Rabu 21 April 2021, 17:35 WIB

Ratusan Ribu Warga Myanmar Mengungsi Akibat Tekanan Militer

Nur Aivanni | Internasional
Ratusan Ribu Warga Myanmar Mengungsi Akibat Tekanan Militer

Antara
Potret sejumlah warga Myanmar yang melarikan diri ke Thailand.

 

UTUSAN hak asasi manusia (HAM) PBB menyatakan bahwa tindakan keras junta militer Myanmar terhadap pengunjuk rasa anti-kudeta, mengakibatkan hampir seperempat juta orang mengungsi.

Diketahui, militer telah meningkatkan kekuatan yang mematikan untuk menghentikan aksi protes. Sejak pemimpin sipil Aung San Suu Kyi digulirkan pada 1 Februari lalu, warga Myanmar ramai-ramai turun ke jalan untuk berunjuk rasa.

Baca juga: ASEAN akan Gelar KTT Bahas Myanmar

Setidaknya 738 orang dilaporkan tewas dan 3.300 mendekam di penjara sebagai tahanan politik. "Ngeri mengetahui bahwa serangan junta telah menyebabkan hampir seperempat juta orang Myanmar mengungsi," bunyi cuitan Tom Andrews, pelapor khusus PBB tentang situasi di Myanmar.

"Dunia harus segera bertindak untuk mengatasi bencana kemanusiaan ini," tambahnya.

Free Burma Rangers, sebuah kelompok bantuan Kristen, memperkirakan sedikitnya 24.000 orang mengungsi di negara bagian Karen. Mengingat, serangan darat militer dan serangan udara terus meningkat pada awal bulan ini.

Juru Bicara Karen National Union Padoh Mann Mann mengungkapkan lebih dari 2.000 warga Karen telah melintasi perbatasan Myanmar untuk menuju Thailand. Adapun ribuan orang lainnya mengungsi secara internal. "Mereka semua bersembunyi di hutan dekat desa mereka," pungkas Padoh.

Baca juga: Dukung Aksi Protes, Warga Myanmar Ramai-Ramai Jual Barang Bekas

Di tengah kekerasan yang meningkat, para pemimpin Asia Tenggara dan menteri luar negeri akan mengadakan pembicaraan tentang krisis Myanmar di Jakarta. Keterlibatan pemimpin kudeta Min Aung Hlaing dalam pertemuan itu telah membuat marah kalangan aktivis dan kelompok HAM.

"Min Aung Hlaing, yang menghadapi sanksi internasional atas perannya dalam kekejaman militer dan tindakan brutal terhadap demonstran, seharusnya tidak disambut dalam pertemuan antar pemerintah untuk mengatasi krisis di Myanmar," seru Brad Adams dari Human Rights Watch.(AFP/OL-11)

 

Baca Juga

euractiv.com

Polandia Temukan Tiga Kasus Pertama Varian Covid-19 Asal Brasil

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 06 Mei 2021, 22:02 WIB
Otoritas memperketat aturan karantina pada Mei bagi mereka yang tiba dari Brasil, India, dan Afrika Selatan setelah kasus varian COVID-19...
aljazeera.com

Saksi Gambarkan Ngerinya Kecelakaan Kereta Api Metro di Meksiko

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 06 Mei 2021, 21:38 WIB
Kereta api metro itu jatuh ke jalanan yang berada di bawah jalur kereta metro, dan menewaskan 25...
hilip FONG / AFP

Tiongkok Kecam Pernyataan G7 yang Dukung Taiwan

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Kamis 06 Mei 2021, 19:25 WIB
G7 menganggap Tiongkok bersalah atas pelanggaran hak asasi manusia dan menggunakan pengaruh ekonominya untuk menggertak orang...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Kualitas Kompetisi Harus Ditingkatkan

Regulasi yang dibuat operator dan regulator harus bisa meningkatkan standar liga dan klub

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya