Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
INGGRIS sedang mencoba untuk memverifikasi laporan bahwa Rusia telah menggunakan senjata kimia dalam serangan di Kota Mariupol, Ukraina.
Sebelumnya, para pejabat Barat telah menyatakan keprihatinan bahwa Rusia dapat menggunakan langkah-langkah yang lebih ekstrem, termasuk senjata kimia.
"Laporan bahwa pasukan Rusia mungkin telah menggunakan bahan kimia dalam serangan terhadap orang-orang Mariupol. Kami bekerja segera dengan mitra untuk memverifikasi detailnya," tulis Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss di Twitter.
"Setiap penggunaan senjata semacam itu akan menjadi eskalasi yang tidak berperasaan dalam konflik ini dan kami akan meminta pertanggungjawaban Putin dan rezimnya," ucapnya.
Anggota parlemen Ukraina Ivanna Klympush mengatakan Rusia telah menggunakan zat yang tidak diketahui di Mariupol dan orang-orang mengalami gagal napas. "Kemungkinan besar senjata kimia!" cicitnya di Twitter.
Baca juga: Ukraina Bersiap untuk Menangkal Serangan Baru Militer Rusia
Di aplikasi perpesanan Telegram, seorang ajudan Wali Kota Mariupol menulis bahwa serangan kimia saat ini belum dikonfirmasi. "Kami menunggu informasi resmi dari militer," tulis Petro Andryushchenko.
Sebelumnya pada Senin, batalion Azov Ukraina mengklaim sebuah pesawat tak berawak Rusia telah menjatuhkan zat beracun pada pasukan dan warga sipil di Mariupol.
Pasukan itu juga mengklaim bahwa orang-orang itu mengalami gagal napas dan masalah neurologis.
"Tiga orang memiliki tanda-tanda yang jelas keracunan oleh bahan kimia perang, tetapi tanpa konsekuensi bencana," kata pemimpin batalion Andrei Biletsky kemudian dalam pesan video di saluran Telegramnya sendiri.
Dia menuduh Rusia menggunakan senjata kimia selama serangan di pabrik metalurgi Azovstal yang besar di kota itu. Namun, AFP tidak dapat memverifikasi klaim tersebut.
Sekretaris Pers Pentagon AS John Kirby mengatakan pada Senin malam bahwa Washington mengetahui laporan serangan kimia di kota strategis itu, tetapi tidak dapat mengonfirmasinya. (AFP/Nur/OL-09)
KABAR bohong atau hoaks mengenai pemberlakuan penguncian wilayah (lockdown) di Kent, Inggris, mulai Mei 2026 akibat wabah meningitis, beredar luas di media sosial.
Wabah meningitis MenB di Inggris terkait klaster kampus. Kenali gejala awal, cara penularan, dan langkah pencegahannya.
UKHSA melaporkan 29 kasus penyakit meningokokus di Kent, Inggris, dengan dua korban jiwa. Otoritas kesehatan terus lakukan vaksinasi dan pemberian antibiotik.
TIM perencana militer dari Inggris dilaporkan tengah bekerja sama dengan militer Amerika Serikat (AS) untuk menyusun langkah membuka kembali Selat Hormuz.
Pemerintah AS menginginkan Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Australia, Kanada, yordania, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Teluk untuk bergabung dalam koalisi tersebut.
Presiden AS Donald Trump memicu kontroversi dengan menyeret NATO ke konflik Selat Hormuz. Jerman dan Inggris ragu, sementara ancaman ranjau Iran kian nyata.
Bagi warga negara ganda AS-Iran, kedutaan menegaskan bahwa mereka harus menggunakan paspor Iran untuk keluar dari negara tersebut.
Presiden AS Donald Trump menyatakan percaya Menteri Pertahanan Pete Hegseth, tidak memerintahkan serangan kedua terhadap kapal tersangka penyelundup narkoba di Karibia.
PERDANA Menteri Denmark Mette Frederiksen, pemegang presidensi Uni Eropa mempertimbangkan opsi sanksi maupun bentuk tekanan lain terhadap Israel atas serangan di Gaza
Faktor risiko penyakit jantung pada populasi dewasa muda sama dengan mereka yang berusia lebih tua, yaitu obesitas, merokok, diabetes atau kadar gula darah tinggi,
Namun, pada saat yang sama, Moskow terus melancarkan serangan udara terhadap warga sipil Ukraina.
Menteri Keamanan Dalam Negeri, Kristi Noem, mengonfirmasi keluarga Soliman telah ditahan ICE.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved