Jumat 16 Juli 2021, 14:52 WIB

PM Libanon Mengundurkan Diri di Tengah Krisis

Nur Aivanni | Internasional
PM Libanon Mengundurkan Diri di Tengah Krisis

AFP
Mantan Perdana Menteri Libanon Saad Hariri saat memberikan keterangan pers.

 

PERDANA Menteri (PM) Libanon Saad Hariri mengundurkan diri pada Kamis waktu setempat. Dirinya merasa gagal membentuk pemerintahan dalam delapan bulan terakhir. 

Hariri mengundurkan diri setelah pertemuan singkat dengan Presiden Michel Aoun di Istana Baabda. "Saya mundur dari pembentukan pemerintahan," ujar Hariri kepada wartawan. 

"Aoun menuntut beberapa amandemen yang dia anggap penting. Serta, menyatakan kita tidak akan bisa mencapai pemahaman yang sama. Semoga Tuhan menyelamatkan negara ini," imbuhnya.

Baca juga: Krisis Ekonomi, Sebagian Besar Wanita Libanon Sulit Beli Pembalut

Sebelumnya, Aoun menuduh Hariri sudah memutuskan untuk mundur sebelum pertemuan mereka. "Hariri menolak amandemen apapun terkait perubahan kementerian, pembagian sektarian dan nama-nama yang terkait dengan mereka," bunyi pernyatan Kantor Presiden Libanon. 

Dalam sebuah wawancara dengan TV Al Jadeed Lebanon, Hariri mengatakan dia memilih kandidatnya berdasarkan keahlian dan kemampuan untuk mereformasi ekonomi. Namun, Aoun memiliki pandangan yang berbeda.

"Saya mengundurkan diri pada 2019, karena saya menginginkan pemerintahan para ahli. Jika kita membentuk pemerintahan Michel Aoun, negara tidak akan selamat," pungkas Hariri.

"Masalah utama negara ini adalah Michel Aoun, yang bersekutu dengan Hizbullah, yang pada akhirnya melindunginya. Jika seseorang tidak dapat melihatnya maka mereka buta," seru dia.

Baca juga: Facebook Sebut Peretas di Iran Targetkan Personel Militer AS

Kebuntuan politik telah berlangsung sejak pengangkatan kembali Hariri pada Oktober lalu. Sekalipun ada tekanan diplomatik dari Prancis, Arab Saudi dan Amerika Serikat. Uni Eropa mengancam akan menerapkan sanksi terhadap pejabat Libanon, yang mencegah pemerintah baru untuk mengambil alih kekuasaan.

Menteri Luar Negeri AS Anthony Blinken mengatakan pengunduran diri itu merupakan "perkembangan yang mengecewakan" bagi rakyat Lebanon. Dikatakannya dalam sebuah pernyataan, politik Lebanon telah menyia-nyiakan waktu selama sembilan bulan terakhir.

Libanon dijalankan di bawah sistem pembagian kekuasaan berbasis sekte agama. Jabatan politik dan keamanan yang penting dialokasikan ke sekte yang berbeda. Presiden merupakan seorang Kristen Maronit, Perdana Menteri seorang Muslim Sunni dan Ketua Parlemen seorang Muslim Syiah.(AlJazeera/OL-11)

 

 

Baca Juga

AFP/GIORGIO VIERA

Republik Bela Trump yang Rumahnya Digeledah FBI

👤Cahya Mulyana 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 16:34 WIB
Politikus Partai Republik di DPR AS Kevin McCarthy mengatakan Departemen Kehakiman yang dipimpin Jaksa Agung Merrick Garland...
AFP

Tiongkok Rilis Buku Putih, Peringatkan Tidak akan Tolerir Separatis di Taiwan

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 15:45 WIB
Dokumen tersebut menguraikan bagaimana Tiongkok bermaksud untuk mengklaim Wilayah Taiwan melalui berbagai insentif ekonomi dan tekanan...
ANTARA/Nova Wahyudi

Larangan UE Impor Batu Bara Rusia Mulai Berlaku

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 14:51 WIB
Negara-negara anggota Uni Eropa (UE) tidak akan diizinkan untuk mengimpor batubara lagi dari Rusia setelah masa transisi embargo blok...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya