Selasa 18 Mei 2021, 10:41 WIB

AS Berikan Sanksi dari Kepala Bank Sentral Hingga Menteri Myanmar

 Nur Aivanni | Internasional
AS Berikan Sanksi dari Kepala Bank Sentral Hingga Menteri Myanmar

DAWEI WATCH / AFP
Para demonstran menunjukkan 'tiga jari' sebagai tanda menentang kudeta militer saat unjuk rasa di Kota Dawei, Myanmar, Minggu (16/5).

 

DEPARTEMEN Keuangan AS memberikan sanksi kepada 16 pejabat senior Myanmar dan anggota keluarganya pada Senin (17/5).

Pejabat Myanmar yang masuk dalam daftar hitam Departemen Keuangan adalah empat anggota Dewan Administrasi Negara junta militer, tujuh menteri, ketua komisi pemilu yang dikendalikan militer, dan gubernur Bank Sentral Myanmar.

Tiga orang lainnya dalam daftar tersebut adalah anak-anak dari anggota Dewan Administrasi Negara yang telah dijatuhi sanksi sebelumnya setelah kudeta pada 1 Februari 2021 yang menggulingkan pemerintah terpilih.

Sejak itu negara tersebut telah mengalami aksi protes dan aksi mogok yang telah diberhentikan dengan paksa, yang menyebabkan hampir 800 orang tewas, menurut kelompok pemantau lokal.

Dalam sebuah pernyataan, Departemen Keuangan AS mengatakan bahwa rezim militer Myanmar dengan keras menekan gerakan pro-demokrasi di negara itu dan bertanggung jawab atas serangan kekerasan dan mematikan yang sedang berlangsung terhadap rakyat Burma, termasuk pembunuhan anak-anak.

Departemen Keuangan AS mengatakan bahwa Kanada dan Inggris juga mengumumkan sanksi serupa terhadap anggota junta.

Sejak Februari 2021, AS dan negara-negara Barat lainnya terus menambahkan para pemimpin rezim militer serta BUMN yang mendanai ke dalam daftar sanksinya untuk menekan para jenderal agar kembali ke demokrasi.

Sanksi tersebut bertujuan untuk mengunci mereka dari perdagangan global dan sistem keuangan dengan melarang individu dan perusahaan AS, termasuk bank yang memiliki cabang AS, untuk berbisnis dengan mereka.

Sanksi tersebut juga memblokir aset apa pun yang mungkin dimiliki individu di bawah yurisdiksi AS.

Myanmar gempar sejak militer menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi pada Februari 2021. Itu memicu pemberontakan besar-besaran yang berusaha ditumpas oleh pihak berwenang dengan kekuatan mematikan.

Setidaknya 796 orang telah tewas oleh pasukan keamanan sejak kudeta, menurut kelompok pemantau lokal, sementara hampir 4.000 orang berada di balik jeruji besi. (AFP/Nur/OL-09)

Baca Juga

 AFP/Hazem Bader.

Orang Badui Israel Anggap Janji-Janji Pemerintah Baru itu Palsu

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 21 Juni 2021, 12:33 WIB
Sebagian besar dari hampir 300.000 orang Badui Israel tinggal di Negev yang gersang di selatan negara itu, di pinggiran masyarakat...
AFP/Jim Watson

AS Tengah Persiapkan Sanksi Baru untuk Rusia

👤Nur Aivanni 🕔Senin 21 Juni 2021, 10:01 WIB
"Kami mengumpulkan sekutu Eropa dalam upaya bersama untuk mengenakan biaya pada Rusia untuk penggunaan bahan kimia terhadap salah satu...
AFP/Handout / various sources

Hadiri Konferensi Keamanan, Pemimpin Junta Myanmar Tiba di Moskow

👤Nur Aivanni 🕔Senin 21 Juni 2021, 07:14 WIB
Pemimpin Junta Min Aung Hlaing meninggalkan ibu kota Naypyidaw, Minggu (20/6), dengan penerbangan khusus untuk menghadiri Konferensi...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Jangan Gagap Lindungi Nasabah di Era Digital

ERA pandemi covid-19 berdampak pada berpindahnya aktivitas masyarakat di area digital.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya