Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
KEUNTUNGAN dari vaksin covid-19 mendongkrak setidaknya sembilan orang menjadi miliarder. Hal itu diungkapkan kelompok kampanye yang menyerukan dihentikannya monopoli oleh perusahaan farmasi terhadap teknologi vaksin.
"Dari sembilan miliarder itu mereka memiliki kekayaan total US$19,3 miliar (sekitar Rp277,6 triliun, cukup untuk membiayai vaksinasi bagi seluruh warga negara miskin di dunia sebanyak 1,3 kali," ungkap Aliansi Vaksin Rakyat dalam sebuah pernyataan resmi.
Aliansi, yang merupakan jaringan organisasi dan aktivis yang berjuang mengakhiri hak milik dan paten vaksin, mengatakan data kekayaan itu mereka dapatkan dari data Majalah Forbes.
Baca juga: Kartu Vaksinasi Palsu Beredar di California
"Miliarder-miliarder ini merupakan wajah dari keuntungan besar yang didapatkan perusahaan farmasi karena memonopoli vaksin covid-19,: ujar Anna Marriott dari Oxfam yang ambil bagian dalam aliansi itu.
Selain munculnya miliarder baru itu, delapan miliarder melihat kekayaan mereka naik sebesar US$32,2 miliar karena kampanye vaksinasi.
Memuncaki daftar miliarder baru yang muncul karena vaksin covid-19 adalah CEO Moderna Stephane Bancel dan CEO BioNTech Ugur Sahin.
Tiga miliarder baru lagi adalah pendiri perusahaan vaksin asal Tiongkok, CanSino Biologics.
Daftar miliarder vaksin itu dirilis menjelang KTT Kesehatan Global G20 pada Jumat (21/5) yang diramaikan oleh seruan untuk membekukan perlindungan hak kekayaan intelektual bagi vaksin covid-19.
Mereka yang menyerukan hal itu beralasan pembekuan perlindungan hak kekayaan intelektual vaksin covid-10 akan membuat negara berkembang bisa memproduksi vaksin sendiri dan memangkas kesenjangan akses vaksin.
Amerika Serikat, serta figur publik penting, seperti Paus Fransiskus, mendukung ide pembekuan sementara perlindungan paten vaksin. (AFP/OL-1)
Riset terbaru menunjukkan vaksin Covid-19 berbasis mRNA seperti Pfizer dan Moderna dapat memicu sistem imun melawan sel kanker.
DUA tenaga kesehatan menerima vaksin Covid-19 di hari yang sama, pola respons antibodi setiap orang ternyata berbeda-beda menentukan berapa lama perlindungan vaksin bertahan
Pengurus IDI, Iqbal Mochtar menilai bahwa kekhawatiran masyarakat terhadap vaksin berbasis Messenger Ribonucleic Acid (mRNA) untuk covid-19 merupakan hal yang wajar.
Menteri Kesahatan AS Robert F. Kennedy Jr. membuat gebrakan besar dengan mencabut kontrak dan membatalkan pendanaan proyek vaksin berbasis teknologi mRNA, termasuk untuk covid-19.
Sejalan dengan penjelasan Kementerian Kesehatan yang menyebutkan vaksinasi booster covid-19 tetap direkomendasikan.
Pemakaian masker, khususnya di tengah kerumunan mungkin dapat dijadikan kebiasaan yang diajarkan kepada anak-anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved