Kamis 24 Juni 2021, 14:54 WIB

Penarikan Pasukan AS dari Afghanistan Terus Berlanjut

Atikah Ishmah Winahyu | Internasional
Penarikan Pasukan AS dari Afghanistan Terus Berlanjut

Adek BERRY / AFP
Polisi Afghanistan berjaga saat kendaraan kontainer yang memuat barang-barang milik tentara AS dari Pangkalan Udara Bagram, Afghanistan.

 

PENARIKAN militer Amerika Serikat (AS) dari Afghanistan, yang diperintahkan Presiden AS Joe Biden pada April 2021 lalu, terus berjalan meskipun ada ancaman yang meningkat dari pemberontak Taleban untuk merebut kekuasaan.

Biden menetapkan batas waktu penarikan terakhir pasukan dan warga sipil pada 11 September 2021 mendatang, tepat saat peringatan 20 tahun serangan di AS oleh Al-Qaeda yang didukung Taliban.

Pentagon mengatakan proses penarikan pasukan telah selesai setengahnya, tekanan meningkat untuk memperlambat operasi guna membantu mendorong kembali Taliban dan untuk mengevakuasi ribuan warga Afghanistan yang telah membantu pasukan AS.

Secara resmi ada sekitar 2.500 tentara AS dan 16.000 kontraktor sipil di negara itu ketika rencana penarikan itu diumumkan Joe Biden.

Sejak itu, Pentagon telah mengirim pulang setara dengan 763 pesawat kargo C-17 raksasa yang sarat dengan peralatan dan perlengkapan.

Lima pangkalan yang digunakan oleh AS, termasuk pangkalan udara besar di Kandahar, telah diserahkan kepada pasukan Afghanistan.

Tetapi jumlah tentara dan kontraktor yang masih di sana dirahasiakan, demi alasan keamanan, menurut Departemen Pertahanan.

Khawatir Taliban Diuntungkan

Sementara itu gerilyawan Taliban telah mengambil keuntungan dari penarikan itu untuk meningkatkan serangan di pedesaan Afghanistan, mengklaim puluhan distrik sejak Mei dan memicu kekhawatiran bahwa mereka dapat merebut kekuasaan di Kabul, seperti yang mereka lakukan pada tahun 1996.

"Bagi Taliban untuk melanjutkan kampanye militer intensif ini akan menjadi tindakan yang tragis," kata kepala Misi Bantuan PBB di Afghanistan, Deborah Lyons kepada Dewan Keamanan PBB.

Dia mengatakan kelompok itu memposisikan diri untuk merebut ibu kota regional setelah pasukan asing ditarik sepenuhnya.

"Semua tren utama, politik, keamanan, proses perdamaian, ekonomi, darurat kemanusiaan dan Covid-19, semua tren ini negatif atau stagnan," tambahnya.

Juru bicara Pentagon John Kirby mengatakan aktivitas Taliban dapat mengakibatkan perlambatan penarikan, sambil tetap berpegang pada tenggat waktu September.

"Situasi di Afghanistan berubah ketika Taliban terus melakukan serangan-serangan ini dan menyerang pusat-pusat distrik, serta kekerasan, yang masih terlalu tinggi," katanya.

Namun, dia memperingatkan, saat penarikan berlangsung, kemampuan AS untuk membantu pasukan Afghanistan di lapangan akan berkurang dan tidak akan tersedia lagi.

Nasib penerjemah

Kekhawatiran utama adalah nasib sekitar 18.000 warga Afghanistan yang telah bekerja untuk pasukan dan badan AS serta koalisi sebagai penerjemah, pengumpul intelijen, dan pekerjaan lain.

Banyak yang khawatir mereka dan keluarga mereka bisa terbunuh jika Taliban mengambil alih kekuasaan, dan mereka ingin bermigrasi ke AS atau di tempat lain.

Washington mengatakan pihaknya berkomitmen untuk mereka, tetapi memproses aplikasi visa membutuhkan waktu. Banyak yang kemungkinan masih berada di negara itu pada bulan September, ketika pasukan AS berangkat.

Anggota Kongres mendorong Biden untuk mengevakuasi penerjemah sesegera mungkin ke wilayah Pasifik AS di Guam sementara dokumen perjalanan mereka diproses.

Pentagon telah diam-diam mempersiapkan evakuasi selama berminggu-minggu. Pada hari Rabu, Menteri Pertahanan Lloyd Austin mengatakan evakuasi pertama dapat dimulai segera.

Tantangan utama lainnya adalah memastikan bahwa bandara internasional Kabul tetap terbuka dan aman, terutama bagi para diplomat, pejabat internasional, pekerja kemanusiaan, dan orang asing lainnya yang tetap berada di kota.

Beberapa orang khawatir Taliban dapat mengambil kendali dan menutup hub setelah penarikan AS.

Turki sedang dalam pembicaraan untuk mengambil alih keamanan bandara, dan menginginkan dukungan keuangan, diplomatik serta logistik dari Amerika.

Jika Turki tidak mengambil alih pekerjaan itu, militer AS sedang mencari opsi lain, termasuk merekrut perusahaan keamanan swasta untuk menangani tugas tersebut. (Aiw/Straitstimes/OL-09)

Baca Juga

AFP/FABRICE COFFRINI

AS Sebut Kunjungan Kepala HAM PBB ke Tiongkok Sebagai Kesalahan

👤Nur Aivanni 🕔Rabu 25 Mei 2022, 13:20 WIB
"Kami pikir itu adalah kesalahan untuk menyetujui kunjungan dalam keadaan seperti...
ctvnews.ca

General Motors Diretas Data Pelanggan Bocor

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 25 Mei 2022, 12:30 WIB
Pabrikan mobil AS General Motors (GM) telah diretas dan data pelanggan diduga bocor sehingga memungkinkan peretas untuk menukarkan poin...
Lars Hagberg / AFP

Provinsi di Kanada Konfirmasi 15 Kasus Cacar Monyet

👤 Nur Aivanni 🕔Rabu 25 Mei 2022, 11:44 WIB
Provinsi Quebec di Kanada mengonfirmasi 15 kasus cacar monyet pada Senin (23/5). Itu disampaikan oleh departemen kesehatan Quebec pada...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya