Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
SEORANG pria berusia 21 tahun bernama Ahmad Al Aliwi Alissa menghadapi 10 dakwaan pembunuhan sehubungan dengan penembakan massal di sebuah toko grosir di Kota Boulder, Colorado, Amerika Serikat (AS), pada Senin (22/3).
Presiden AS Joe Biden kemudian mengirimkan ungkapan belasungkawa kepada para korban dan meminta Kongres untuk melakukan langkah lebih lanjut untuk mengatur senjata.
“Saya mendesak rekan-rekan saya di DPR dan Senat untuk bertindak. Kita bisa melarang senjata serbu dan magasin berkapasitas tinggi di negara ini,” katanya di Gedung Putih, Selasa (23/3).
Baca juga: 10 Orang Tewas dalam Penembakan Massal di Colorado, AS
Legislator AS telah berjanji untuk menangani tindakan kekerasan bersenjata. Wakil Presiden Kamala Harris menyebut peristiwa penembakan tersebut tragis.
“Benar-benar membingungkan, ada 10 orang yang menjalani hidup mereka sehari-hari, tidak mengganggu siapa pun. Seorang petugas polisi yang menjalankan tugasnya, dengan keberanian dan kepahlawanan yang besar," kata Harris di Gedung Putih sebelum pidato Biden.
Nama 10 korban disebutkan pada konferensi pers Boulder, Denny Strong, 20, Nevin Stanisic, 23, Rikki Olds, 25, Tralona Bartkowiak, 49, Suzanne Fountain, 59, Teri Leiker, 51, Eric Talley, 51, Kevin Mahoney, 61, Lynn Murray, 62, dan Jody Waters, 65.
Eric Talley adalah seorang veteran 11 tahun dari kepolisian Boulder. Dia merupakan ayah dari tujuh anak dan baru-baru ini mencari pekerjaan yang tidak terlalu berbahaya, menurut pernyataan ayahnya.
“Mereka adalah orang-orang yang memulai hari mereka dengan secangkir kopi dan membaca koran pagi. Mungkin menyiapkan anak-anak mereka dan mengenakan jas untuk pergi keluar. Mungkin mereka membuat rencana Liburan Musim Semi di menit-menit terakhir, tetapi tidak ada dari mereka yang menyangka bahwa ini akan menjadi hari terakhir mereka di bumi,” kata Kepala Polisi Boulder Maris Herold.
Tersangka yang diidentifikasi sebagai Ahmad Al Aliwi Alissa dari Arvada, Colorado, berada dalam kondisi stabil setelah mengalami luka di kaki dalam baku tembak dengan petugas polisi yang berusaha mengamankan tempat kejadian perkara, toko grosir King Soopers di Boulder, sekitar 45 km (28 mil) barat laut Denver, Senin (22/3) sore. Alissa diperkirakan keluar dari rumah sakit dan dipenjara pada Selasa.
Dia telah didakwa dengan 10 tuduhan pembunuhan di tingkat pertama.
Pihak berwenang belum mengungkapkan kemungkinan motif pertumpahan darah tersebut.
Serangan pada Senin (22/3) itu menarik ratusan petugas polisi ke tempat kejadian dan membuat pembeli dan karyawan yang ketakutan melarikan diri demi menyelamatkan nyawanya.
Pembantaian itu menambah daftar pembunuhan massal tragis di AS, termasuk yang terjadi di negara bagian Rocky Mountain, penembakan massal 2012 di sebuah bioskop di Aurora, dan serangan 1999 di Sekolah Menengah Columbine dekat Littleton.
“Hati saya hancur hari ini,” kata Gubernur Jared Polis.
“Tidak hanya kami kehilangan 10 nyawa, tapi ini benar-benar mengerikan dan teror bagi kita semua,” imbuhnya.
Para saksi di Colorado menjelaskan pemandangan kacau dan menakutkan di dalam toko.
Ryan Borowski, 37 pergi mencari makanan ringan. Dia telah memilih 12 kaleng soda dan sekantong keripik ketika mendengar suara tembakan, membuatnya bergegas menuju pintu belakang toko.
“Itu sangat menakutkan,” katanya.
“Serangan tembakan tercepat yang pernah saya alami,” imbuhnya.
Sarah Moonshadow, 42, berada di antrean kasir bersama putranya yang sudah dewasa, Nicholas, ketika serangan tembakan dimulai.
"Aku berkata, 'Nicholas, tunduk!' Dan Nicholas merunduk. Dan kami baru mulai mendengarkan dan di sana hanya ada tembakan berulang dan saya hanya berkata, 'Nicholas, lari,'” katanya.
Moonshadow mengatakan dia mencoba merawat korban yang tergeletak di trotoar di luar toko, tetapi putranya menariknya pergi, mengatakan kepadanya, 'Kita harus pergi.' Dia menangis terisak menceritakan peristiwa tragis itu.
"Saya tidak bisa membantu siapa pun,” tuturnya.
Pembantaian itu terjadi enam hari setelah seorang pria bersenjata melakukan pembunuhan besar-besaran di spa daerah Atlanta, menembak mati delapan orang, sebagian besar perempuan Asia.
Legislator AS telah berjanji untuk menangani kekerasan bersenjata.
“Senat akan berdiskusi dan membahas epidemi kekerasan senjata di negara ini,” kata Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schumer.
Demokrat sebelumnya mencoba mengesahkan kebijakan pemeriksaan latar belakang untuk pembelian senjata pada 2013, dengan dukungan dari empat Partai Republik, tetapi empat Demokrat melanggar barisan untuk memblokir RUU tersebut.
Schumer, yang memimpin mayoritas kecil Demokrat di Senat, bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat yang dikendalikan Demokrat dan kepresidenan, mengatakan dia berkomitmen membawa undang-undang pemeriksaan latar belakang universal ke lantai Senat dan optimis kali ini segalanya akan berbeda. (Aljazeera/OL-1)
Lucy Harrison, 23, tewas tertembak di dada saat mengunjungi ayahnya di Texas. Sidang koroner mengungkap adanya argumen panas terkait Donald Trump sebelum kejadian.
Presiden Trump umumkan deeskalasi di Minneapolis pasca penembakan fatal warga sipil oleh agen federal.
Terjadi penembakan di Arivaca, Arizona melibatkan agen Patroli Perbatasan AS. FBI dan Sheriff Pima selidiki penggunaan kekuatan setelah satu korban dinyatakan kritis.
Investigasi atas penembakan Alex Pretti di Minneapolis mengungkap perbedaan tajam antara klaim pemerintah dan rekaman video. Keluarga korban sebut narasi pemerintah sebagai "kebohongan".
NRA dan kelompok lobi senjata AS menuntut transparansi dalam kasus penembakan perawat Alex Pretti di Minneapolis. Ada perbedaan versi antara saksi dan pemerintah.
Kesaksian baru mengungkap detik-detik penembakan Alex Pretti di Minneapolis. Otoritas Minnesota gugat pemerintahan Trump atas dugaan penghilangan barang bukti.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved