Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
GEDUNG Putih pada Selasa (1/9) menolak kekhawatiran yang diungkapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) setelah seorang pejabat kesehatan AS mengatakan vaksin virus korona mungkin disetujui tanpa menyelesaikan uji coba penuh atau tahap ke-3.
Surat kabar Washington Post melaporkan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump tidak akan bergabung dengan upaya global untuk mengembangkan, memproduksi, dan mendistribusikan vaksin virus korona karena keterlibatan WHO. Sementara, sekitar 172 negara lainnya terlibat dengan rencana vaksin Covid-19 WHO untuk memastikan akses yang adil ke vaksin.
Baca juga: Mantan Juru Siksa Khmer Merah Tutup Usia
"Amerika Serikat akan terus melibatkan mitra internasional kami untuk memastikan kami mengalahkan virus ini, tetapi kami tidak akan dibatasi oleh organisasi multilateral yang dipengaruhi oleh Organisasi Kesehatan Dunia dan Tiongkok yang korup," kata juru bicara Gedung Putih Judd Deere dalam sebuah pernyataan.
"Presiden ini tidak akan mengeluarkan biaya untuk memastikan bahwa setiap vaksin baru mempertahankan standar FDA kami sendiri untuk keamanan dan kemanjuran, diuji secara menyeluruh, dan menyelamatkan nyawa," katanya.
Upaya global untuk mengembangkan vaksin melawan virus, yang telah menewaskan lebih dari 851.000 orang, telah terlihat dalam peluncuran uji coba tahap akhir baru-baru ini. Tetapi, belum ada vaksin yang disetujui, kecuali satu yang diizinkan di Rusia sebelum uji coba skala besar.
Komisaris FDA Stephen Hahn mengatakan kepada Financial Times bahwa agensinya siap mempercepat uji coba vaksin. Pihaknya bisa mengeluarkan izin vaksin sebelum uji klinis tahap tiga atau tahap akhir selesai, selama para pejabat yakin bahwa manfaatnya lebih besar daripada risikonya.
Sebelumnya, pada Senin pejabat WHO memperingatkan AS terlait rencana melewati tahap akhir uji coba vaksinnya. Menurut WHO, terburu-buru membuat vaksin dapat menimbulkan risiko.
Baca juga: Australia Alami Resesi Pertama dalam Tiga Dekade
"Jika Anda bergerak terlalu cepat untuk memvaksinasi jutaan orang, Anda mungkin kehilangan efek samping tertentu," kata Mike Ryan, kepala program kedaruratan WHO.
Kepala ilmuwan WHO Soumya Swaminathan mengatakan pendekatan FDA bukanlah sesuatu yang mudah. Dia menyebut pendekatan yang disukai WHO adalah memiliki satu set data lengkap yang dapat digunakan untuk prakualifikasi vaksin. (CNA/OL-6)
Argentina resmi keluar dari WHO menyusul langkah AS. Presiden Javier Milei tegaskan penarikan ini demi kedaulatan penuh dan kritik atas manajemen pandemi Covid-19.
Situasi Lebanon kian mencekam! WHO laporkan 14 petugas medis tewas dalam serangan udara terbaru. Total korban jiwa kini tembus 826 orang di tengah eskalasi konflik Israel-Hezbollah.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan ancaman hujan asam dan hujan hitam di Iran akibat serangan pada fasilitas minyak. Warga diminta waspada.
Denmark resmi jadi negara Uni Eropa pertama yang mencapai status eliminasi transmisi HIV dan sifilis dari ibu ke anak.
Studi terbaru The Lancet Oncology mengungkap ketimpangan tragis, angka kematian kanker payudara turun di negara maju, namun melonjak hampir 100% di negara miskin.
WHO menyebut vaksin influenza generasi baru berpotensi mencegah hingga 18 miliar kasus flu dan menyelamatkan 6,2 juta nyawa hingga 2050 dengan perlindungan yang lebih luas dan tahan lama.
Riset terbaru menunjukkan vaksin Covid-19 berbasis mRNA seperti Pfizer dan Moderna dapat memicu sistem imun melawan sel kanker.
DUA tenaga kesehatan menerima vaksin Covid-19 di hari yang sama, pola respons antibodi setiap orang ternyata berbeda-beda menentukan berapa lama perlindungan vaksin bertahan
Pengurus IDI, Iqbal Mochtar menilai bahwa kekhawatiran masyarakat terhadap vaksin berbasis Messenger Ribonucleic Acid (mRNA) untuk covid-19 merupakan hal yang wajar.
Menteri Kesahatan AS Robert F. Kennedy Jr. membuat gebrakan besar dengan mencabut kontrak dan membatalkan pendanaan proyek vaksin berbasis teknologi mRNA, termasuk untuk covid-19.
Sejalan dengan penjelasan Kementerian Kesehatan yang menyebutkan vaksinasi booster covid-19 tetap direkomendasikan.
Pemakaian masker, khususnya di tengah kerumunan mungkin dapat dijadikan kebiasaan yang diajarkan kepada anak-anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved