Minggu 26 September 2021, 10:09 WIB

PM Pakistan Serukan Kerja Sama dengan Taliban, PM India Bereaksi

Nur Aivanni | Internasional
PM Pakistan Serukan Kerja Sama dengan Taliban, PM India Bereaksi

Aamir QURESHI / AFP
PM Pakistan Imran Khan saat berbicara pada acara penanam pohon di Makhniyal, Distrik Haripur, Pakistan.

 

PERDANA Menteri (PM) India Narendra Modi, pada Sabtu (25/9), mengatakan kepada PBB bahwa tidak ada negara yang boleh mengeksploitasi kekacauan di Afghanistan untuk keuntungannya sendiri.

Hal itu disampaikan setelah Perdana Menteri Pakistan Imran Khan mengimbau negara-negara untuk bekerja dengan Taliban.

Pidato Modi tersebut muncul setelah India mengecam Islamabad baik di Washington maupun di Majelis Umum PBB, di mana para rival bentrok atas pidato Khan pada Jumat (24/9) malam yang menuduh pemerintah India melakukan teror terhadap umat Islam.

"Sangat penting untuk memastikan bahwa wilayah Afghanistan tidak digunakan untuk menyebarkan terorisme dan untuk serangan teroris," kata Modi.

"Kita juga perlu waspada dan memastikan bahwa tidak ada negara yang mencoba mengambil keuntungan dari situasi sulit di sana dan menggunakannya sebagai alat untuk kepentingannya sendiri," terangnya.

Pada Jumat (24/9), PM India menyuarakan keprihatinan tentang Pakistan selama pembicaraan dengan Presiden AS Joe Biden, serta pada pertemuan puncak dengan para pemimpin Australia dan Jepang, menurut para pejabat India, yang mengatakan yang lain pun sependapat.

"Bahwa pengamatan yang lebih hati-hati dan pemeriksaan yang lebih hati-hati dan pemantauan peran Pakistan di Afghanistan - peran Pakistan dalam masalah terorisme - harus dijaga," kata Menteri Luar Negeri Harsh Vardhan Shringla kepada wartawan setelah pembicaraan di Gedung Putih.

Khan mengatakan kepada Majelis Umum bahwa Taliban telah berjanji untuk menghormati hak asasi manusia dan membangun pemerintahan yang inklusif sejak mengambil alih Afghanistan bulan lalu, meskipun ada kekecewaan global terkait kabinet sementaranya.

"Jika komunitas dunia memberi mereka insentif, dan mendorong mereka untuk menjalankan pembicaraan ini, itu akan menjadi situasi yang saling menguntungkan bagi semua orang," katanya.

"Kita harus memperkuat dan menstabilkan pemerintahan saat ini, demi rakyat Afghanistan," tambahnya.

Khan menghabiskan sebagian besar pidatonya membela catatan Pakistan, pendukung utama rezim Taliban tahun 1996-2001.

Dia menyalahkan serangan pesawat tak berawak AS yang tidak tepat atas maraknya ekstremisme di Pakistan dan menunjuk pada kerja sama Islamabad dengan pasukan AS.

"Ada banyak kekhawatiran di AS tentang mengurus para penerjemah dan semua orang yang membantu AS. Bagaimana dengan kami?" kata Khan dalam sebuah pidato, yang direkam sebelumnya melalui video karena adanya tindakan pencegahan covid-19.

"Setidaknya harus ada kata apresiasi. Tapi daripada apresiasi, bayangkan bagaimana perasaan kita ketika kita disalahkan atas pergantian peristiwa di Afghanistan," ucapnya.

Para pejabat AS telah lama menuduh badan intelijen kuat Islamabad mempertahankan dukungan untuk Taliban, yang membuat pendahulu Biden, Donald Trump, memangkas bantuan militer.

Biden belum berbicara dengan Khan, apalagi mengundangnya untuk mengadakan pembicaraan. Namun, pada Kamis, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken bertemu dengan rekannya dari Pakistan di sela-sela acara PBB dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya untuk memulangkan warga AS dari Afghanistan. (Straits Times/Nur/OL-09)

Baca Juga

Biro Pers Setpres

Presiden Sesali Rivalitas Antarnegara di Masa Pandemi

👤Andhika Prasetyo 🕔Rabu 27 Oktober 2021, 23:32 WIB
Jokowi menyebut ada sejumlah negara yang justru menjalankan agenda yang memicu...
AFP/Ahmad Gharabli.

Israel Bubarkan Festival Palestina yang Didukung UNDP

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 27 Oktober 2021, 21:39 WIB
Festival tiga hari yang dijadwalkan di Rumah Abraham untuk peziarah agama dengan pertunjukan oleh kelompok seni...
AFP/Abbas Momani.

Jerman Prihatin Israel Cap Kelompok Sipil Palestina sebagai Teroris

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 27 Oktober 2021, 21:17 WIB
Penempatan kelompok itu dalam daftar teror akan memiliki implikasi politik, hukum, dan keuangan yang luas bagi...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Menghadang Ganasnya Raksa

Indonesia masih menjadi sasaran empuk perdagangan ilegal merkuri, terutama dari Tiongkok dan Taiwan. Jangan sampai peristiwa Minamata pada 1956 di Jepang terjadi di sini.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya