Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Badan Energi Internasional (IEA) mengungkapkan metana yang menyebabkan pemanasan global yang dihasilkan oleh industri bahan bakar fosil, meningkat mendekati rekor tertinggi pada 2023 meskipun ada teknologi yang tersedia untuk mengekang polusi ini tanpa biaya.
“Mengurangi emisi metana, yang merupakan peringkat kedua setelah karbon dioksida dalam kontribusinya terhadap pemanasan global, sangat penting untuk memenuhi target internasional mengenai perubahan iklim, “kata IEA.
Badan yang bermarkas di Paris ini mengatakan kegagalan untuk mengekang kebocoran metana dari proyek-proyek minyak dan gas adalah “peluang besar yang terlewatkan” untuk mencegah kerugian dan mengurangi emisi gas rumah kaca yang sangat besar.
Baca juga : Sekjen PBB Ajak Semua Negara Tekan Emisi Gas Rumah Kaca
“Emisi metana dari pengoperasian bahan bakar fosil masih sangat tinggi. Tidak ada alasan bagi emisi untuk tetap setinggi ini,” kata kepala ekonom energi IEA Tim Gould kepada wartawan menjelang peluncuran laporan tahunan Global Methane Tracker.
Namun ia menyatakan harapan bahwa tahun ini dapat menandai titik balik jika negara-negara dan perusahaan bahan bakar fosil mewujudkan janji-janji mereka untuk mengurangi polusi menjadi kebijakan yang nyata. (lihat grafis)
Metana bertanggung jawab atas sekitar 30% pemanasan global yang dialami saat ini, menurut Program Lingkungan PBB.
Baca juga : Menteri LHK Dorong Y20 Tunjukkan Aksi Lingkungan dan Iklim Konkret
Meskipun sekitar 40% metana dihasilkan dari sumber alami, terutama lahan basah, sisanya disebabkan oleh aktivitas manusia.
Pertanian adalah sumber utama penghasil metana yang dikeluarkan dari sendawa hewan ternak seperti sapi dan domba. Metana juga dihasilkan selama penanaman padi. Selain pertanian, sektor energi juga menghasilkan gas metana yang bocor dari infrastruktur energi, seperti jaringan pipa gas, dan dari pelepasan yang disengaja selama pemeliharaan.
Polusi metana bahan bakar fosil ini telah meningkat selama tiga tahun berturut-turut, kata laporan IEA, seraya menambahkan bahwa dua pertiga dari emisi tersebut berasal dari 10 negara, termasuk Tiongkok yang memproduksi metana yang terkait dengan batu bara, dan Amerika Serikat yang menggunakan gas, serta Rusia. (AFP/M-3)
PERINGATAN mengenai ancaman perubahan kiamat iklim kembali menguat seiring dengan ditemukannya fenomena geologi yang tidak biasa di Greenland.
“Menurut Data KLHK (2023) sampah makanan sebesar 41,4% dari total sampah di Indonesia. Setiap orang menyumbang sampah makanan sebesar 115–184 kg per tahun,”
TERBITNYA Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 dinilai sebagai tonggak penting bagi Indonesia dalam membangun ekonomi hijau.
PT Mitra Kiara Indonesia (MKI), perusahaan terafiliasi Semen Indonesia Group (SIG), mengambil langkah penting menuju dekarbonisasi industri.
WMO laporkan kadar CO2 global capai rekor tertinggi pada 2024. Lonjakan emisi ini mempercepat pemanasan bumi dan ancam keseimbangan iklim dunia.
PT Astra Agro Lestari meraih Anugerah Ekonomi Hijau berkat dua inovasi strategis di industri kelapa sawit. Dua inovasi itu meliputi teknologi methane capture dan pupuk organik Astemic.
Lautan dunia menyerap panas ekstrem tahun 2025, memecahkan rekor selama sembilan tahun berturut-turut. Simak dampak mengerikannya bagi iklim global.
Peneliti Oxford mengungkap bagaimana bentuk garis pantai dapat menjebak spesies laut saat suhu memanas. Garis pantai Timur-Barat tingkatkan risiko kepunahan.
PERINGATAN mengenai ancaman perubahan kiamat iklim kembali menguat seiring dengan ditemukannya fenomena geologi yang tidak biasa di Greenland.
Industri minyak dan gas (migas) global kini berada di bawah mikroskop regulasi lingkungan yang semakin ketat, terutama terkait emisi gas rumah kaca.
Studi terbaru mengungkap bagaimana pemanasan global di zaman Paleogen mengubah pola hujan menjadi tidak menentu. Apakah ini gambaran masa depan Bumi?
Penelitian terbaru mengungkap bagaimana retakan es Arktik dan polusi ladang minyak memicu reaksi kimia berbahaya yang mempercepat pencairan es kutub.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved