Rabu 10 Juni 2020, 10:22 WIB

WHO Klarifikasi soal Penularan Covid-19 dari Orang Tanpa Gejala

Nur Aivanni | Internasional
WHO Klarifikasi soal Penularan Covid-19 dari Orang Tanpa Gejala

ANTARA/FABRICE COFFRINI
Logo di Markas WHO di Jenewa, Swiss

 

WHO mengklarifikasi pernyataannya bahwa penularan virus korona baru dari pembawa tanpa gejala adalah 'sangat jarang', menyebutnya 'kesalahpahaman'.

Pimpinan teknis pandemi dan ahli epidemiologi WHO, Maria Van Kerkhove, mengatakan bahwa berdasarkan studi yang dilakukan di beberapa negara, penularan virus oleh orang tanpa gejala tampaknya 'sangat jarang'.

"Kami memiliki sejumlah laporan dari negara-negara yang melakukan pelacakan kontak yang sangat rinci. Mereka mengikuti kasus tanpa gejala, mereka mengikuti kontak dan mereka tidak menemukan transmisi sekunder. Ini sangat jarang," katanya dalam konferensi pers secara virtual pada Senin (8/6).

Pernyataannya yang disampaikan secara luas di jaringan media sosial pun memicu reaksi dari bagian komunitas ilmiah.

"Bertentangan dengan apa yang diumumkan WHO, secara ilmiah tidak mungkin untuk menegaskan bahwa pembawa tanpa gejala dari SARS-CoV-2 tidak terlalu menular," kata Profesor Gilbert Deray dari rumah sakit Pitie-Salpetriere di Paris di akun Twitternya.

Seorang profesor epidemiologi klinis di London School of Hygiene dan Tropical Medicine, Liam Smeeth, pun sangat terkejut dengan pernyataan tersebut.

"Masih ada ketidakpastian ilmiah, tetapi infeksi tanpa gejala bisa sekitar 30% hingga 50% kasus. Studi ilmiah terbaik hingga saat ini menunjukkan bahwa hingga setengah dari kasus menjadi terinfeksi dari orang tanpa gejala atau pra-gejala," katanya.

Baca juga: WHO: Penyebaran Korona Melalui Orang Tanpa Gejala Sangat Jarang

Van Kerkhove kemudian memposting di Twitter ringkasan WHO tentang transmisi.

"Studi komprehensif tentang penularan dari orang tanpa gejala sulit dilakukan, tetapi bukti yang tersedia dari pelacakan kontak yang dilaporkan oleh negara anggota menunjukkan bahwa orang yang terinfeksi tanpa gejala jauh lebih kecil kemungkinannya untuk menularkan virus dibandingkan orang yang mengalami gejala," katanya.

Selama diskusi siaran ulang kemarin di akun Twitter WHO, Van Kerkhove mengatakan dia ingin mengklarifikasi kesalahpahaman.

"Saya merujuk pada sedikit studi, sekitar dua atau tiga dan menjawab sebuah pertanyaan".

"Saya tidak menyatakan kebijakan WHO," katanya.

"Saya menggunakan frasa 'sangat jarang' dan saya pikir itu adalah kesalahpahaman untuk menyatakan bahwa transmisi tanpa gejala secara global sangat jarang. Apa yang saya maksudkan adalah bagian dari studi," tambahnya. (Malay Mail/A-2)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Argentina Konfirmasi kasus Cacar Monyet Pertama di Amerika Latin

👤Mediaindonesia 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 21:33 WIB
Kemenkes menambahkan bahwa sang pasien sehat dan orang-orang yang sempat melakukan kontak erat dengan pasien tersebut berada di bawah...
DOK DPD RI

Bertemu Presiden CECF, Sultan: Indonesia Akan Jadi Tuan Rumah Konferensi Pemuda Lintas Agama Dunia

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 21:24 WIB
Sebagai negara yang plural dan toleran, Indonesia diminta untuk bersedia melangsungkan konferensi Pemuda Lintas Agama...
AFP/Satellite image ©2020 Maxar Technologies.

AS dan Belanda Waswas Supertanker Tua Bawa Sejuta Barel Minyak

👤Cahya Mulyana 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 20:16 WIB
Bulan lalu, PBB meluncurkan rencana menurunkan minyak dari supertanker ke kapal sementara selama empat...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya