Senin 12 Oktober 2020, 06:39 WIB

Berubah Arah, WHO Kini Kecam Lockdown

Basuki Eka Purnama | Internasional
Berubah Arah, WHO Kini Kecam Lockdown

AFP/Fabrice COFFRINI
Logo WHO terlihat di markas besar Organisasi Kesehatan Dunia itu di Jenewa, Swiss.

 

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) secara kontroversial menuding pemimpin dunia menyalahgunakan lockdown dalam mengendalikan pandemi covid-19.

Organisasi PBB itu berbalik arah dari sikap mereka terkait lockdown dengan meminta para pemimpin dunia berhenti mengunci negara dan perekonomian mereka.

Seorang pejabat WHO David Nabarro meminta para pemimpin dunia untuk berhenti menggunakan lockdown sebagai metode utama memerangi covid-19.

Baca juga: Trump tidak Berisiko Tularkan Korona

Dia juga menyebut satu-satunya hal yang diraih dari lockdown adalah kemiskinan, tanpa menyebut jumlah jiwa yang telah diselamatkan dari kebijakan itu.

"Lockdown memiliki konsekuensi yang tidak bisa Anda anggap remeh yaitu membuat orang miskin semakin miskin," ujar Nabarro.

"Kami, di WHO, tidak pernah menyarankan lockdown sebagai metode utama memerangi covid-19."

"Satu-satunya saat kami merasa lockdown diperlukan adalah agar Anda bisa mendapatkan waktu untuk mengorganisasi ulang, menyeimbangkan sumber daya Anda, dan melindungi para pekerja kesehatan. Selain itu, kami tidak menyarankan lockdown," imbuhnya.

Kritik utama Nabarro terhadap lockdown mencakup akibat global kebijakan itu dengan mengatakan perekonomian negara miskin semakin terpukul akibat kebijakan itu.

"Lihat saja apa yang terjadi dengan industri pariwisata di Karibia, misalnya. Atau di Pasifik ketika orang-orang tidak berlibur," ungkap Nabarro.

"Lihat apa yang terjadi pada petani kecil di seluruh dunia. Lihat apa yang terjadi pada tingkat kemiskinan. Tampaknya kita malahan menggandakan angka kemiskinan di dunia pada tahun depan. Kita juga tampaknya menggandakan angka malnutrisi pada anak," lanjutnya.

Karenanya, Nabarro menyarankan pendekatan baru untuk menghadapi covid-19.

"Kini, kami meminta kepada para pemimpin dunia, berhenti menggunakan lockdown sebagai metode utama Anda menghadapi covid-19. Kembangkan sistem yang lebih baik. Mari bekerja sama dan belajar dari satu sama lain," kata Nabarro.

Pernyataan Nabarro itu bersamaan dengan seruan dari sejumlah pakar kesehatan dunia yang bersama-sama meminta penghentian lockdown.

Mereka membuat petisi yang diberi judul Great Barrington Declaration yang menyebut lockdown telah menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki.

"Sebagai ahli penyakit menular dan ilmuwan kesehatan masyarakat, kami sangat khawatir dengan dampak kesehatan fisik dan mental dari kebijakan untuk mengatasi covid-19. Karenanya, kami mengusulkan sebuah pendekatan baru yang kami namai Perlindungan Terfokus," ungkap petisi itu.

"Kebijakan lockdown yang diberlakukan saat ini hanya menghasilkan efek merusak pada kesehatan masyarakat di jangka pendek dan jangka panjang," imbuh petisi tersebut.

Petisi itu telah mendapatkan 12 ribu tanda tangan sejauh ini. (news.com.au/OL-1)

 

Baca Juga

AFP/William West

Australia-Singapura Segera Buka Travel Bubble dengan Bebas Karantina

👤Insi Nantika Jelita 🕔Jumat 22 Oktober 2021, 22:27 WIB
Rencana kebijakan itu akan dimulai minggu depan. Pengaturan pertama akan difokuskan bagi pelajar dan pelancong bisnis yang sudah...
AFP/Saudi Royal Palace/Bandar Al-Jaloud.

Ini Syarat Saudi kepada AS untuk Normalisasi Hubungan dengan Israel

👤Mediaindonesia.co 🕔Jumat 22 Oktober 2021, 22:05 WIB
Pemimpin Saudi mengatakan kepada Sullivan bahwa membangun hubungan diplomatik penuh dengan Israel akan memakan waktu dan sejumlah langkah...
Antara

Menlu RI: Perkuat Kerja Sama Negara Pasifik Lewat Pasific Exposition

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Jumat 22 Oktober 2021, 20:40 WIB
Kegiatan yang mencakup pameran perdagangan, investasi dan pariwisata di kawasan Pasifik, diselenggarakan pada 27-30 Oktober 2021...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Sukses PON Papua 2021 Pemerataan Pembinaan di Seluruh Pelosok Negeri

Sukses prestasi ditandai dengan tercipta banyak rekor meski penyelenggaraan multiajang olahraga terakbar Tanah Air itu digelar di masa pandemi covid-19.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya