Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
RATU Rania dari Yordania mengecam para pemimpin negara Barat karena menerapkan standar ganda dengan membiarkan Israel melakukan pembunuhan massal di Palestina dalam pemboman yang sedang berlangsung di Gaza.
“Masyarakat di seluruh Timur Tengah, termasuk Yordania, kami terkejut dan kecewa dengan reaksi dunia terhadap bencana yang terjadi. Dalam beberapa minggu terakhir, kami telah melihat standar ganda yang mencolok di dunia,” ujarnya, dikutip dari AFP, Rabu (25/10).
Standar ganda itu, ujar sang ratu, diperlihatkan ketika barat ramai-ramai mendukung Israel yang menjadi sasaran serangan kelompok pejuang Palestina, Hamas, pada 7 Oktober 2023.
Baca juga : Tekanan Dunia pada Israel Meningkat, Setelah Pembantaian di Rafah
Serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya itu, bahkan disebut-sebut telah menewaskan lebih dari 1.400 orang dan menculik lebih dari 200 warga Israel.
Sebaliknya, negara barat ramai-ramai diam ketika Israel memborbardir Gaza tanpa ampun dengan dalih untuk membalas Hamas, tapi yang terjadi justru tewasnya lebih dari 6.000 warga sipil Gaza yang sebagian besar adalah bayi, anak-anak, ibu hamil dan lansia. “Kita melihat keheningan di dunia,” cetus Ratu Rania.
Israel membalas dengan serangan udara tanpa henti terhadap daerah kantong kecil Palestina yang menurut Kementerian Kesehatan Hamas di Gaza telah menewaskan 6.546 orang, sebagian besar warga sipil dan banyak dari mereka adalah anak-anak.
Baca juga : PBB Ingatkan Ledakan Kematian Anak Gaza karena Bencana Kelaparan
Mereka juga memberlakukan pengepungan total terhadap 2,4 juta penduduk Gaza yang dilanda krisis kemanusiaan dan terancam berujung bencana, ketika akses air, listrik dan obat diputus secara arogan oleh Israel.
"Apakah kita diberitahu bahwa membunuh sebuah keluarga, seluruh keluarga, dengan todongan senjata adalah tindakan yang salah, namun tidak masalah jika kita menembaki mereka sampai mati?" Ratu bertanya.
Banyak pemerintah negara-negara Barat telah berulang kali dan secara terbuka menyuarakan dukungan mereka terhadap Israel dan mendesak Israel untuk menghormati hukum internasional. Namun, Israel terus melakukan pemboman dan menyiapkan serangan darat yang dikatakan bertujuan untuk menghancurkan Hamas dan menyelamatkan para sandera.
Baca juga : AS Ingin Gencatan Senjata Sementara di Gaza, Hamas Ogah
Bersama Rusia, Yordania menjadi salah satu dari beberapa negara yang meminta pertemuan Majelis Umum PBB, pekan lalu, karena kebuntuan Dewan Keamanan PBB dalam menghadapi arogansi Israel. Namun, hasilnya tidak seperti yang diharapkan
Dalam pertemuan penting itu, Amerika Serikat telah memveto rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata demi kemanusiaan sebagai solusi konflik Israel-Hamas. AS berkilah resolusi tersebut tidak mengakui hak Israel untuk membela diri.
Sekjen PBB Antonio Guterres mengungkapkan rakyat Palestina telah menderita karena pelanggaran hukum internasional yang jelas yang dilakukan Israel, dengan tidak mengindahkan aturan perang internasional. Namun, Israel justru berbalik marah kepada PBB.
Israel dan sekutunya sejauh ini menolak seruan gencatan senjata, yang menurut Amerika Serikat, hanya akan menguntungkan Hamas. (Z-4)
Ratu Rania tampak sangat bahagia dan penuh kasih setelah putra sulungnya, Pangeran Mahkota Hussein, dan istrinya, Putri Rajwa, menyambut kelahiran Putri Iman.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengonfirmasi bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menerima undangan untuk menghadiri KTT Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian Gaza.
Keikutsertaan Indonesia di Board of Peace berisiko dimanfaatkan sebagai legitimasi politik bagi agenda yang tidak sejalan dengan nilai yang diperjuangkan terkait kemerdekaan Palestina
Langkah baru Israel perketat kontrol di Tepi Barat menuai kecaman global. Kebijakan ini dinilai melanggar hukum internasional dan mematikan solusi dua negara.
BERGABUNGNYA Indonesia dalam Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian Gaza yang diusung Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, masih menjadi perdebatan.
PIMPINAN Pusat Muhammadiyah mengingatkan pemerintah agar berhati-hati dalam mengambil komitmen lanjutan di Board of Peace (BoP), terutama terkait rencana keanggotaan tetap.
PIMPINAN Pusat Muhammadiyah meminta Pemerintah Indonesia mengambil sikap kritis, aktif, dan terukur di Board of Peace (BoP), agar tetap sejalan dengan kemerdekaan palestina
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved