Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
SUHU Panas di Kanada Timur memecahkan rekor dengan mendekati suhu 30 derajat Celsius (86 Fahrenheit). Hal ini menimbulkan kekhawatiran dari para ahli dan masyarakat yang kesulitan menghadapi cuaca ekstrem yang semakin buruk akibat perubahan iklim.
"Belum pernah terdengar sebelumnya suhu seperti ini pada bulan Oktober," ungkap meteorolog Environment Canada, Jean-Philippe Begin. "Meskipun sesekali terjadi cuaca hangat, namun panas ekstrem seperti ini sangat jarang terjadi."
Tiga hari terakhir, suhu panas terjadi di Quebec dan provinsi tetangga. Pada Rabu, suhu di montreal mencapai 29,3 derajat Celsius, melampaui rekor tahun 2005 yang mencapai 26,7 derajat.
Baca juga: Kanada Memilih Greg Fergus sebagai Ketua DPR Pertama yang Berkulit Hitam
Di puncak Gunung Royal, sebuah gunung di pusat kota, dedaunan musim gugur yang berwarna merah terang, oranye, dan kuning digoyangkan angin yang terasa seperti angin musim panas. "Ini benar-benar membuat kita berpikir," kata pelari Marcello Barsalou sambil membawa tas air di punggungnya.
Banyak wisatawan yang terkesan dengan pemandangan kota yang luas mengakui bahwa mereka menikmati kesempatan terakhir untuk merasakan musim panas sebelum suhu turun. "Kami tidak mengharapkan hal ini," kata salah satu wisatawan.
Baca juga: 23 Personel Angkatan Darat India Hilang usai Banjir Bandang di Sikkim
"Rasanya sangat aneh, terutama di Kanada," kata wisatawan asal Prancis, Christine Boileau.
Namun, wisatawan Prancis lainnya, Andre Martin, 78, merasa khawatir dengan gelombang panas di musim gugur ini. Suhu diprediksi akan kembali normal selama akhir pekan, dengan perkiraan salju di beberapa bagian utara Kanada, menurut Begin.
Dia juga memperingatkan peristiwa cuaca ekstrem, termasuk gelombang panas, akan semakin sering terjadi dan lebih parah seiring berjalannya waktu.
Di seluruh dunia, suhu panas memecahkan rekor. Musim panas yang sangat panas dan September yang tidak sesuai musimnya. Tahun ini diperkirakan akan menjadi tahun terpanas dalam sejarah manusia.
"Suhu rata-rata global dari Januari hingga September sekitar 1,4 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan dengan periode 1850-1900, hampir mencapai target pemanasan sebesar 1,5 derajat Celsius yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris tahun 2015," menurut Layanan Perubahan Iklim Copernicus dalam laporan yang dirilis pada hari Kamis.
Suhu rata-rata global pada periode Januari sampai September ini juga lebih tinggi sekitar 0,05 derajat Celsius, dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2016, yang merupakan tahun terhangat yang pernah tercatat.
Fenomena El Nino, yang menghangatkan perairan di Pasifik selatan dan menyebabkan cuaca yang lebih panas di daerah lain, kemungkinan akan membuat tahun 2023 menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat dalam tiga bulan mendatang.
Para ilmuwan memperkirakan bahwa dampak terburuk dari El Nino saat ini akan dirasakan pada akhir tahun 2023 dan tahun-tahun berikutnya. (AFP/Z-3)
BMKG juga mencatat potensi hujan di Kalimantan Tengah dalam sepekan ke depan masih tergolong rendah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan cuaca hari ini dan peringatan dini cuaca ekstrem untuk 11 November 2025.
Dinas Kesehatan Kota Padang menyarankan kepada warga untuk mengurangi beraktivitas di luar ruangan saat matahari terik.
Suhu panas ini, pastinya bisa memunculkan dehidrasi yang akan dialami oleh sebagian besar orang.
BMKG menyebut suhu panas yang sempat melanda sebagian wilayah Indonesia mulai menurun dibandingkan pekan sebelumnya.
SUHU udara panas diprakirakan akan terjadi hingga akhir Oktober 2025.
Perubahan iklim global kini menjadi realitas ilmiah yang tidak terbantahkan dan berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana di berbagai wilayah, termasuk Sumatra.
Analisis global terhadap 31.000 spesies pohon mengungkap tren mengkhawatirkan: spesies pohon yang tumbuh lambat mulai punah, digantikan pohon cepat tumbuh yang rapuh.
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan pemanasan laut, diskusi tentang energi dan kelautan kini tidak lagi berdiri sendiri.
Peneliti mengungkap mekanisme seluler yang membantu tanaman tetap tumbuh meski cuaca ekstrem. Temuan ini menjadi kunci masa depan ketahanan pangan global.
Meski perubahan iklim mengancam es laut, beruang kutub di Svalbard justru ditemukan lebih sehat dan gemuk. Apa rahasianya?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved