Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan covid-19 bergerak lebih cepat daripada vaksin. Organisasi tersebut juga mengatakan janji G7 untuk berbagi satu miliar dosis dengan negara-negara miskin tidak cukup.
Para pemimpin kesehatan global juga memperingatkan janji itu terlalu sedikit, terlalu terlambat, dengan lebih dari 11 miliar suntikan yang diperlukan.
"Saya menyambut baik pengumuman negara-negara G7 akan menyumbangkan 870 juta dosis vaksin (baru), terutama melalui Covax," kata Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus kepada wartawan.
"Ini adalah bantuan besar, tetapi kita membutuhkannya lebih banyak dan lebih cepat. Saat ini, virus bergerak lebih cepat daripada distribusi vaksin secara global," ucapnya.
Diutarakannya, lebih dari 10 ribu orang meninggal setiap hari.
"Komunitas ini membutuhkan vaksin, dan mereka membutuhkannya sekarang, bukan tahun depan," tambahnya.
Sementara orang-orang di banyak negara kaya menikmati kembalinya ke kehidupan normal, berkat tingkat vaksinasi yang tinggi, vaksin tetap langka di bagian dunia yang kurang mampu.
Baca juga: Juli, Ditargetkan Vaksinasi Satu Juta Warga per Hari
Dalam hal dosis yang diberikan, ketidakseimbangan antara G7 dan negara-negara berpenghasilan rendah, seperti yang didefinisikan oleh Bank Dunia adalah 73 banding satu.
Banyak dari dosis G7 yang disumbangkan akan disaring melalui Covax, badan global yang bertanggung jawab untuk memastikan distribusi vaksin yang adil.
Dijalankan oleh WHO, aliansi vaksin Gavi dan Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (CEPI) hingga saat ini telah mengirimkan lebih dari 87 juta dosis vaksin ke 131 negara. Angka tersebut jauh lebih sedikit dari yang diperkirakan.
WHO menginginkan setidaknya 70% populasi dunia divaksinasi pada pertemuan G7 berikutnya di Jerman tahun depan.
"Untuk melakukan itu, kita membutuhkan 11 miliar dosis. G7 dan G20 bisa mewujudkannya," ujar Tedros.
Badan amal medis Doctors Without Borders mempertanyakan seberapa tulus G7 dalam mengejar kesetaraan vaksin.
"Kita perlu melihat lebih banyak kejelasan tentang jumlah sebenarnya dari dosis yang disumbangkan, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menerjemahkan janji mereka menjadi dampak dan akses nyata," kata Hu Yuanqiong dari badan amal medis.
Selain pembagian dosis, rencana pertempuran anti-pandemi G7 mencakup komitmen untuk mencegah pandemi di masa depan -- dengan memangkas waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan dan melisensikan vaksin hingga di bawah 100 hari, memperkuat pengawasan global, dan memperkuat WHO.
Tetapi para pengamat menyuarakan skeptisisme atas kesediaan mereka untuk menindaklanjuti poin terakhir khususnya.
"Saya akan percaya pada titik (itu) ketika kontribusi untuk WHO meningkat," cuit Ilona Kickbusch, direktur pendiri dan ketua Pusat Kesehatan Global di Jenewa, di Twitter. (AFP/OL-5)
Riset terbaru menunjukkan vaksin Covid-19 berbasis mRNA seperti Pfizer dan Moderna dapat memicu sistem imun melawan sel kanker.
DUA tenaga kesehatan menerima vaksin Covid-19 di hari yang sama, pola respons antibodi setiap orang ternyata berbeda-beda menentukan berapa lama perlindungan vaksin bertahan
Pengurus IDI, Iqbal Mochtar menilai bahwa kekhawatiran masyarakat terhadap vaksin berbasis Messenger Ribonucleic Acid (mRNA) untuk covid-19 merupakan hal yang wajar.
Menteri Kesahatan AS Robert F. Kennedy Jr. membuat gebrakan besar dengan mencabut kontrak dan membatalkan pendanaan proyek vaksin berbasis teknologi mRNA, termasuk untuk covid-19.
Sejalan dengan penjelasan Kementerian Kesehatan yang menyebutkan vaksinasi booster covid-19 tetap direkomendasikan.
Pemakaian masker, khususnya di tengah kerumunan mungkin dapat dijadikan kebiasaan yang diajarkan kepada anak-anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved