Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO), Senin (28/9), menyampaikan sekitar 120 juta alat tes diagnostik cepat untuk covid-19 akan tersedia untuk negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah masing-masing dengan harga maksimum US$5.
Ketersediaan yang lebih luas alat pengujian cepat, andal, dan murah akan membantu 133 negara untuk melacak infeksi dan menahan penyebaran, serta menutup kesenjangan dengan negara kaya.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan produsen Abbott dan SD Biosensor telah setuju dengan Bill & Melinda Gates Foundation untuk membuat 120 juta tes.
Baca juga: Cile Longgarkan Lockdown di Ibu Kota secara Bertahap
"Membuat 120 juta dari tes diagnostik covid-19 cepat yang baru, sangat portabel, dan mudah digunakan ini tersedia selama periode waktu tertentu, enam bulan," ungkapnya.
Dia menambahkan, pada konferensi pers di Jenewa, bahwa alat tes saat ini dihargai maksimal masing-masing US$5. Tetapi diharapkan bisa menjadi lebih murah.
"Ini akan memungkinkan perluasan pengujian, terutama di daerah yang sulit dijangkau yang tidak memiliki fasilitas laboratorium atau petugas kesehatan yang cukup terlatih untuk melakukan pengujian," kata Tedros.
"Ini merupakan tambahan penting untuk kapasitas pengujian dan terutama penting di area transmisi tinggi," lanjutnya
Catharina Boehme, kepala eksekutif dari Foundation for Innovative New Diagnostics (FIND), sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di Jenewa dalam proyek tersebut, mengatakan kesepakatan itu merupakan tonggak penting. Lantaran mendesak untuk meningkatkan pengujian di negara-negara miskin.
"Ini adalah garis pertahanan pertama kami, penting bagi negara-negara untuk melacak dan mengisolasi untuk menghentikan penyebaran virus dan untuk memastikan bahwa kami tidak terbang buta," kata Boehme.
"Kami sekarang memiliki dua tes berkualitas tinggi yang merupakan yang pertama dalam rangkaian yang sedang dikembangkan dan dinilai oleh WHO untuk daftar penggunaan darurat," imbuhnya.
Tes antigen yang tidak memerlukan laboratorium memberikan hasil yang dapat diandalkan hanya dalam 15 menit daripada berjam-jam atau berhari-hari. Hal itu, akan membantu memperluas pengujian.
"Tes ini mudah digunakan seperti tes kehamilan," imbuhnya.
Dana Global untuk Memerangi AIDS, Tuberkulosis dan Malaria, kelompok lain yang berbasis di Jenewa menyediakan dana awal sebesar US$50 juta untuk pengadaan dan pesanan pertama yang diharapkan akan dilakukan minggu ini.
Maria Van Kerkhove, kepala teknis WHO untuk Covid-19, mengatakan bahwa lebih banyak tes sedang dalam evaluasi. Alat tersebut akan sangat berguna di wilayah terpencil dan untuk menyelidiki klaster dengan cepat dan di daerah dengan transmisi komunitas yang luas.
"Ini akan sangat, sangat membantu masyarakat dan negara untuk mengetahui dimana virus dan siapa yang terinfeksi virus tersebut," tutupnya. (CNA/OL-1)
AMERIKA Serikat keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per Kamis 22 Januari 2026. Keputusan ini berdasarkan Keputusan Presiden bernomor 14155 yang dirilis pada 20 Januari 2025.
DIREKTUR Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengatakan untuk penanggulangan kusta perlu diangkat sebagai prioritas nasional.
WHO menyatakan 500 juta perempuan di dunia terkena anemia. Yuk kenali dan ketahui cara mencegahnya.
Indonesia disebut telah mengambil langkah besar melalui pendekatan primary healthcare.
Penerapan konsep UPF secara kaku dan tanpa konteks dikhawatirkan dapat menimbulkan kebingungan konseptual, menstigma produk pangan tradisional yang sejatinya bermanfaat.
Kesehatan mental pelajar semakin memprihatinkan. Data CDC dan WHO menunjukkan tingginya depresi, pikiran bunuh diri, dan kasus bullying pada remaja di sekolah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved