Sabtu 19 Juni 2021, 22:07 WIB

Amnesty International Desak Investigasi atas Presiden Terpilih Iran Ebrahim Raisi

Mediaindonesia.com | Internasional
Amnesty International Desak Investigasi atas Presiden Terpilih Iran Ebrahim Raisi

AFP.
Para pendukung Ebrahem Raisi.

 

ULAMA ultrakonservatif Ebrahim Raisi, yang dinyatakan sebagai presiden Iran berikutnya, Sabtu (19/6), harus diselidiki atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan dan tindakan kerasnya terhadap hak asasi manusia, kata Amnesty International.

"Bahwa Ebrahim Raisi telah naik ke kursi kepresidenan alih-alih diselidiki atas kejahatan terhadap kemanusiaan berupa pembunuhan, penghilangan paksa, dan penyiksaan, menjadi pengingat bahwa yang berkuasa di Iran tidak dapat dipidana," kata Amnesty dalam pernyataan.

Amnesty mengatakan Raisi ialah anggota Komisi Kematian yang menghilangkan secara paksa ribuan tahanan oposisi pada 1988 dan dan mengeksekusi mereka di luar hukum secara rahasia saat menjabat sebagai wakil jaksa Teheran.

Ditanya pada 2018 dan tahun lalu juga tentang eksekusi tersebut, Raisi membantah dirinya berperan. Namun dia memuji perintah yang dia katakan diturunkan oleh pendiri republik Islam itu, Ayatollah Ruhollah Khomeini, untuk melanjutkan pembersihan.

Amnesty mengatakan nasib para korban dan keberadaan tubuh mereka hingga hari ini secara sistematis disembunyikan oleh pihak berwenang Iran, sama dengan kejahatan yang sedang berlangsung terhadap kemanusiaan. Kelompok penekan yang berbasis di London itu mengatakan Raisi telah memimpin tindakan keras terhadap hak asasi manusia saat menjabat sebagai kepala kehakiman Iran selama dua tahun terakhir.

Dikatakan tindakan keras itu tampak saat ratusan demonstran damai, pembela hak asasi manusia dan anggota kelompok minoritas yang teraniaya ditahan secara sewenang-wenang. "Di bawah pengawasannya, pengadilan juga telah memberikan kekebalan hukum kepada pejabat pemerintah dan pasukan keamanan yang bertanggung jawab atas pembunuhan tidak sah ratusan pria, wanita, dan anak-anak."

Ia juga dituduh terkait ribuan pengunjuk rasa yang ditangkap massal dan setidaknya ratusan dihilangkan secara paksa, disiksa, dan perlakuan buruk lain selama dan setelah protes nasional November 2019. "Kami terus menyerukan agar Ebrahim Raisi diselidiki atas keterlibatannya dalam kejahatan masa lalu dan yang sedang berlangsung di bawah hukum internasional, termasuk oleh negara-negara yang menjalankan yurisdiksi universal," katanya.

 

Amnesty menyerukan negara-negara anggota Dewan Hak Asasi Manusia PBB untuk mengambil langkah-langkah nyata untuk mengatasi krisis impunitas sistematis di Iran. Dikatakan mereka harus membentuk mekanisme yang tidak memihak untuk mengumpulkan dan menganalisis bukti kejahatan paling serius di bawah hukum internasional yang dilakukan di Iran untuk memfasilitasi proses pidana yang adil dan independen. (AFP/OL-14)

 

Baca Juga

medcom

Serangan Bom dan Senjata Guncang Ibu Kota Afghanistan

👤Nur Aivanni 🕔Rabu 04 Agustus 2021, 08:02 WIB
Gelombang ledakan, yang menurut Washington memiliki "ciri khas" Taliban, terjadi ketika tentara Afghanistan mendesak penduduk...
AFP/Thomas THURAR

Kasus Covid-19 Melonjak, Prancis Berlakukan Pembatasan Baru

👤Nur Aivanni 🕔Rabu 04 Agustus 2021, 07:19 WIB
Pasien yang berada dalam perawatan intensif sekarang berjumlah 1.331 orang dibandingkan dengan 978 orang, seminggu yang...
AFP/Sergei SUPINSKY

Tokoh Oposisi Belarus Ditemukan Tergantung di Ukraina, Diduga Dibunuh

👤Basuki Eka Purnama 🕔Rabu 04 Agustus 2021, 05:53 WIB
"Vitaly Shishov, yang menghilang di Kiev, kemarin, hari ini ditemukan tergantung di salah satu taman yang terletak tidak jauh dari...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Kenyang Janji dan Pasrah Menunggu Keajaiban

Sejak peristiwa gempa bumi disertai tsunami dan likuefaksi di Palu, Sigi, dan Donggala, Sulawesi Tengah hingga kini masih banyak warga terdampak bencana tinggal di hunian sementara.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya