Senin 26 Juli 2021, 15:04 WIB

PBB: Jika Serangan Taliban tidak Dihentikan, Banyak Korban Berjatuhan

Nur Aivanni | Internasional
PBB: Jika Serangan Taliban tidak Dihentikan, Banyak Korban Berjatuhan

AFP
Pejuang Afghanistan mengawasi pergerakan pasukan Taliban di wilayah Balkh.

 

PERSERIKATAN Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa Afghanistan dapat mengalami jumlah kematian warga sipil tertinggi dalam lebih dari satu dekade. Dalam hal ini, jika serangan Taliban di seluruh negeri tidak bisa dihentikan.

Diketahui, kekerasan meningkat sejak awal Mei, ketika Taliban meningkatkan operasi yang bertepatan dengan penarikan terakhir pasukan asing pimpinan Amerika Serikat (AS).

Laporan yang dirilis pada Senin waktu setempat, mendokumentasikan korban sipil pada semester I 2021. Misi Bantuan PBB di Afghanistan (UNAMA) memperkirakan angka kematian menyentuh tingkat satu tahun tertinggi, sejak misi tersebut mulai melaporkan lebih dari satu dekade lalu.

Baca juga: Empat Pejuang Taliban Ditangkap Atas Serangan Roket di Afghanistan

UNAMA juga memperingatkan bahwa pasukan Afghanistan dan pasukan pro-pemerintah bertanggung jawab atas seperempat dari total korban sipil. "Jumlah warga sipil Afghanistan yang belum pernah terjadi sebelumnya, jika kekerasan yang meningkat tidak dapat dibendung," pungkas Kepala UNAMA Deborah Lyons.

"Saya memohon kepada para pemimpin Taliban dan Afghanistan untuk memperhatikan lintasan konflik yang suram dan mengerikan. Bagaiamana dampaknya yang menghancurkan terhadap warga sipil," imbuhnya.

Pada semester I 2021, sekitar 1.659 warga sipil tewas dan 3.254 lainnya terluka. Catatan itu meningkat 47% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan korban sipil sangat tajam pada Mei dan Juni, yang merupakan periode awal serangan Taliban pada tahun ini.

Baca juga: Afghanistan Terapkan Jam Malam untuk Batasi Gerakan Taliban

"Yang sangat mengejutkan dan sangat memprihatinkan adalah perempuan dan anak hampir setengah dari total korban sipil," bunyi laporan tersebut.

UNAMA menyalahkan elemen anti-pemerintah atas 64% korban sipil. Termasuk, sekitar 40% yang disebabkan oleh Taliban dan hampir 9% oleh kelompok ISIS. Sekitar 16% korban disebabkan unsur anti-pemerintah yang tidak dapat ditentukan. 

Namun, pasukan Afghanistan dan pasukan pro-pemerintah bertanggung jawab atas 25% kasus kematian. UNAMA mengatakan sekitar 11% korban disebabkan baku tembak dan pihak bertanggung jawab yang tidak dapat ditentukan.(AFP/OL-11)

Baca Juga

Aamir QURESHI / AFP

PM Pakistan Serukan Kerja Sama dengan Taliban, PM India Bereaksi

👤Nur Aivanni 🕔Minggu 26 September 2021, 10:09 WIB
Perdana Menteri (PM) Pakistan Imran Khan menuduh pemerintah India melakukan teror terhadap umat...
AFP.

Rusia Minta AS Dekati Iran Lebih Aktif demi Kesepakatan Nuklir

👤Nur Aivanni 🕔Minggu 26 September 2021, 09:40 WIB
Diskusi antara Iran dan lima negara yang tersisa yang bertujuan menghidupkan kembali kesepakatan itu dimulai di Wina pada...
AFP/Thomas Coex.

Prancis akan Gandakan Dosis Vaksin Covid-19 untuk Negara Miskin

👤Nur Aivanni 🕔Minggu 26 September 2021, 08:25 WIB
Pada Rabu, Amerika Serikat mengumumkan bahwa mereka akan menggandakan sumbangan dosis vaksinnya, sehingga total kontribusinya menjadi 1,1...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Cegah Konflik di Myanmar semakin Memburuk

Bentrokan antara pasukan perlawanan bersenjata dan militer dalam beberapa hari terakhir telah mendorong gelombang evakuasi baru di wilayah barat laut

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya