Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PENARIKAN militer Amerika Serikat (AS) dari Afghanistan, yang diperintahkan Presiden AS Joe Biden pada April 2021 lalu, terus berjalan meskipun ada ancaman yang meningkat dari pemberontak Taleban untuk merebut kekuasaan.
Biden menetapkan batas waktu penarikan terakhir pasukan dan warga sipil pada 11 September 2021 mendatang, tepat saat peringatan 20 tahun serangan di AS oleh Al-Qaeda yang didukung Taliban.
Pentagon mengatakan proses penarikan pasukan telah selesai setengahnya, tekanan meningkat untuk memperlambat operasi guna membantu mendorong kembali Taliban dan untuk mengevakuasi ribuan warga Afghanistan yang telah membantu pasukan AS.
Secara resmi ada sekitar 2.500 tentara AS dan 16.000 kontraktor sipil di negara itu ketika rencana penarikan itu diumumkan Joe Biden.
Sejak itu, Pentagon telah mengirim pulang setara dengan 763 pesawat kargo C-17 raksasa yang sarat dengan peralatan dan perlengkapan.
Lima pangkalan yang digunakan oleh AS, termasuk pangkalan udara besar di Kandahar, telah diserahkan kepada pasukan Afghanistan.
Tetapi jumlah tentara dan kontraktor yang masih di sana dirahasiakan, demi alasan keamanan, menurut Departemen Pertahanan.
Khawatir Taliban Diuntungkan
Sementara itu gerilyawan Taliban telah mengambil keuntungan dari penarikan itu untuk meningkatkan serangan di pedesaan Afghanistan, mengklaim puluhan distrik sejak Mei dan memicu kekhawatiran bahwa mereka dapat merebut kekuasaan di Kabul, seperti yang mereka lakukan pada tahun 1996.
"Bagi Taliban untuk melanjutkan kampanye militer intensif ini akan menjadi tindakan yang tragis," kata kepala Misi Bantuan PBB di Afghanistan, Deborah Lyons kepada Dewan Keamanan PBB.
Dia mengatakan kelompok itu memposisikan diri untuk merebut ibu kota regional setelah pasukan asing ditarik sepenuhnya.
"Semua tren utama, politik, keamanan, proses perdamaian, ekonomi, darurat kemanusiaan dan Covid-19, semua tren ini negatif atau stagnan," tambahnya.
Juru bicara Pentagon John Kirby mengatakan aktivitas Taliban dapat mengakibatkan perlambatan penarikan, sambil tetap berpegang pada tenggat waktu September.
"Situasi di Afghanistan berubah ketika Taliban terus melakukan serangan-serangan ini dan menyerang pusat-pusat distrik, serta kekerasan, yang masih terlalu tinggi," katanya.
Namun, dia memperingatkan, saat penarikan berlangsung, kemampuan AS untuk membantu pasukan Afghanistan di lapangan akan berkurang dan tidak akan tersedia lagi.
Nasib penerjemah
Kekhawatiran utama adalah nasib sekitar 18.000 warga Afghanistan yang telah bekerja untuk pasukan dan badan AS serta koalisi sebagai penerjemah, pengumpul intelijen, dan pekerjaan lain.
Banyak yang khawatir mereka dan keluarga mereka bisa terbunuh jika Taliban mengambil alih kekuasaan, dan mereka ingin bermigrasi ke AS atau di tempat lain.
Washington mengatakan pihaknya berkomitmen untuk mereka, tetapi memproses aplikasi visa membutuhkan waktu. Banyak yang kemungkinan masih berada di negara itu pada bulan September, ketika pasukan AS berangkat.
Anggota Kongres mendorong Biden untuk mengevakuasi penerjemah sesegera mungkin ke wilayah Pasifik AS di Guam sementara dokumen perjalanan mereka diproses.
Pentagon telah diam-diam mempersiapkan evakuasi selama berminggu-minggu. Pada hari Rabu, Menteri Pertahanan Lloyd Austin mengatakan evakuasi pertama dapat dimulai segera.
Tantangan utama lainnya adalah memastikan bahwa bandara internasional Kabul tetap terbuka dan aman, terutama bagi para diplomat, pejabat internasional, pekerja kemanusiaan, dan orang asing lainnya yang tetap berada di kota.
Beberapa orang khawatir Taliban dapat mengambil kendali dan menutup hub setelah penarikan AS.
Turki sedang dalam pembicaraan untuk mengambil alih keamanan bandara, dan menginginkan dukungan keuangan, diplomatik serta logistik dari Amerika.
Jika Turki tidak mengambil alih pekerjaan itu, militer AS sedang mencari opsi lain, termasuk merekrut perusahaan keamanan swasta untuk menangani tugas tersebut. (Aiw/Straitstimes/OL-09)
LEDAKAN langka di ibu kota Pakistan, Islamabad, pada Selasa (11/11) menewaskan 12 orang dan melukai 20 orang. Demikian disampaikan Rumah Sakit Institut Ilmu Kedokteran Pakistan.
MANTAN Sekretaris Jenderal NATO dan Menteri Keuangan Norwegia saat ini, Jens Stoltenberg, menyebut penarikan pasukan AS dari Afghanistan sebagai kekalahan terbesar NATO.
Sedikitnya 20 orang tewas dan lebih dari 500 terluka setelah gempa 6,3 SR mengguncang Mazar-e-Sharif, Afghanistan Utara.
Gempa bumi berkekuatan 6,3 mengguncang wilayah utara Afghanistan dekat kota Mazar-i-Sharif. USGS memperingatkan potensi korban jiwa ratusan dan kerusakan meluas.
Gempa bumi berkekuatan 6,3 magnitudo mengguncang Afghanistan utara dekat Mazar-i-Sharif. Belum ada laporan korban.
Shehbaz menegaskan kembali bahwa Pakistan menginginkan perdamaian dan stabilitas di Afghanistan, tetapi terus menghadapi terorisme lintas batas yang berasal dari tanah Afghanistan.
BANK sentral Iran tampaknya menggunakan sejumlah besar mata uang kripto yang didukung oleh politikus Inggris, Nigel Farage, yaitu stablecoin Tether.
PEMERINTAH Amerika Serikat meminta negara-negara Eropa tidak bereaksi emosional terhadap rencana Presiden Donald Trump terkait Greenland.
Donald Trump kembali enggan menjelaskan langkah AS terkait Greenland, namun memberi sinyal peluang kesepakatan di Davos. Denmark memperingatkan risiko terhadap NATO.
Rusia menegaskan tidak memiliki rencana merebut Greenland. Menlu Sergei Lavrov menyatakan AS memahami Moskow dan Beijing tak mengancam wilayah tersebut.
Buntut ancaman Trump soal Greenland, Parlemen Eropa berencana menunda persetujuan kesepakatan tarif Juli lalu. Ancaman perang dagang kembali hantui pasar global.
USKUP Agung Katolik untuk dinas militer AS mengatakan bahwa secara moral dapat diterima untuk tidak mematuhi perintah jika pasukan menganggap perintah bertentangan dengan hati nurani mereka.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved