil hingga sulit diukur secara statistik.”
Kesalahan ini ditemukan pada Februari setelah pasangan yang melahirkan meminta pemindahan embrio sisa mereka ke penyedia layanan IVF lain. Setelah ditemukan satu embrio tambahan dalam kompartemen penyimpanan mereka, penyelidikan internal menemukan mereka menerima embrio yang salah.
Belum jelas bagaimana kesalahan ini bisa terjadi, namun menurut pernyataan dari Monash IVF, embrio milik pasien lain secara keliru dicairkan dan ditanamkan ke tubuh ibu yang melahirkan.
CEO Monash IVF, Michael Knaap, mengatakan ia yakin ini merupakan “kejadian yang terisolasi.”
“Kami sedang memperkuat semua sistem pengamanan di seluruh klinik kami – kami juga telah menugaskan investigasi independen dan berkomitmen untuk menerapkan semua rekomendasinya secara menyeluruh,” tambahnya.
Sarah Jefford, seorang pengacara Australia yang fokus menangani kasus surrogacy, donasi sel reproduksi, dan co-parenting, mengatakan ia menerima panggilan dari klien-klien yang khawatir dengan pengobatan IVF mereka sendiri.
“Kita tidak memiliki preseden hukum untuk hal ini di Australia,” katanya. “Hukum kita mengasumsikan orang tua yang melahirkan adalah orang tua sah dari seorang anak, namun hal ini bisa dipertanyakan ketika orang tua genetik tidak memberikan persetujuan atas penggunaan embrio mereka.”
Ia mengatakan keputusan mengenai masa depan anak tersebut akan dibuat berdasarkan “kepentingan terbaik anak,” namun dampaknya akan bersifat “seumur hidup bagi semua pihak yang terlibat.”
Fertility Society of Australia and New Zealand (FSANZ) dalam pernyataannya menyatakan mereka “menyadari adanya insiden serius ini,” dan mereka memikirkan keluarga-keluarga yang terdampak. Organisasi itu menambahkan insiden seperti ini sangat jarang dan memerlukan “standar transparansi tertinggi.”
Kesalahan serupa juga pernah terjadi di Amerika Serikat, termasuk kasus baru-baru ini di mana seorang perempuan kulit putih menemukan dirinya diberikan embrio yang salah setelah melahirkan bayi berkulit hitam.
Ini bukan pertama kalinya Monash IVF dituduh melakukan kesalahan. Tahun lalu, perusahaan ini setuju membayar 56 juta dolar Australia (sekitar Rp560 miliar) untuk menyelesaikan gugatan class action dari 700 mantan pasien.
Para pasien menuduh perusahaan tersebut tidak menginformasikan risiko hasil positif palsu dalam pengujian genetik pada embrio, yang membuat mereka membuang embrio yang sebenarnya masih bisa berkembang. (CNN/Z-2)
Sebanyak 67 duta bahasa Indonesia akan diterjunkan ke 53 institusi pendidikan, mencakup sekolah dan universitas di berbagai wilayah Australia.
Parlemen Australia meloloskan UU pengetatan senjata api dan program buyback nasional menyusul penembakan maut di Bondi Beach yang menewaskan 15 orang.
Rentetan serangan hiu melanda pesisir New South Wales, Australia. Otoritas peringatkan warga menjauhi laut dan sungai akibat air keruh pasca-hujan lebat.
Tragis, seorang turis perempuan asal Kanada ditemukan tewas di Pulau K'gari, Australia. Jenazahnya ditemukan dikelilingi sekitar 10 dingo di tepi pantai.
Skandal sensor melanda Adelaide Festival setelah Dr. Randa Abdel-Fattah dilarang tampil. Sebanyak 180 penulis, termasuk Jacinda Ardern, mundur sebagai bentuk protes.
Negara bagian Victoria, Australia, tetapkan status darurat akibat kebakaran hutan hebat. Satu orang tewas dan ratusan rumah hancur saat api melahap lahan seluas dua kali London.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved