Kamis 11 November 2021, 12:34 WIB

WHO: Risiko Wabah Campak Meningkat Akibat Pandemi Covid-19

Basuki Eka Purnama | Internasional
WHO: Risiko Wabah Campak Meningkat Akibat Pandemi Covid-19

AFP/CHAIDEER MAHYUDDIN
Seorang tenaga kesehatan menyuntikkan vaksin campak di Banda Aceh.

 

RISIKO wabah campak tinggi setelah lebih dari 22 juta anak bayi pada 2020 tidak mendapatkan dosis pertama vaksin selama pandemi covid-19. Hal itu dikatakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) serta Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC).

Laporan kasus campak turun lebih dari 80% tahun lalu dibandingkan 2019. Namun, semakin tingginya jumlah anak-anak yang tidak divaksin membuat mereka menjadi rentan, menurut laporan bersama WHO dan CDC pada Rabu (10/11).

Sekitar 3 juta lagi anak tidak diberi vaksin campak pada 2020. Jumlah itu merupakan peningkatan terbesar dalam dua dekade.

Baca juga: Warga yang belum Divaksin di Berlin Dilarang Masuk Bar, Bioskop, dan Salon

Kondisi itu akhirnya mengancam upaya global untuk membasmi penyakit virus yang sangat menular tersebut.

"Jumlah besar anak-anak yang tidak divaksin, wabah campak, temuan penyakit dan diagnostik yang dialihkan untuk mendukung penanganan covid-19 merupakan faktor yang meningkatkan kemungkinan kematian akibat campak dan komplikasi serius pada anak-anak," kata kepala imuninsasi CDC Kevin Cain.

Campak merupakan salah satu penyakit yang diketahui paling menular, lebih dari covid-19, Ebola, TBC atau flu. 

Penyakit itu bisa menjadi berbahaya bagi anak bayi dan anak kecil. Salah satu kemungkinan yang bisa ditimbulkan campak adalah komplikasi pneumonia.

Pada 2019, laporan kasus campak mencapai angka tertinggi dalam hampir seperempat abad.

Laporan terkini menyebut kampanye vaksinasi campak, yang mulanya direncanakan pada 2020 di 23 negara ditunda, sehingga menyebabkan lebih dari 93 juta orang berisiko terkena penyakit tersebut.

"Penting bagi negara-negara untuk segera mungkin memvaksinasi covid-19, namun ini membutuhkan sumber daya baru sehingga tidak membebani program imunisasi," kata direktur departemen imunisasi, vaksin, dan biologi WHO Dr Kate O'Brien.

"Imunisasi rutin harus dilindungi dan diperkuat, kalau tidak, kita berisiko menukar satu penyakit mematikan dengan penyakit mematikan lainnya," lanjut O'Brien. (Ant/OL-1)

Baca Juga

AFP/Paul Faith

Irlandia Cabut Sebagian Besar Pembatasan Covid-19

👤Nur Aivanni  🕔Sabtu 22 Januari 2022, 14:30 WIB
mayoritas tindakan kesehatan masyarakat yang harus dijalani akan dihapus, sambil memperingatkan pandemi belum...
Karl MELANDER / TT NEWS AGENCY / AFP

NATO Tolak Permintaan Rusia untuk Tarik Pasukan dari Bulgaria-Rumania

👤 Nur Aivanni 🕔Sabtu 22 Januari 2022, 11:39 WIB
Ketegangan meningkat ketika Barat menuduh Rusia mengancam invasi lebih lanjut ke Ukraina dengan mengerahkan sekitar 100.000 tentara di...
Dok.Ist

Perusahaan Kanada Ini Luncurkan Noze Sanitizer Lawan Covid-19

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 22 Januari 2022, 10:40 WIB
Teknologi pembuatan Nitric Oxide dalam kadar terukur yang membuat ENovid efektif dan terbukti lolos uji...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya