Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
Sebanyak 84 pejabat teras Rusia membuat petisi yang meminta Presiden Vladimir Putin mengundurkan diri pada Senin (12/9). Selain mereka terancam dipecat juga aksi itu menimbulkan sanksi hukum.
Seruan agar Presiden Rusia mundur muncul di tengah klaim kecurangan suara dalam pemilihan lokal dan regional akhir pekan ini. Ditambah lagi kemajuan besar-besaran oleh pasukan Kyiv yang menandai kemunduran terbesar bagi invasi Moskow di Ukraina.
“Tindakan Presiden Putin merugikan masa depan Rusia dan warganya. Kami menuntut pengunduran diri Vladimir Putin dari kantor Presiden Federasi Rusia,” demikian bunyi petisi yang dibagikan di Twitter seorang Deputi Distrik Semyonovsky, St. Petersburg, Ksenia Torstrem.
Salah satu pejabat perwakilan St. Petersburg, Nikita Yuferef juga menyuarakan tuntutan serupa kepada Putin. Yuferev merupakan satu dari setidaknya 84 pejabat lokal Rusia yang mendukung petisi mendesak Putin mundur sebagai presiden. Petisi itu menganggap Putin telah mengkhianati dan merugikan negara.
Akibatnya, ia menilai jabatannya akan ditarik dengan cara pembubaran dewan oleh gubernur. Pasalnya aksi tersebut tidak disukai oleh Kremlin.
Anggota dewan distrik lainnya, Dmitry Palyuga yang menandatangani petisi ini mengaku pengadilan telah menjatuhkan denda 47.000 rubel (Rp11,3 juta). Empat anggota dewan lokal Smolninskoye juga diminta hadir di pengadilan dalam dua hari ke depan dengan tuduhan serupa.
Petisi itu merupakan puncak dari aksi yang dilakukan puluhan pejabat perwakilan daerah yang meminta Duma atau parlemen Rusia memecat Putin. Alasannya Putin telah merugikan negara mulai dari militer hingga perekonomian gegara sanksi Barat imbas invasi Rusia ke Ukraina.
Petisi ini diikuti politisi Rusia berhaluan liberal. Desakan ini didorong setelah dugaan kecurangan terjadi dalam pemilihan lokal dan regional.
Palyuga mengatakan dia memperkirakan pejabat Rusia yang mendukung petisi akan terus meningkat. "Tentu saja, apa yang terjadi sekarang telah berhasil sesuai dengan agenda kami. Banyak orang yang menyukai Putin mulai merasa dikhianati. Saya pikir semakin sukses tentara Ukraina beroperasi, semakin banyak orang seperti itu (yang mendukung petisi)," katanya.
Merespons petisi itu, juru bicara Istana Kepresidenan Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan sudut pandang kritis seperti ini ditoleransi dalam batas-batas hukum yang ada.
"Selama mereka tetap berada di dalam hukum, ini pluralisme, tapi garisnya sangat-sangat tipis, orang harus sangat berhati-hati di sini," ucap Peskov. (The Moskow/OL-12)
KEPALA Dana Investasi Langsung Rusia Kirill Dmitriev, pada Selasa (27/1), mengatakan bahwa penarikan pasukan Ukraina dari Donbas dapat mendorong perdamaian di Ukraina.
Kremlin sebut Uni Eropa inkompeten dan tolak dialog dengan Kaja Kallas terkait perang Ukraina. Moskow pilih jalur komunikasi langsung dengan AS tanpa melibatkan UE.
Perundingan damai Ukraina-Rusia di Abu Dhabi, Emirat Arab, berakhir tanpa kesepakatan di tengah serangan masif rudal Rusia ke Kyiv yang memutus listrik 1,2 juta rumah warga.
Amerika Serikat menilai Rusia dan Ukraina mencatat kemajuan penting setelah sepakat melanjutkan perundingan damai langsung di Abu Dhabi, meski konflik dan perbedaan utama masih membayangi.
Serangan besar Rusia menghantam Kyiv dan Kharkiv, menewaskan satu orang dan melukai sedikitnya 23 lainnya. Serangan drone dan rudal terjadi di tengah upaya diplomasi damai.
Jet tempur Jepang cegat pengebom nuklir Rusia Tu-95MS di Laut Jepang. Ketegangan meningkat di tengah sengketa Kepulauan Kuril dan penguatan aliansi militer AS-Jepang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved