Rabu 14 Juli 2021, 08:09 WIB

Kemelut Kudeta dan Pandemi Covid-19 Hantui Myanmar

Atikah Ishmah Winahyu | Internasional
Kemelut Kudeta dan Pandemi Covid-19 Hantui Myanmar

AFP/STR
Warga mengantre untuk mengisi tabung oksigen di Mandalay, Myanmar.

 

PADA 5 Juli, Maung Min (bukan nama sebenarnya) tiba-tiba merasa sesak napas dan kesulitan menggerakkan anggota tubuhnya. Veteran militer Myanmar berusia 59 tahun itu dilarikan kerabatnya ke rumah sakit umum di Yangon, namun ditolak karena mereka tiba “terlambat" pada sore hari.

Kemudian keluarga mencoba ke rumah sakit militer. Di sana, Maung Min dinyatakan positif covid-19, bersama keenam kerabat yang menyertainya. Tapi, rumah sakit hanya mau menerima Maung Min, sementara anggota keluarganya yang terinfeksi diminta pulang, menurut kesaksian keponakannya.

Maung Min meninggal keesokan harinya. Tragedi keluarga seperti ini terjadi di seluruh Myanmar ketika gelombang infeksi covid-19 melanda, semakin merusak negara yang tenggelam dalam krisis politik dan ekonomi.

Baca juga: Kasus Covid-19 di AS Melonjak Lagi

Hanya 60% pegawai Kementerian Kesehatan dan Olahraga Myanmar yang bekerja, menurut pengakuan kementerian itu sendiri. Sementara sebagian besar sisanya kemungkinan akan mogok, dalam upaya menggulingkan militer yang merebut kekuasaan pada 1 Februari.

Penindasan militer selama berbulan-bulan telah menimbulkan ketidakpercayaan pada sistem perawatan kesehatan. Dalam minggu-minggu setelah kudeta, pasukan menyerang atau menduduki fasilitas medis yang merawat pengunjuk rasa antijunta.

Pasien covid-19 mengatakan mereka menjauh dari rumah sakit karena takut ditangkap atau hanya karena mereka tahu rumah sakit tidak dapat mengatasi lonjakan infeksi.

“Pada covid-19 gelombang pertama dan kedua, pasien tidak perlu khawatir dengan obat-obatan, makanan, dan perbekalan kesehatan lainnya karena banyak donatur lokal. Orang membantu orang. Orang membantu pemerintah,” kata keponakan Maung Min yang tidak bersedia menyebut namanya.

"Sekarang, tidak ada yang mau menyumbang, bahkan air,” imbuhnya.

Juru bicara Junta Zaw Min Tun mengakui, dalam konferensi pers pada Senin (12/7), bahwa situasinya kritis.

"Rumah sakit dan klinik dipenuhi pasien. Pusat karantina dipenuhi orang," kata Zaw.

"Mereka tidak bisa menerima pasien lagi,” imbuhnya.

Dia mengatakan militer sedang bekerja untuk membuka fasilitas medisnya bagi warga sipil.

Secara resmi, negara itu mencatat 89 kematian dan 5.014 kasus baru covid-19 pada Senin (12/7), meskipun ini disepelekan dibandingkan dengan beban kasus di negara tetangga Thailand, saat varian Delta yang sangat menular telah mendorong infeksi covid-19 harian baru menjadi 8.656 pada Selasa (13/7).

Tetapi para ahli kesehatan mengatakan tingkat keparahan wabah covid-19 terbaru Myanmar telah ditutupi oleh tingkat pengujian yang rendah di tengah gejolak politik.

Seorang dokter di Mandalay yang merawat pasien secara gratis mengatakan, "Sulit mengetahui jumlah pasti pasien covid-19 karena orang tidak melakukan tes dan tidak pergi ke rumah sakit. Hampir setiap orang sakit di rumah.”

“Staf medis bekerja dengan sangat terbatas,” katanya menolak disebutkan namanya karena alasan keamanan.

"Kami membutuhkan konsentrator oksigen, ventilator, dan ruang untuk mengisolasi pasien covid-19. Kami membutuhkan banyak tempat tidur rumah sakit,” imbuhnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menandai risiko wabah yang memburuk di Myanmar pada awal Mei, mencatat bagaimana kegiatan terkait covid-19 pada pengawasan dan pelacakan kontak, pengujian laboratorium, manajemen kasus, dan vaksinasi saat ini terganggu.

Sebuah upaya vaksinasi yang dimulai pemerintah sipil yang berpusat pada vaksin AstraZeneca yang diproduksi India menjadi kacau akibat kudeta.

Bulan lalu, rezim mengumumkan telah menangkap mantan kepala vaksinasi Htar Htar Lin karena diduga bekerja dengan pemerintah bayangan yang terdiri dari anggota parlemen yang digulingkan dan sekutu mereka.

Sejauh ini, setidaknya 3,5 juta dosis vaksin telah diberikan kepada 55 juta orang Myanmar. Tiongkok menyumbangkan 500.000 dosis vaksin Sinopharm pada Mei.

Kepala Junta Min Aung Hlaing mengatakan Rusia telah setuju mengirim 2 juta dosis ke Myanmar dan juga membantu negara itu memproduksi vaksin.

Dalam beberapa pekan terakhir, antrian mengular dilaporkan di luar pabrik oksigen karena semakin banyak perawat berusaha mengisi ulang tangki mereka untuk pasien covid-19 di rumah.

Junta memerintahkan pabrik untuk mengarahkan pasokan oksigen mereka ke rumah sakit pemerintah dan pusat perawatan covid-19.

Kementerian kesehatan menjelaskan bahwa pembelian oksigen yang tidak perlu, menaikkan harganya dan menyarankan agar tidak memberikan oksigen di rumah tanpa pengawasan medis.

Jenderal Senior Min Aung Hlaing, Senin (12/7), membantah Myanmar kehabisan oksigen dengan mengatakan beberapa pihak mempermainkan masalah ini untuk kepentingan politik.

Tapi semua ini adalah kenyamanan dingin bagi Aung Kyaw (bukan nama sebenarnya), seorang petani di kotapraja Kalay di barat laut Myanmar dekat perbatasan India.

Penduduk di Kalay termasuk yang pertama mengangkat senjata melawan junta. Mereka telah terpukul dengan perintah tinggal di rumah di tengah gelombang infeksi.

Kakak perempuan Aung Kyaw, seorang perawat yang ambil bagian dalam gerakan pembangkangan sipil (CDM), kehilangan kesadaran bulan lalu saat menonton televisi di rumah.

Tes yang dilakukan oleh teman-temannya yang adalah perawat menunjukkan bahwa keenam orang yang tinggal di rumahnya terinfeksi covid-19.

“Kakak saya perawat CDM dari rumah sakit umum. Kalau dia ke sana, dia akan ditangkap,” katanya.

Keluarga itu kini dirawat di rumah oleh saudara perempuan Aung Kyaw yang lain, yang juga terinfeksi covid-19. Dia menghabiskan hari-harinya mengantri untuk membeli oksigen untuk mereka.

"Orang-orang tidak mempercayai institusi medis junta, jadi mereka harus menjaga diri mereka sendiri," katanya.

"Ada asosiasi amal yang memberikan tes covid-19 gratis untuk orang sakit. Tapi kami harus mencari dan membeli tabung oksigen sendiri, dengan bantuan orang-orang di lingkungan kami,” tambahnya.

Asosiasi akar rumput tidak yakin berapa lama mereka dapat mempertahankan pekerjaan mereka dalam kondisi saat ini.

"Ini di luar kendali," kata Khin Maung Tin, yang menjalankan badan amal medis di Mandalay.

"Rumah sakit kelebihan beban, jadi pasien covid-19 harus pulang. Sesampai di rumah, kadar oksigen mereka turun drastis dan mereka meninggal. Kami mengambil jenazahnya,” tuturnya.

Dia menambahkan, "Jika Anda bertanya kepada saya, apakah anda takut dengan covid-19, saya akan menjawab ya. Tapi saya tidak takut karena saya perlu membantu semua orang ini.” (Straitstimes/OL-1)

Baca Juga

AFP/Ahmad Gharabli.

Perusahaan Israel Kembangkan Kamera Badan untuk Identifikasi Wajah

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 23 Januari 2022, 15:45 WIB
Raksasa teknologi AS mundur dari menyediakan teknologi itu kepada polisi. Alasannya, risiko...
AFP/Angela Weiss.

Iran Peroleh kembali Suaranya di PBB usai Korsel Bayar Tunggakannya

👤Nur Aivanni 🕔Minggu 23 Januari 2022, 15:25 WIB
Kantor PBB Seoul tidak dapat dihubungi untuk dimintai pernyataan di luar jam...
AFP.

Beijing Lakukan Pengujian Covid-19 pada Klaster 2 Juta Orang

👤Nur Aivanni 🕔Minggu 23 Januari 2022, 13:50 WIB
Otoritas setempat telah mengidentifikasi distrik Fengtai di Beijing selatan sebagai pusat klaster dari enam infeksi baru yang...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya