Selasa 14 Desember 2021, 18:30 WIB

Kisah Pilu Pengungsi Suriah yang Terperangkap di Gaza Palestina

Mediaindonesia.com | Internasional
Kisah Pilu Pengungsi Suriah yang Terperangkap di Gaza Palestina

AFP/Said Khatib.
Tawfiq Shanaa, 66, memainkan oud saat membawakan lagu-lagu tradisional Palestina di luar rumahnya di kamp Rafah untuk pengungsi Palestina.

 

HAMPIR 10 tahun Imad al-Hisso terperangkap di Jalur Gaza Palestina setelah ia melarikan diri dari perang saudara di Suriah. Gaza tempat yang dia sebut sebagai penjara karena tanpa jalan yang jelas untuk kembali ke kampung halamannya di Suriah.

Gaza mungkin tampak sebagai tujuan yang tidak mungkin bagi mereka yang melarikan diri dari konflik. Maklum, wilayah pesisir Palestina itu diblokade oleh Israel sejak 2007 ketika kelompok Islam Hamas mengambil alih kekuasaan. Akses ke daerah kantong itu pun dikontrol ketat oleh negara Yahudi dan Mesir.

Namun setelah diberitahu oleh seorang teman bahwa dia bisa hidup dengan aman di jalur itu, Hisso bersama puluhan warga Suriah lain menyelinap ke Gaza melalui terowongan yang digali di bawah tanah Mesir. "Setelah peristiwa perang dimulai di Suriah, saya melarikan diri ke Gaza dengan harapan kehidupan yang lebih baik," katanya.

Dia yakin dapat menelusuri kembali langkahnya ketika saatnya tiba untuk pergi dari Gaza. Dia sekarang tinggal di Rafah, Gaza selatan, dalam rumah kecil tanpa dapur atau perabotan. Ia hanya punya surat-surat identitas Suriah yang kedaluwarsa dan tidak dapat dia perbarui.

Untuk mendapatkan dokumen baru dia harus kembali ke Suriah yang dilanda perang. Malangnya, dia tidak bisa keluar dari Gaza dengan cara yang sama saat dia tiba.

Soalnya, tentara Mesir menghancurkan beberapa terowongan bawah tanah pada 2012. Kemudian Mesir menghancurkan lebih banyak lagi pada tahun berikutnya.

Israel mengatakan Hamas menggunakan terowongan untuk menyelundupkan senjata dan bahan lain untuk menyerang orang Israel. Blokade itu, katanya, penting untuk menahan ancaman Hamas.

Sejak meninggalkan Mesir secara ilegal, Hisso mengatakan pihak berwenang di sana mungkin akan memblokir dia untuk masuk dan mungkin menangkapnya jika dia mencoba meninggalkan Gaza menggunakan penyeberangan Rafah.

Jalur masuk dan keluar Gaza lain dikendalikan oleh Israel yang secara resmi berperang dengan Suriah dan hanya memungkinkan warga Gaza transit wilayahnya dalam kondisi yang ketat, seperti dalam kasus medis yang serius.

Jadi Hisso mendapati dirinya terjebak tanpa cara untuk meninggalkan wilayah yang dilanda kemiskinan dan pengangguran itu. "Tidak ada pekerjaan dan tidak ada uang. Tidak ada akses ke perawatan kesehatan atau pendidikan", kata Hisso. Ia terkadang bekerja memasang ubin untuk menghidupi kelima anaknya yang juga tidak memiliki surat-surat.

"Saya terkejut menemukan bahwa situasi di Gaza lebih buruk daripada di Suriah," katanya. "Gaza merupakan penjara terbesar di dunia. Jika Anda masuk ke Gaza, Anda tidak akan bisa keluar." (AFP/OL-14)

Baca Juga

Ant/Suwandy

Tentara Israel Tembak Mati Remaja Palestina saat Bentrokan di Tepi Barat

👤Nur Aivanni 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 10:55 WIB
KEMENTERIAN Kesehatan Palestina mengatakan bahwa seorang remaja Palestina ditembak mati oleh pasukan Israel pada Sabtu pagi dalam serangan...
MI/Palce Amalo

Rakyat Timor Leste Berharap Ramos Horta Penuhi Janji Kampanye

👤Palce Amalo 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 10:35 WIB
RAKYAT Timor Leste yakin Presiden Ramos Horta akan memenuhi janjinya menjadi presiden bagi seluruh warga, serta mampu membawa negara itu...
Johan ORDONEZ / AFP

Terlibat Korupsi, Dua Putra Mantan Presiden Panama Diadili di AS

👤Nur Aivanni 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 10:27 WIB
Luis Enrique dan Ricardo Martinelli divonis dituduh menerima suap sebesar $28 juta dari kelompok konstruksi tersebut, di mana $19 juta...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya