Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMANASAN global secara bertahap meningkatkan intensitas curah hujan ekstrem di tempat yang lebih tinggi. Ini membuat dua miliar orang yang tinggal di atau hilir pegunungan berisiko lebih besar terkena banjir dan tanah longsor. Ini dikatakan para peneliti, Rabu (28/6).
Setiap derajat celsius pemanasan meningkatkan kepadatan hujan besar sebesar 15% pada ketinggian di atas 2.000 meter. Mereka melaporkan itu dalam jurnal Nature.
Selain itu, setiap tambahan ketinggian 1.000 meter menambah 1% lagi curah hujan. Dunia dengan sekitar 3 derajat celsius lebih panas dari tingkat praindustri akan melihat kemungkinan banjir yang berpotensi menghancurkan berlipat ganda hampir setengahnya.
Baca juga: Seperti Anjing, Serigala Kenali Suara Manusia yang Familiar
Temuan itu menggarisbawahi kerentanan infrastruktur tidak dirancang untuk menahan peristiwa banjir ekstrem, penulis memperingatkan. Permukaan bumi telah menghangat 1,2 derajat celsius. Ini cukup untuk memperkuat hujan yang memecahkan rekor yang membuat sebagian besar Pakistan terendam air musim panas lalu dan sebagian California awal tahun ini.
Pada tren kebijakan saat ini, planet ini akan menghangat 2,8 derajat celsius pada akhir abad ini, menurut panel penasihat ilmu iklim IPCC PBB. Studi baru--berdasarkan data yang mencakup 70 tahun terakhir dan proyeksi model iklim--menemukan dua pendorong utama di balik peningkatan kejadian curah hujan ekstrem di ketinggian di dunia yang memanas.
Baca juga: Kutub Utara Menghangat, Karibu dan Muskoxen Perlambat Hilangnya Keanekaragaman
Yang pertama ialah lebih banyak air. Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa setiap kenaikan 1 derajat celsius meningkatkan jumlah kelembapan di atmosfer hingga tujuh persen.
Sejak 1950-an, hujan deras menjadi lebih sering dan intens di sebagian besar dunia. Ini menurut konsorsium World Weather Attribution (WWA) yang mengungkap dampak perubahan iklim pada peristiwa cuaca ekstrem tertentu, termasuk gelombang panas, kekeringan, dan badai tropis.
Curah hujan ekstrem lebih umum dan intens karena perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia di Eropa, sebagian besar Asia, Amerika Utara bagian tengah dan timur, dan sebagian Amerika Selatan, Afrika, dan Australia.
Faktor kedua yang diungkap peneliti lebih mengejutkan. "Ini pertama kali seseorang melihat peristiwa curah hujan yang intens itu jatuh sebagai hujan atau salju," kata penulis utama Mohammed Ombadi, seorang peneliti di Laboratorium Nasional Lawrence Berkeley di California, kepada AFP.
"Tidak seperti hujan salju, curah hujan memicu limpasan lebih cepat, menyebabkan risiko banjir, bahaya tanah longsor, dan erosi tanah yang lebih tinggi." Ombadi berspekulasi bahwa tingkat yang lebih tinggi dari salju berubah menjadi hujan yang diamati antara 2.500 dan 3.000 meter disebabkan oleh curah hujan di ketinggian itu yang terjadi tepat di bawah titik beku.
Daerah pegunungan dan dataran banjir yang berdekatan kemungkinan akan mengalami dampak terbesar dari peristiwa curah hujan ekstrrm di dalam dan sekitar pegunungan Himalaya dan Pasifik Amerika Utara, menurut penelitian tersebut. Temuan hanya terfokus pada belahan bumi utara karena kurangnya data pengamatan dari bawah khatulistiwa.
Daerah yang paling terkena dampak harus menyiapkan rencana adaptasi iklim yang kuat. "Kita perlu mempertimbangkan peningkatan curah hujan ekstrem dalam desain dan pembangunan bendungan, jalan raya, rel kereta api, dan infrastruktur lain jika kita ingin memastikannya tetap berkelanjutan dalam iklim lebih hangat," kata Ombadi.
Daerah berisiko tinggi perlu dihindari sama sekali, tambahnya, atau dibangun dengan solusi teknik yang dapat melindungi masyarakat yang tinggal di sana. (AFP/Z-2)
BMKG mengeluarkan peringatan dini potensi hujan disertai kilat dan angin kencang di Jabodetabek hari ini. Cek jadwal dan wilayah terdampak di sini.
Data yang dihimpun BPBD Kabupaten Badung hingga Selasa (24/2) pukul 09.00 Wita sejak Senin (23/2) pukul 18.00 Wita, menyebutkan ada 8 kejadian banjir di Kuta dan 1 di wilayah Kuta Selatan.
BMKG memprakirakan cuaca hujan dengan intensitas lebat disertai petir dan angin kencang di Batam pada siang hingga malam hari, Jumat (20/2).
BMKG beri peringatan dini potensi hujan lebat di Sumatra Utara pada Rabu (18/2). Cek wilayah terdampak mulai dari Medan hingga Simalungun di sini.
BMKG menyampaikan prakiraan cuaca di Jakarta akan ujan hari ini, Senin 16 Februari 2026 siang hingga sore hari.
BMKG menyatakan bahwa dinamika atmosfer yang masih signifikan dalam beberapa hari ke depan berpotensi meningkatkan risiko terjadinya bencana hidrometeorologi.
BNPB menyebur memasuki awal Maret, bencana hidrometeorologi masih mendominasi di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Jawa Timur (Jatim).
BMKG mengingatkan nelayan agar selalu memperhatikan informasi prakiraan cuaca terbaru sebelum melaut dan tidak memaksakan aktivitas apabila kondisi dinilai berisiko.
KEPALA Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, menyampaikan curah hujan pada Maret 2026 dan musim arus mudik Lebaran 2026 masih tergolong tinggi.
BMKG mengeluarkan peringatan dini potensi hujan disertai kilat dan angin kencang di Jabodetabek hari ini. Cek jadwal dan wilayah terdampak di sini.
Kondisi cuaca di Jawa Tengah masih diguyur hujan ringan-sedang secara merata pada Senin (2/3), bahkan cuaca ekstrem meningkat di 25 daerah.
KONDISI cuaca di sejumlah lokasi di Bali masih belum normal. Selain masih diliputi mendung dan hujan ringan juga berhembus angin cukup kencang hingga menumbangkan pohon.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved