Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) secara kontroversial menuding pemimpin dunia menyalahgunakan lockdown dalam mengendalikan pandemi covid-19.
Organisasi PBB itu berbalik arah dari sikap mereka terkait lockdown dengan meminta para pemimpin dunia berhenti mengunci negara dan perekonomian mereka.
Seorang pejabat WHO David Nabarro meminta para pemimpin dunia untuk berhenti menggunakan lockdown sebagai metode utama memerangi covid-19.
Baca juga: Trump tidak Berisiko Tularkan Korona
Dia juga menyebut satu-satunya hal yang diraih dari lockdown adalah kemiskinan, tanpa menyebut jumlah jiwa yang telah diselamatkan dari kebijakan itu.
"Lockdown memiliki konsekuensi yang tidak bisa Anda anggap remeh yaitu membuat orang miskin semakin miskin," ujar Nabarro.
"Kami, di WHO, tidak pernah menyarankan lockdown sebagai metode utama memerangi covid-19."
"Satu-satunya saat kami merasa lockdown diperlukan adalah agar Anda bisa mendapatkan waktu untuk mengorganisasi ulang, menyeimbangkan sumber daya Anda, dan melindungi para pekerja kesehatan. Selain itu, kami tidak menyarankan lockdown," imbuhnya.
Kritik utama Nabarro terhadap lockdown mencakup akibat global kebijakan itu dengan mengatakan perekonomian negara miskin semakin terpukul akibat kebijakan itu.
"Lihat saja apa yang terjadi dengan industri pariwisata di Karibia, misalnya. Atau di Pasifik ketika orang-orang tidak berlibur," ungkap Nabarro.
"Lihat apa yang terjadi pada petani kecil di seluruh dunia. Lihat apa yang terjadi pada tingkat kemiskinan. Tampaknya kita malahan menggandakan angka kemiskinan di dunia pada tahun depan. Kita juga tampaknya menggandakan angka malnutrisi pada anak," lanjutnya.
Karenanya, Nabarro menyarankan pendekatan baru untuk menghadapi covid-19.
"Kini, kami meminta kepada para pemimpin dunia, berhenti menggunakan lockdown sebagai metode utama Anda menghadapi covid-19. Kembangkan sistem yang lebih baik. Mari bekerja sama dan belajar dari satu sama lain," kata Nabarro.
Pernyataan Nabarro itu bersamaan dengan seruan dari sejumlah pakar kesehatan dunia yang bersama-sama meminta penghentian lockdown.
Mereka membuat petisi yang diberi judul Great Barrington Declaration yang menyebut lockdown telah menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki.
"Sebagai ahli penyakit menular dan ilmuwan kesehatan masyarakat, kami sangat khawatir dengan dampak kesehatan fisik dan mental dari kebijakan untuk mengatasi covid-19. Karenanya, kami mengusulkan sebuah pendekatan baru yang kami namai Perlindungan Terfokus," ungkap petisi itu.
"Kebijakan lockdown yang diberlakukan saat ini hanya menghasilkan efek merusak pada kesehatan masyarakat di jangka pendek dan jangka panjang," imbuh petisi tersebut.
Petisi itu telah mendapatkan 12 ribu tanda tangan sejauh ini. (news.com.au/OL-1)
Indonesia pimpin suara Global South dalam negosiasi WHO Pandemic Agreement 2026. Cek latar belakang Uni Eropa dinilai hambat kesetaraan akses kesehatan global.
Argentina resmi keluar dari WHO menyusul langkah AS. Presiden Javier Milei tegaskan penarikan ini demi kedaulatan penuh dan kritik atas manajemen pandemi Covid-19.
Situasi Lebanon kian mencekam! WHO laporkan 14 petugas medis tewas dalam serangan udara terbaru. Total korban jiwa kini tembus 826 orang di tengah eskalasi konflik Israel-Hezbollah.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan ancaman hujan asam dan hujan hitam di Iran akibat serangan pada fasilitas minyak. Warga diminta waspada.
Denmark resmi jadi negara Uni Eropa pertama yang mencapai status eliminasi transmisi HIV dan sifilis dari ibu ke anak.
Studi terbaru The Lancet Oncology mengungkap ketimpangan tragis, angka kematian kanker payudara turun di negara maju, namun melonjak hampir 100% di negara miskin.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved